Modernisasi Pendidikan: Menakjubkan sekaligus Menakutkan

oleh -46 x dibaca
Arisnawawi, S.Sos., M.Si.

Oleh:

Arisnawawi, S.Sos., M.Si.

Dosen Prodi Sosiologi, Universitas Negeri Makassar

Email: arisnawawi@unm.ac.id  

 

 

 

Kita hidup di zaman yang bergerak terlalu cepat untuk sempat direnungi. Dunia seperti sedang berlari sambil memikul mesin raksasa di pundaknya, berisik, panas, efisien, tetapi perlahan kehilangan arah ke mana sebenarnya ia hendak pergi. Teknologi melompat dari satu revolusi ke revolusi berikutnya sebelum manusia selesai memahami dampaknya. Hari ini kecerdasan buatan mengambil alih pekerjaan administratif, besok algoritma menentukan preferensi hidup manusia, dan lusa kita mungkin tidak lagi benar-benar tahu apakah keputusan yang diambil masih lahir dari kesadaran manusia atau sekadar hasil kalkulasi mesin.

 

Dalam situasi seperti itu, Anthony Giddens menyebut dunia modern sebagai runaway world, dunia yang meluncur liar tanpa rem sosial yang benar-benar kokoh. Kita menyaksikan sendiri bagaimana teknologi merombak hampir seluruh dimensi kehidupan sosial, termasuk pendidikan. Universitas yang dahulu dipandang sebagai ruang pembentukan manusia terdidik perlahan didorong menjadi mesin produksi tenaga kerja. Program studi diukur berdasarkan daya serap kerja, riset dihitung dari potensi komersialisasi, dan mahasiswa diarahkan menjadi “produk kompetitif” yang siap dilempar ke pasar kerja.

 

Tidak ada yang sepenuhnya keliru dari upaya menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan zaman. Dunia memang berubah dan pendidikan tidak mungkin hidup dalam romantisme masa lalu. Persoalannya muncul ketika logika ekonomi menjadi satu-satunya ukuran dalam menentukan nilai ilmu pengetahuan. Kampus mulai sibuk berbicara tentang efisiensi, produktivitas, dan relevansi pasar, sementara pertanyaan paling mendasar tentang pendidikan, pelan-pelan menghilang dari percakapan publik. Di titik itulah modernisasi pendidikan mulai tampak menakjubkan sekaligus menakutkan.

BACA JUGA:  Dari Riba ke Bagi Hasil: Transformasi Keuangan Modern Menuju Sistem yang Lebih Adil dan Berkah

 

Max Weber jauh hari telah memperingatkan tentang bahaya “iron cage” atau sangkar besi rasionalitas, situasi ketika manusia terjebak dalam sistem yang hanya mengutamakan efisiensi, kalkulasi, dan keuntungan pragmatis. Hari ini, sangkar itu terasa sangat menusuk. Kampus sibuk mengejar ranking global, target luaran, akreditasi internasional, publikasi bereputasi, hingga sertifikasi kompetensi. Pendidikan berubah menjadi arena perlombaan tanpa garis akhir. Semua harus cepat, terukur, dan menghasilkan nilai ekonomi.

 

Di tengah arus itu, program studi yang dianggap tidak “menguntungkan” mulai dipertanyakan eksistensinya. Sepertinya, ilmu-ilmu sosial dan humaniora sering dipandang bagaikan artefak lama di gudang modernitas. Ia berdebu, tidak praktis, dan tidak menghasilkan uang cepat. Ada kesan bahwa ilmu yang tidak langsung terhubung dengan industri dianggap tidak lagi memiliki masa depan. Padahal, justru di tengah dunia yang semakin modern, persoalan kemanusiaan tumbuh jauh lebih rumit dibanding sebelumnya.

 

Ketimpangan ekonomi melebar di banyak tempat. Polarisasi politik mengeras hingga ruang publik dipenuhi kemarahan yang mudah meledak. Media sosial berubah menjadi arena pertarungan identitas yang melelahkan. Pada saat yang sama, kesehatan mental generasi muda memburuk secara global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat peningkatan signifikan gangguan kecemasan dan depresi dalam satu dekade terakhir, terutama di kalangan usia muda. Dunia modern berhasil menciptakan teknologi yang luar biasa canggih, tetapi gagal menjamin ketenangan batin manusia yang hidup di dalamnya

 

Pendidikan yang hanya berorientasi pasar pada akhirnya akan melahirkan generasi yang cerdas secara teknis tetapi rapuh secara moral. Mereka mampu menciptakan teknologi mutakhir, tetapi gagap memahami penderitaan sosial. Mereka terampil mengoperasikan sistem, tetapi kehilangan sensitivitas terhadap manusia yang tergilas oleh sistem itu sendiri. Inilah paradoks modernitas kita, semakin maju teknologi, semakin besar kemungkinan manusia merasa asing terhadap dirinya sendiri.

