”Lima Cappa” Perekat Kebersamaan Masyarakat Serumpun: Oleh-oleh Khas dari Negeri Jiran (4/5)

oleh -487 x dibaca
Irjen Pol. Dr. M. Awal Chairuddin - Prof. Dr. Haedar Akib

Oleh:

Inspektur Jenderal Polisi Dr. M. Awal Chairuddin, Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI), Penulis buku “Pejera Bhabinkamtibmas”

Prof. Dr. Haedar Akib, Anggota Senat Universitas Negeri Makassar, Dosen Program Pascasarjana Universitas Puangrimaggalatung (UNIPRIMA) Sengkang

Kunjungan ke negeri jiran (tetangga) sering kali tidak hanya membawa pulang makanan, pakaian, atau cendera mata, melainkan pula ”lima cappa sebagai perekat kebersamaan” berupa kesadaran warga Indonesia dan Malaysia sebagai masyarakat serumpun yang memiliki akar sejarah, budaya, bahasa, nilai sosial, dan semangat hidup yang saling menguatkan. Di tengah perbedaan batas negara, sistem pemerintahan, dinamika ekonomi-politik, dan identitas nasional masing-masing terdapat satu benang merah yang kuat berupa kebersamaan sebagai sesama bangsa yang tumbuh dari rahim peradaban Melayu-Nusantara, atau Malay Archipelago (Prof. Andi Ima Kesuma, Simposium Antarbangsa di Kuala Lumpur Malaysia, 3 Juni 2026). Perekat kebersamaan masyarakat serumpun ini lebih dekat karena Malaysia bukan hanya negeri jiran dalam arti geografis, melainkan pula ruang cermin sosial-budaya dimana perantauan dari Indonesia, khususnya dari tanah Bugis-Makassar dapat melihat kembali nilai-nilai intrinsiknya dalam menjaga martabat, membangun komunikasi, merawat hubungan keluarga dan sosial, menghargai ilmu pengetahuan dan seni, serta beradaptasi dengan teknologi zaman now.

***

Perekat kebersamaan masyarakat serumpun sebagai modal sosial ini terbentuk dari nilai, cipta, rasa, karsa, dan kesadaran kolektif masyarakat Indonesia dan Malaysia yang memiliki kedekatan historis dan kultural. Bahasa yang mirip (Melayu), tradisi kekeluargaan yang kuat, penghormatan kepada orang tua, semangat merantau, nilai religius, dan adat sopan santun merupakan bagian dari modal sosial yang mempertemukan kedua bangsa. Dalam kehidupan sehari-hari, kedekatan ini mudah ditemukan dimana orang Indonesia, orang Bugis-Makassar yang datang ke Malaysia tidak sepenuhnya merasa asing. Demikian pula sebaliknya, orang Malaysia yang datang ke Indonesia mudah menemukan suasana akrab karena kesamaan dalam cara menyapa, cara menghargai tamu, cara memuliakan keluarga, bahkan cara memaknai kerja keras sebagai indikasi hubungan serumpun, bukan sekadar slogan diplomatik, melainkan pula kenyataan sosial yang hidup dalam interaksi masyarakat.

Bagi kita kebersamaan serumpun ini memiliki resonansi yang kuat dengan falsafah hidup lokal orang Bugis-Makassar yang dikenal memiliki nilai siri’ na pacce, harga diri, kehormatan, solidaritas, dan empati sosial. Nilai ini tidak hanya mengajarkan keberanian mempertahankan martabat tetapi juga mengajarkan tanggung jawab moral dalam menjaga hubungan baik dengan sesama. Siri’ na pacce merupakan nilai intrinsik dalam membangun persaudaraan yang bermartabat, bukan hubungan yang mudah tersulut oleh prasangka, saling sindir, atau konflik budaya.

BACA JUGA:  Menguatkan Pengendalian Risiko Likuiditas Bank Syariah

Kebersamaan masyarakat serumpun direkatkan melalui kesadaran baru tentang zaman yang berubah cepat dimana hubungan antarbangsa dibangun melalui pertemuan fisik dan media sosial, migrasi tenaga kerja, pendidikan, pariwisata, perdagangan, dan ruang digital. Di satu sisi, perubahan ini membuka peluang kerjasama yang luas, namun di sisi lain, dapat memicu kesalahpahaman ketika masyarakat lebih mudah terpancing oleh isu sensitif, klaim budaya, atau perbedaan kebijakan antarnegara. Masyarakat serumpun membuka cara pandang secara lebih dewasa karena keduanya mempertahankan nilai etika, estetika dan kinestetika yang saling memanusiakan dan saling menghormati atau menghagai (sipakatau dan sipakalebbi) sebagai bagian dari filosofi hidupnya.

