Rahasia Memadu Bu’Etik dan Bu’Emik, Kenangan Indah dari Pertemuan HISPISI

oleh -316 x dibaca
Prof. Haedar Akib - Associate Prof. Dr. Firdaus Suhaeb.

Oleh :

 Prof. Haedar Akib, Ketua Jurusan Ilmu Administrasi (JIA) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H), Anggota Senat Akademik Universitas Negeri Makassar (UNM)

 Associate Prof. Dr. Firdaus Suhaeb, Ketua Jurusan Sosiologi Antropologi dan Angota Senat Akademik FISH UNM

Ada dua nama wanita yang dikenang penulis setelah menghadiri pertemuan Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial (HISPISI) VI di Hotel Niagara Parapat Provinsi Sumatera Utara, ”bu’Etik” bersama ”bu’ Emik”. Keduanya merupakan metafora pendekatan tentang cara – “etic” dan “emic” – melihat manusia atau realitas yang telah lama dikenal dalam ilmu sosial, terutama antropologi dan penelitian kualitatif (Kenneth L. Pike, 1967, dalam artikelnya “Etic and emic standpoints for the description of behavior”). Pike memperkenalkan istilah emic dan etic melalui analogi dengan phonemic dan phonetic dalam linguistik. Bu’Etik mengajak kita (orang) melihat realitas dari luar dengan menggunakan kategori, konsep, teori, ukuran, dan kerangka analitis. Sementara itu, bu’Emik mengajak orang masuk ke dalam dunia subjek untuk memahami pengalaman, bahasa, nilai, persepsi, dan makna yang diungkapkan atas realitas yang dialami. Kedua pendekatan tersebut memiliki sejarah akademik yang kuat dalam konteks ilmu sosial dimana emic dipahami sebagai perspektif orang dalam (insider), sedangkan etic sebagai perspektif orang luar (outsider).

Marvin Harris (1976) dalam artikelnya berjudul “History and significance of the emic/ etic distinction” pada Annual review of anthropology memperluas sekaligus memperdebatkan signifikansi metodologis kedua metafora tersebut dalam antropologi. Menariknya, konsep yang lahir dari dunia penelitian ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari sama dekatnya dengan tetangga kita bernama bu’Etik dan bu’Emik, karena bukan hanya orang, termasuk pembaca!, mengamati kehidupan masyarakat sekitarnya, melainkan pula menjalani dan mempersepsikan orang lain dan diri sendiri berdasarkan tempat, situasi, pengalaman, dan posisi dimana berada.

***

Perspektif etik adalah cara peneliti atau pengamat memahami fenomena (melihat realitas) atau orang lain sesuai sudut pandangnya pada lokus tertentu. Peneliti menggunakan konsep dan kategori analitis untuk melihat pola, membandingkan antar-fenomena, menguji penjelasan, dan membangun pemahaman yang lebih luas. Sementara itu, perspektif emik berusaha memahami fenomena berdasarkan perspektif orang yang mengalami dan hidup bersama (dalam) fenomena tersebut. Oleh karena itu, pertanyaannya bukan hanya “apa yang terjadi?”, melainkan pula “apa arti kejadian itu bagi orang lain?”

BACA JUGA:  “Learning To Do”, Mengokohkan (2/4) Pilar Pendidikan Dunia

Dalam studi sosial, perbedaan dua perspektif atau pendekatan tersebut sangat mendasar. Misalnya, pada kasus pelayanan publik di kantor pemerintah, oleh peneliti dengan perspektif etik melihat waktu pelayanan, prosedur, jumlah antrean, standar pelayanan, tingkat kepatuhan, dan indikator kinerjanya. Sebaliknya, peneliti dengan perspektif emik, justru bertanya kepada masyarakat (penerima layanan), apakah mereka merasa dilayani? Apakah petugas menghargai mereka? Apakah prosedur yang secara administratif dianggap sederhana itu terasa rumit bagi warga? Apakah masyarakat memiliki pengalaman tertentu yang tidak dapat diangkakan?

Satu fenomena atau fokus pengamatan menghasilkan dua jenis pengetahuan baru. B’Etik membantu menjelaskan apa yang tampak dari luar, sedangkan b’Emik membantu memahami apa yang bermakna dari dalam. Namun, seirng perkembangan metodologi penelitian keduanya tidak selalu merupakan dua kamar yang terpisah secara kaku, sehingga peneliti dapat ”memadu” bu’Etik dan bu’Emik dengan beranjak di antara posisi sebagai insider atau outsider sekaligus sesuai konteks penelitiannya.

Berdasarkan rahasia memadu bu’Etik dan bu’Emik tersebut, masalah terbesar dalam memahami realitas atau orang lain selama ini bukan semata-mata karena pengamat (orang) tidak melihat atau buta matanya tetapi karena kadang melihat dengan menggunakan ”kacamata kuda” dan yang ”buta penglihatannya.” Pimpinan kadang melihat bawahan dengan kacamata organisasi, sementara bawahan melihat pimpinan dengan kacamata pengalaman kerja. Tenaga pendidik (Dosen) melihat mahasiswa berdasarkan perspektif akademik, sementara mahasiswa melihat dosennya berdasarkan pengalaman belajar. Demikian pula aparat pemerintah melihat masyarakat melalui data dan indikator pembangunan, sementara masyarakat melihat aparat pemerintah melalui pengalaman nyata ketika berhadapan dengan pelayanan. Objeknya sama, tetapi persepsinya berbeda. Oleh karena itu, ketika seseorang berkata, “Saya tahu bagaimana keadaan mereka,” maka kita pun patut bertanya kepadanya, “anda mengetahuinya dari posisi mana?”

