Makna Perjalanan Hidup dari Tanah La Sinrang ke Tanah Suci

oleh -76 x dibaca
Prof. Dr. Hj. Andi Aslinda, M.Si - Prof. Dr. Haedar Akib

Oleh:

Prof. Dr. Hj. Andi Aslinda, M.Si., Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Negeri Makassar (UNM)

Prof. Dr. Hi. Haedar Akib, Anggota Senat Akademik UNM, Dosen Program Pascasarjana Universitas Cahaya Prima (UNCAPI) Bone.

Perjalanan hidup setiap manusia tidak hanya ditandai oleh jarak geografis tetapi juga perpindahan makna. Dari kampung halaman menuju tempat suci, dari tanah budaya menuju tanah ibadah, dari identitas lokal menuju kesadaran universal. Dalam konteks itu, perjalanan penulis (Andi Aslinda) dari Tanah Lasinrang, atau La Sinrang (Bakka Lolona Sawitto, Bahri Majid dkk 2005) di Kabupaten Pinrang menuju Tanah Suci Makkah dipahami sebagai perjalanan batin seorang pemimpin yang berangkat dari nilai (makna) keberanian, kehormatan, keteguhan, lalu diperkuat dengan nilai tauhid, kerendahan hati, dan tanggung jawab spiritual. Pinrang disebut Tanah La Sinrang karena nama tersebut menjadi simbol historis dan kultural masyarakat Pinrang. La Sinrang dikenal sebagai tokoh pejuang dari Kerajaan Sawitto yang digambarkan memiliki keberanian, kewibawaan, dan kepemimpinan menghadapi kolonialisme. Sumber sejarah populer menyebut La Sinrang sebagai putra Addatuang Sawitto yang sejak muda dikenal berwibawa dan jujur, kemudian tampil sebagai pemimpin perang Sawitto. Nama La Sinrang hidup sebagai nama tokoh sekaligus identitas kolektif masyarakat Pinrang, identitas keberanian, martabat, dan ketangguhan atau daya tahan menghadapi tantangan. Sementara itu, Makkah adalah Tanah Suci yang merupakan orientasi spiritual yang sangat kuat bagi umat Islam sedunia. Al-Qur’an Surah Ali Imran (3) ayat 96, menyebut Makkah atau ”Bakkah” sebagai tempat rumah ibadah pertama yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Tanah La Sinrang mengajarkan kepada manusia tentang kehormatan, perjuangan, keteguhan di bumi kelahiran, sementara Tanah Suci mengajarkan kepada manusia tentang arah (orientasi) dan tujuan hidup, kepasrahan, dan kesadaran tentang semua amalan kepemimpinan yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan (Allah).

***

Makna perjalanan dari Tanah La Sinrang ke Tanah Suci membentuk karakter pemimpin yang – dalam istilah kebijakan – memiliki nilai dasar (basic value) dan orientasi nilai (value orientation) dalam kehidupannya. Nilai dasar selaku pemimpin terlihat melalui pemahaman tentang asal-usul, sejarah, budaya, dan nilai budaya masyarakatnya. Sedangkan orientasi nilai selaku pemimpin adalah berupa pengetahuan ke mana seluruh kuasa, ilmu, jabatan, wewenang atau ”batas pengaruh”, dan tanggung jawab diarahkan. Dengan kata lain, perjalanan hidup manusia (pemimpin) beranjak dari identitas lokal menuju kesadaran universal.

Tanah Lasinrang (La Sinrang) mengajarkan agar pemimpin tidak tercerabut dari nilai lokal berupa keberanian dan moralitas dalam berbicara dan bertindak, memiliki siri’ dalam arti menjaga kehormatan diri, lembaga, dan masyarakat, serta keteguhan dan konsistensi dalam membela kebenaran, keadilan, dan kepentingan bersama. Setiap pemimpin dari tanah La Sinrang diingatkan bahwa keberanian tanpa orientasi spiritual dapat berubah menjadi ambisi, keteguhan tanpa kerendahan hati dapat berubah menjadi kekakuan (kesombongan), dan kehormatan tanpa akuntabilitas dapat berubah menjadi pencitraan. Oleh karena itu, perjalanan menuju Tanah Suci penting karena di Makkah manusia diberi pemahaman bahwa sehebat apa pun dirinya tetap hamba, setinggi apa pun jabatannya tetap thawaf dalam barisan manusia lain, dan sejauh apa pun pencapaiannya tetap menghadap kiblat yang sama. Nilai dasar dari Tanah La Sinrang dan orientasi nilai ke Tanah Suci menyatu karena Tanah La Sinrang memberi bekal karakter, sedangkan Tanah Suci memberi kompas spiritual. Tanah La Sinrang membentuk keberanian pemimpin, Tanah Suci melembutkan keberanian itu dengan adab, kasih sayang, dan tanggung jawab moral kepada sesama manusia, alam sekitar, dan Tuhan.