Kenyataannya, filosofi hidup masyarakat Bugis-Makassar zaman now tersebut semakin relevan melalui pemaknaan (simbol) lima “cappa” atau lima “ujung” – ujung badik, ujung lidah, ujung laki-laki, ujung pena, dan ujung jari. Re-aktualisasinya terlihat melalui kemampuan beradaptasi terhadap situasi kekinian. Jika dahulu dimaknai sebagai keberanian, kehormatan, keturunan, pengetahuan, dan keterampilan, hari ini ditafsirkan secara lebih modern, damai, inklusif, dan produktif.

Ujung badik tidak lagi dimaknai sebagai kekerasan karena pada zaman now, ujung badik merupakan simbol keberanian, atau moralitas aktor dalam menjaga nama baik, harga diri, dan martabat tanpa merendahkan orang lain. Dalam hubungan Indonesia-Malaysia, ujung badik mengajarkan sikap tegas masyarakat serumpun terhadap nilai kebenaran dan keadilan, serta menghindari permusuhan karena martabat bangsa tetap dijaga dengan prestasi, etika, dan sikap saling menghormati.

Ujung lidah dipahami sebagai kemampuan berkomunikasi dimana di era digital banyak konflik bermula dari lidah yang tidak terjaga, baik dalam bentuk ucapan langsung maupun komentar di media sosial. Ujung lidah kemudian menjadi perekat kebersamaan orang Bugis-Makassar dalam memahami pentingnya tutur kata yang menjaga kehormatan. Dalam hubungan serumpun, lidah merupakan alat diplomasi sosial bukan alat provokasi dimana perbedaan pendapat antara warga masyarakat Indonesia dan Malaysia disampaikan secara adab bukan dengan hinaan.

Ujung laki-laki dimaknai secara kontekstual sebagai simbol tanggung jawab, keberanian mengambil peran, dan kemampuan menjaga keberlanjutan hidup. Makna ini tidak dipahami secara sempit sebagai dominasi laki-laki, melainkan sebagai simbol produktivitas sosial dan tanggung jawab generasi. Dalam konteks masyarakat serumpun, setiap generasi memiliki tugas menjaga warisan hubungan baik. Anak muda Indonesia dan Malaysia merupakan generasi yang membangun ”jembatan” dan memperluas kerjasama, dan menghilangkan kecurigaan.

BACA JUGA:  Mudarabah: Akad Mulia yang Paling Rawan Risiko

Ujung pena merupakan simbol ilmu, literasi, kebijakan, dan peradaban dimana hubungan Indonesia-Malaysia dibangun dengan emosi serumpun dan diperkuat dengan pengetahuan. Pena melambangkan kebersamaan yang ditulis, diteliti, diajarkan, dan diwariskan. Kampus, sekolah, peneliti, penulis, budayawan, dan media berperan penting dalam menyebarkan narasi positif tentang masyarakat serumpun. Melalui ujung pena, sejarah hubungan kedua bangsa ini dipahami secara seimbang, bukan hanya dari sudut negatif (konflik), tetapi juga dari sudut positif melalui kerja sama, migrasi, perdagangan, pendidikan, dan persaudaraan budaya.

Sedangkan ujung jari sebagai simbol zaman now atau era digital direaktualisasikan dalam narasi yang diketik, dan dibagikan atau disebarkan melalui ujung jari, serta ditunjukkan dalam perilaku. Satu unggahan mempererat persaudaraan, tetapi satu komentar kasar dapat melukai hubungan sosial, apalagi ditunjukkan dalam konflik bersenjata atau ”perang” dengan menekan tombol atau menggerakkan kursor di layar kaca menggunakan ujung jari. Ujung jari kemudian menjadi cappa paling aktual saat ini karena mengingatkan kita untuk mengembangkan ”etika digital” sebagai bagian dari etika budaya masyarakat serumpun. Masyarakat Bugis-Makassar dan perantauan (diaspora Indonesia) di Malaysia sangat cakap menggunakan ujung jarinya dalam menyebarkan kebaikan, memperkenalkan beragam budaya, membangun jejaring, dan memperkuat solidaritas.

***

Cara merawat perekat kebersamaan berdasarkan filosofi Lima Cappa dilakukan dengan membangun keberanian moral melalui simbol ”ujung badik” yang dimodernisasi. Keberanian orang Bugis-Makassar hari ini bukan melalui konflik melainkan keberanian berdialog. Ketika muncul isu sensitif antara Indonesia dan Malaysia, warga menahan diri, mengecek informasi, dan tidak terseret arus kebencian. Badik sebagai simbol kehormatan berubah menjadi energi dalam menjaga persaudaraan dan kersamaan.