BACA JUGA:  WELCOME & SELAMAT BERKARYA, BERINOVASI DAN BERPRESTASI, BUAT MAHASISWA BARU TAHUN AKADEMIK 2023

 

Emile Durkheim menyebut kondisi semacam ini sebagai anomie, yaitu situasi ketika nilai-nilai sosial lama runtuh sementara nilai baru belum benar-benar mapan. Dalam masyarakat yang mengalami anomie, manusia kehilangan jangkar moral. Segala sesuatu bergerak cepat, tetapi tidak ada pegangan yang cukup kuat untuk menjelaskan mengapa semua itu dilakukan.

 

Fenomena tersebut terasa sangat jelas dalam dunia pendidikan hari ini. Civitas akademika diburu target kompetensi, publikasi, sertifikasi, dan produktivitas tanpa pernah diberi cukup ruang untuk bertanya “Untuk apa semua ini?”. Kampus sibuk mengejar reputasi internasional, tetapi sering lupa membangun kesadaran sosial mahasiswanya. Kita menghasilkan lulusan yang fasih berbicara tentang inovasi, tetapi canggung berbicara tentang empati.

 

Yang lebih mengkhawatirkan, modernisasi pendidikan kerap dibungkus dengan narasi besar tentang kemajuan, seolah siapa pun yang mengkritiknya dianggap anti-perubahan. Padahal kritik terhadap modernisasi bukanlah penolakan terhadap teknologi atau perkembangan zaman. Kritik justru diperlukan agar teknologi tetap berada di bawah kendali nilai kemanusiaan. Sebab sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa peradaban tidak runtuh karena kekurangan kecanggihan teknologi, melainkan karena kehilangan kepekaan sosial.

 

Sebab pendidikan sejatinya bukan sekadar proses mencetak pekerja efisien. Pendidikan adalah ruang pembentukan kesadaran. Kampus seharusnya melatih membaca realitas sosial secara kritis, memahami ketimpangan, mengenali manipulasi informasi, merawat empati, dan berani mempertanyakan arah peradaban. Universitas bukan hanya tempat belajar untuk mencari pekerjaan, melainkan harus didorong menjadi tempat belajar memahami makna hidup bersama.

BACA JUGA:  Pendidikan Kita Maju, Tapi Belum Merata

 

Di tengah kepungan algoritma, budaya kompetisi, dan tekanan pasar yang semakin agresif, kita membutuhkan “jangkar sosial” agar manusia tidak tercerabut dari kemanusiaannya sendiri. Pendidikan tidak boleh hanya melahirkan individu yang kompetitif, tetapi juga manusia yang memiliki keberanian moral dan kepedulian sosial. Sebab masyarakat yang sehat tidak hanya dibangun oleh orang-orang pintar, melainkan oleh manusia yang mampu menggunakan kepintarannya untuk menjaga kehidupan bersama.

 

Modernisasi memang tidak mungkin dihentikan. Dunia akan terus berubah, teknologi akan terus berkembang, dan pasar akan terus menekan pendidikan agar semakin efisien. Namun universitas tidak boleh sepenuhnya tunduk pada arus itu. Kampus harus tetap menjadi benteng terakhir akal sehat, ruang tempat manusia belajar bahwa hidup bukan sekadar soal produktivitas dan keuntungan ekonomi.

 

Jika pendidikan hanya diukur dari angka gaji pertama lulusannya, maka sesungguhnya kita sedang menyaksikan bunuh diri intelektual secara kolektif. Kita mungkin akan memiliki banyak pekerja hebat, tetapi kehilangan manusia-manusia yang mampu berpikir jernih tentang masa depan bumi. Dan ketika itu terjadi, modernisasi tidak lagi menjadi tanda kemajuan. Ia berubah menjadi mesin besar yang melaju cepat, megah, dan mengagumkan, tetapi perlahan membawa manusia menuju keterasingannya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.