BACA JUGA:  REFLEKSI DIRI DI AKHIR TAHUN DALAM PERSPEKTIF SAINS DAN AGAMA

Makna perjalanan dari Tanah La Sinrang ke Tanah Suci penting karena setiap organisasi, termasuk universitas membutuhkan pemimpin yang berakar, bernilai, dan akuntabel sebagai refleksi tata kelola universitas yang baik (Good University Governance/ GUG). Universitas bukan sekadar gedung, birokrasi, atau tempat memperoleh ijazah asli, melainkan pula rumah ilmu pengetahuan, pusat budaya, ruang pembentukan calon pemimpin, dan kekuatan moral untuk mencari kebenaran. Materi sajian Direktorat Kelembagaan Ditjen Dikti tentang GUG menegaskan bahwa, perguruan tinggi merupakan lembaga ilmiah, pusat budaya, pilar bangsa, penggerak perubahan sosial, wadah pendidikan calon pemimpin bangsa, dan pusat kebajikan moral untuk mencari dan menemukan kebenaran. GUG tidak hanya dipahami sebagai urusan administrasi dan kemahasiswaan melainkan pula urusan etika, estetika, kinestetika, dan etos kerja pemimpin berkaitan dengan putusan yang dibuat, sumber daya yang digunakan, sivitas akademika yang dilayani, mutu dijaga, dan tata cara universitas mempertanggungjawabkan amanahnya kepada publik.

Literatur dan dokumen pendidikan tinggi di Indonesia menjelaskan prinsip GUG yang meliputi antara lain transparansi pengelolaan, akuntabilitas pemangku kepentingan, tanggung jawab, independensi dalam pengambilan keputusan, keadilan, penjaminan mutu dan relevansi, efektivitas dan efisiensi, serta prinsip nirlaba. Hasil kajian tentang pengalaman universitas di Indonesia juga menegaskan prinsip tersebut sebagai pedoman untuk mencapai visi dan tujuan universitas secara profesional. Prinsip tersebut membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas secara manajerial, tetapi juga matang secara moral dan emosional berbasis nilai dasar Tanah La Sinrang dan orientasi nilai Tanah Suci. Nilai dasar La Sinrang mengingatkan pemimpin agar berani dan cermat (”Agile”) maenjaga marwah institusi. Sedangan orientasi nilai Tanah Suci Makkah mengingatkan pemimpin agar tidak menjadikan lembaga (institusi) sebagai alat untuk memenuhi kepentingan pribadi atau kelompok.

BACA JUGA:  BANK SYARIAH (6): MENCIPTAKAN PELUANG BARU BAGI INOVASI PEMBIAYAAN

Pemimpin universitas yang berjiwa La Sinrang tidak mudah menyerah jika menghadapi tantangan mutu, akreditasi, integritas akademik, keterbatasan anggaran atau perubahan regulasi karena berani mengambil keputusan yang benar meskipun tidak populer. Sedangkan pemimpin yang berorientasi Tanah Suci Makkah juga tidak menjadikan keberaniannya sebagai arogansi karena sadar setiap kebijakannya membawa maslahat, bukan sekadar menunjukkan kuasa.

***

Penerapan nilai dasar La Sinrang dan orientasi nilai ke Tanah Suci dalam konteks GUG terlihat pada prinsip transparansi dimana pemimpin yang memahami nilai dasar kehormatan diri dan institusi tidak menyembunyikan informasi publik. Praktek transparansi terlihat melalui keterbukaan dalam perencanaan, anggaran, seleksi dan rekrutmen, pengembangan keprofesian berkelanjutan, layanan akademik, dan evaluasi kinerja. Transparansi berbentuk kejujuran ini sejalan dengan ajaran nilai spiritual Makkah bahwa sesuatu yang benar dibuka sebagai bentuk akuntabilitas publik.

La Sinrang sebagai simbol keberanian mengajarkan agar pemimpin siap menanggung konsekuensi dari pilihannya bertindak atau tidak bertindak terhadap sesuatu. Dalam GUG, prinsip akuntabilitas berarti setiap keputusan memiliki dasar, program memiliki indikator, dan penggunaan sumber daya dipertanggungjawabkan kepada publik. Dokumen GUG Ditjen Dikti menekankan pentingnya misi yang jelas, sistem penjaminan mutu, indikator kinerja, audit, serta laporan tahunan akademik dan keuangan. Pemimpin yang memahami makna perjalanan (wisata) spiritual ke Tanah Suci tidak memandang laporan sebagai formalitas tetapi sebagai amanah dan tanggung jawab.

