Ketika Diplomasi MBG Perintah dari Langit 

oleh -68 x dibaca
Andi Asdar

Oleh: Andi Asdar / Kamad MIN 4 Bone

Setiap tahun di bulan Zulhijjah penanggalan arab, jutaan ton daging yang segar dan terbaik berpindah tangan dalam waktu yang relative sangat singkat. Tanpa kenal birokrasi yang rumit, bahkan tanpa melalui proses tender yang bisa jadi penuh intrik dan melelahkan. Bayangkan sebuah sistem distribusi protein raksasa yang bekerja secara presisi di seluruh penjuru negeri. Inilah keistimewaan dari ibadah kurban, perintah Sang Penguasa Alam Raya.

Jauh dari sekedar ritual penyembelihan, tersirat pesan yang lebih membumi,

kurban adalah instrumen Sang Pencipta pada mahluk-Nya, untuk menjawab tantangan ketersediaan gizi dan ketimpangan konsumsi protein yang masih membayangi sebagian besar penduduk negeri ini.

Kurban tidak boleh hanya dipandang sebagai ibadah penebusan dosa pribadi

atau kepatuhan simbolis dalam agama islam. Secara substansial, perintah berkurban adalah manifestasi dari subsidi gizi massal yang didorong oleh sebesar apa tingkat iman dan takwa penganutnya.

Dalam konteks hari ini, kurban adalah solusi spiritual atas isu nyata seperti

stunting dan kerentanan pangan. Ada demokratisai protein pada penyelenggaraan itu sendiri. Tak perlu menutup mata, bagi sebagian masyarakat kita, daging adalah kemewahan yang hanya muncul di meja makan setahun sekali. Kurban hadir meruntuhkan kasta kuliner tersebut. Melalui distribusi yang merata, umat Islam sebenarnya sedang menjalankan Gerakan Makan Bergisi Gratis yang paling rapi, paling massif dan paling terorganisir di dunia. Kurban mengajarkan kita sebagai mahluk untuk merefleksikan ketahanan

BACA JUGA:  RADIOAKTIF CIKANDE, LUKA BERULANG DARI NEGERI YANG TAK BELAJAR

pangan berbasis komunitas. Sangat berbeda dengan bantuan sosial pemerintah yang seringkali terhambat masalah administratif, masalah birokrasi, dan masalah anggaran. Di sini kurban benar-benar berbasis pada kearifan lokal. Masjid dan lembaga zakat menjadi lumbung gizi yang langsung menyentuh mereka yang membutuhkan di lingkungannya masing-masing. Di sisi lain, efek multiplier ekonomi juga punya dampak yang luar biasa. Perintah

berkurban juga menggerakkan roda ekonomi peternak di pedesaan. Gizi bagi si miskin di kota, adalah kesejahteraan bagi peternak di desa. Ini adalah siklus ekonomi sekaligus ketahanan pangan yang terasa sangat berdampak presisi untuk masyarakat bawah.

Mungkin ada saja muncul kritik bahwa kurban menyebabkan konsumsi

berlebihan di satu waktu namun kosong di waktu lain. Tapi di sinilah pentingnya sebuah system transformasi distribusi. Harusnya inovasi seperti pengalengan daging kurban berbentuk rendang,kornet, atau abon kaleng menjadi sangat relevan. Dengan cara ini,menu gizi gratis tersebut tidak harus habis dalam sehari, melainkan bisa dinikmati sepanjang tahun, menjadi cadangan gizi saat terjadi bencana atau paceklik. Data terbaru menunjukkan dinamika yang menarik mengenai konsumsi protein di

BACA JUGA:  Menakar Ulang Pilkada Dalam Tafsir Konstitusi dan Demokrasi Substansi (Bagian Kedua)

Indonesia. Berdasarkan data BPS dan Badan Pangan Nasional di 2025, rata-rata konsumsi protein masyarakat Indonesia berada di angka 62–63 gram per kapita per hari. Di atas kertas, ini sudah melampaui standar kecukupan protein minimal yang ditetapkan Kementerian Kesehatan yaitu 57 gram. Tapi masalahnya adalah pada prakteknya terlalu jauh kesenjangan gisi itu di masyarakat kita.

Meski rata-rata nasional terlihat aman, terjadi penurunan konsumsi pada

kelompok masyarakat berpengeluaran rendah. Di beberapa wilayah, konsumsi protein hewani masih jauh di bawah standar karena masalah aksesibilitas dan harga yang tak terjangkau. Data tahun 2026 menunjukkan konsumsi protein daging per kapita Indonesia hanya sekitar 20,2 kg, masih sangat jauh tertinggal dibandingkan rata-rata Asia Tenggara (ASEAN) yang mencapai 57,1 kg. Masyarakat kita, pola makan mereka masih didominasi oleh karbohidrat (beras).

BACA JUGA:  UNM sebagai Pusat Kajian Penurunan Angka Kemiskinan di ASEAN di Era Orde Baru

Protein hewani seperti daging sapi dan kambing dianggap adalah makanan mewah bagi sebagian besar rumah tangga. Konsumsi daging sapi per kapita hanya sekitar 2,57 kg per tahun. Daging kambing angkanya bahkan lebih rendah, yakni sekitar 0,4 kg per tahun, di mana permintaannya sangat bergantung pada momen musiman seperti perayaan Idul Adha. Meskipun Indonesia mulai mencapai swasembada di sektor unggas dan telur saat ini, ketergantungan pada satu jenis sumber protein hewani saja belum cukup untuk mengejar ketertinggalan gizi secara nasional.

Ibadah kurban adalah pengingat bahwa ketaatan ibadah umat islam tidak ada

artinya jika tetangga di sebelah rumah masih menderita malnutrisi. Bila saja kurban dikelola dengan visi yang lebih luas, kurban bisa menjadi instrumen utama dalam membangun fondasi fisik bangsa yang lebih kuat. Pada akhirnya, kurban mengajarkan kita satu hal bahwa di dalam harta kita, ada hak gizi yang harus sampai ke piring-piring mereka yang membutuhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.