Kebersamaan serumpun dirawat melalui ujung lidah yang santun. Bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Malaysia memiliki kedekatan sehingga menjadi jembatan komunikasi, bukan bahan saling mengejek. Perbedaan istilah, logat, dan gaya bicara justru memperkaya khazanah serumpun. Masyarakat Bugis-Makassar yang memiliki tradisi tutur, petuah, dan nasihat adalah contoh bahwa kata-kata memiliki kekuatan membangun peradaban dan persaudaraan atau ”tali silaturrahim”. Kemudian, melalui ”ujung laki-laki” sebagai simbol tanggung jawab generasi, masyarakat menanamkan kesadaran tentang hubungan serumpun yang diwariskan kepada anak muda. Pemuda Indonesia dan Malaysia membangun kolaborasi melalui pendidikan, pertukaran budaya, kewirausahaan, ekonomi kreatif, pariwisata, dan kegiatan sosial, sementara semangat merantau masyarakat Bugis-Makassar menjadi inspirasi bahwa tujuan merantau bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga memperluas persaudaraan dan menjaga nama baik daerah asal.

BACA JUGA:  Guru Hebat, Indonesia Kuat: Memaknai HGN dan HUT ke-80 PGRI Tahun 2025

Kebersamaan serumpun melalui ujung pena diperkuat dengan literasi sejarah dan budaya. Banyak kesalahpahaman muncul karena masyarakat tidak memahami sejarah mobilitas orang-orang Nusantara. Orang Bugis, Makassar, Melayu, Minang, Jawa, Banjar, dan berbagai etnis lain telah lama bergerak melintasi wilayah yang kini menjadi Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan kawasan Asia Tenggara lainnya. Dengan pena, hubungan ini dapat dijelaskan secara lebih proporsional. Narasi serumpun ditulis bukan untuk menghapus identitas nasional, melainkan untuk memperkaya pemahaman bahwa bangsa-bangsa modern di Asia Tenggara memiliki akar perjumpaan yang panjang.

Selanjutnya, melalui ujung jari, masyarakat membangun etika digital serumpun. Media sosial menjadi ruang saling mengenal, bukan ruang saling menyerang. Konten budaya Bugis-Makassar diperkenalkan kepada masyarakat Malaysia dengan cara kreatif. Sebaliknya, budaya Malaysia juga diapresiasi sebagai bagian dari kekayaan kawasan. Ujung jari digunakan untuk memperluas wawasan, mempromosikan wisata, memperkuat ekonomi kreatif, membangun jejaring akademik, dan mempererat hubungan antarwarga.

Oleh-oleh khas dari Negeri Jiran Malaysia bukan hanya barang yang dibawa pulang, melainkan pelajaran tentang pentingnya merawat kedekatan. Malaysia mengingatkan kita tentang Indonesia yang tidak hidup sendirian dalam ruang budaya Asia Tenggara, melainkan ada bangsa tetangganya yang memiliki kedekatan rasa, bahasa, sejarah, dan nilai budaya. Bagi masyarakat Bugis-Makassar, pelajaran ini sangat penting karena falsafah hidup lokal telah menyediakan modal untuk menjadi warga dunia yang bermartabat. Lima cappa mengajarkan tentang manusia yang pemberani, pandai berbicara, bertanggung jawab, berilmu, dan cakap menggunakan teknologi. Pemanfaatannya secara bijak tidak hanya mampu menjaga identitas lokal, tetapi juga menjadi perekat kebersamaan masyarakat serumpun. Ujung badik menjaga martabat, ujung lidah merawat komunikasi, ujung laki-laki melanjutkan tanggung jawab generasi, ujung pena membangun peradaban ilmu, dan ujung jari menghubungkan dunia.

***

Perekat kebersamaan masyarakat serumpun ini merupakan refleksi mengenai hubungan Indonesia dengan Malaysia yang dibangun berdasarkan adab (etika, estetika, kinestetikan), ilmu, tanggung jawab, dan kecakapan. Negeri Jiran menyediakan oleh-oleh berupa kesadaran tentang kedekatan budaya sebagai anugerah yang terawat. Sementara itu, lima cappa sebagai filosofi hidup orang Bugis-Makassar jaman now memberi bekal tentang kebersamaan yang kuat karena dijaga dengan keberanian moral, kata-kata yang baik, tanggung jawab sosial, literasi, dan etika digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.