Universitas memiliki tanggung jawab kepada mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, alumni, masyarakat, pemerintah, dan masa depan bangsa. Nilai dasar dari La Sinrang menuntun pemimpin bertanggung jawab ketika lembaga menghadapi masalah. Orientasi nilai ke tanah suci Makkah menuntut pemimpin untuk menjalankan tanggung jawabnya dengan niat ibadah. Tanggung jawab bukan beban administratif semata, melainkan pula jalan pengabdian secara personal, profesional, dan spiritual.

Pemimpin universitas mampu mengambil keputusan berdasarkan kepentingan akademik, bukan karena tekanan politik, kelompok, atau kepentingan pragmatis. Independensinya tidak menjadikan institusinya sebagai kepanjangan tangan birokrasi atau kepentingan politik tertentu, melainkan untuk kepentingan publik. Nilai dasar dari Tanah La Sinrang mengajarkan tentang keberanian pemimpin dalam bersikap, sedangkan orientasi nilai ke Tanah Suci mengajarkan keberanian pemimpin untuk tunduk pada kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Sementara itu, GUG memberi ruang yang adil bagi individu, baik dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan, maupun bagi institusi atau unit layanan akademik, kemahasiswaan, dan hubungan alumni. Prinsip keadilan mengarahkan promosi berbasis kompetensi, penghargaan berbasis kinerja, dan layanan berbasis hak dan kewajiban. Nilai dasar siri’ dari tanah La Sinrang mengajarkan kehormatan manusia, sedangkan orientasi nilai ke Tanah Suci mengajarkan kesetaraan manusia di hadapan Tuhan (Allah Subhanahu wa ta’ala).

BACA JUGA:  DEKLARASI NEW YORK KHIANATI SYUHADA PALESTIN

Penerapan nilai dasar dan orientasi nilai kepemimpinan dalam konteks GUG menjadikan universitas tidak puas hanya karena memiliki gedung megah (seperti Pinisi UNM) dan struktur organisasi yang rapi, melainkan pula menjamin pembelajaran bermutu di Kampus dengan prinsip Produktif, Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, “Humanis”, Bermakna Kasih Sayang (PAIKEMHUBKAN). Demikian pula riset dan pengabdian (Program Kemitraan Masyarakat/ PKM) berkembang dan berdampak, serta kompetensi lulusannya relevan dengan kebutuhan publik (wujud Program Link and Match). Penjaminan mutu bukan sekadar dokumen akreditasi, tetapi juga budaya memperbaiki diri sebagai perwujudan nilai dasar La Sinrang sebagai semangat juang dan orientasi nilai Makkah sebagai kompas perbaikan diri (individu, institusi) secara efisien, efektif, dan berkelanjutan.

***

Perjalanan manusia dari Tanah La Sinrang ke Tanah Suci merupakan napaktilas untuk membentuk jatidiri selaku pemimpin (minimal bagi diri) yang kapabel, dengan karakter berani karena memiliki akar sejarah, rendah hati karena memiliki orientasi spiritual, tegas karena menjaga kehormatan, jujur dan adil karena sadar semua manusia setara di hadapan Tuhan, transparan karena menghargai kepercayaan, dan akuntabel karena memahami jabatan sebagai amanah (Andi Aslinda & Haedar Akib, Jabatan sebagai Amanah, Dimensi Spiritual Etika Perilaku Birokrasi, https://tribunboneonline.com/2026/05/27/jabatan-sebagai-amanah-dimensi-spiritual-etika-perilaku-birokrasi/). Oleh karena itu, kapabilitas pemimpin institusi pendidikan masa kini tidak cukup hanya pandai menyusun rencana strategis, membaca regulasi, atau “berselancar” mengelola anggaran dan sebagainya, melainkan pula mampu membaca nilai dasar dan orientasi nilai yang berkembang. Dari Pinrang kita belajar tentang kehormatan yang dijaga melalui keberanian dan integritas, lalu ke dan dari Makkah belajar tentang seluruh kehormatan yang tunduk kepada Allah penguasa alam semesta. GUG bukan hanya sistem tata kelola, melainkan pula jalan moral untuk membangun jatidiri sivitas akademika yang jujur, adil, bermutu, dan membawa keberkahan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban serta kehidupan bangsa dan bernegara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.