Pertanyaan tersebut penting dalam penelitian karena bagi peneliti atau pengamat dari luar lokus dengan perspektif etik memiliki jarak yang membuatnya lebih mudah melihat pola, tetapi berpotensi gagal memahami simbol, bahasa, adat istiadat, kebiasaan, atau pengalaman lokal. Sebaliknya, peneliti yang berasal dari komunitas yang diteliti mempunyai kedekatan emik sehingga mudah memahami konteks secara mendalam, meskipun kedekatannya membuat sulit mengambil jarak.

BACA JUGA:  Olahraga Adu Gengsi/FOMO atau Olahraga Gaya Hidup Sehat

Dalam metode kualitatif, persoalan tersebut berkaitan dengan istilah ”positionality dan reflexivity”, berupa kesadaran bahwa latar belakang, posisi, pengalaman, relasi, dan hubungan peneliti dengan lokus penelitian memengaruhi proses menghasilkan pengetahuan baru karena mereka sebagai pengamat sekaligus yang diamati. Tetapi sebagai kenangan dari forum HISPISI maka lokus pembelajaran ini dianggap dapat berubah. Hari ini kita berada di kampus, besok di kantor lain, lusa dalam keluarga, dan pada kesempatan lain berada di masyarakat dimana pada setiap lokus tersebut kita memiliki posisi yang berbeda.

Menariknya, posisi memengaruhi cara orang mengamati dan mempersepsikan dirinya dan orang lain. Seseorang dapat merasa dirinya amat tegas ketika menjadi pemimpin namun dari perspektif bawahan ketegasannya justru dipersepsikan sebagai kekakuan. Demikian pula, seseorang merasa dirinya sederhana tetapi orang lain mungkin melihatnya sebagai rendah hati. Demikian pula sebaliknya, seseorang merasa percaya diri tetapi orang lain mempersepsikannya arogan. Pertanyaannya kemudian, siapa yang benar? Jawabannya bisa keduanya benar, karena sedang melihat dari lokus pengamatan dan pengalaman yang berbeda. Inilah paradoks manusia (orang) karena mempunyai kemampuan mengamati dirinya sendiri meskipun tidak sepenuhnya melihat dirinya seperti orang lain melihatnya. Analoginya, ”cermin hanya memperlihatkan wajah kita” sementara orang lain memperlihatkan sisi kepribadian kita yang tidak selamanya disadari. Dengan kata lain, kehidupan merupakan proses refleksi diri dan orang lain yang tidak pernah selesai.

Bu’Etik mengajarkan ”jarak”, karena untuk melihat suatu persoalan, orang memerlukan jarak analitis agar tidak larut dalam masalah yang membuatnya tidak mampu melihat substansi persoalan. Ketika berada dalam konflict of interest, misalnya, orang cenderung merasa dirinya paling benar. Perspektif etik kemudian mengajak mengambil jarak dan bertanya, seperti apa faktanya, apa polanya, apa penyebabnya, dan apa konsekuensinya, serta bagaimana persoalan tersebut terlihat ketika diamati oleh orang-orang yang tidak terlibat secara langsung? Pelajaran dan rahasia memadu bu’Etik dan bu’Emik ini penting bagi kita, apalagi (calon) pemimpin.

Pemimpin yang hanya melihat organisasi dari perspektif dirinya dapat terjebak dalam self-confirmation, merasa persepsinya sebagai kenyataan padahal organisasi terdiri atas banyak aktor dengan kompetensi dan pengalaman yang beragam. Oleh karena itu, mengambil jarak bukan berarti tidak peduli karena jarak diperlukan supaya kepedulian tidak berubah menjadi keberpihakan yang membutakan. Bu’Etik kemudian menyarankan, “melihatlah dengan kepala dingin” dan tunjukkan “kedekatan.” Sementara itu, bu’Emik mengingatkan, jangan terlalu jauh. Masuklah ke dalam pengalaman orang, dengarkan ceritanya, pahami bahasanya, kenali hobi dan talentanya, tanyakan apa yang dianggap penting karena sesuatu yang terlihat tidak rasional dari luar belum tentu tidak rasional bagi orang yang menjalani. Michael Agar (2011) dalam artikelnya, Making sense of one other for another pada Language & Communication, 31(1) menjelaskan, perspektif insider mampu mengungkap jaringan makna sosial yang tidak terlihat oleh pengamat luar, seperti tindakan ekonomi yang tampak dari luar seakan sekadar mengejar keuntungan, justru memiliki makna karena adanya hubungan kekerabatan, balas jasa, sejarah relasi, atau kewajiban sosial bagi orang-orang yang tergabung di dalamnya. Dengan demikian, tepat pengajaran bu’Emik tentang perlunya “empati metodologis” sebagai usaha memahami dunia, sebagaimana dipahami oleh kita (orang) yang hidup di dalamnya.

BACA JUGA:  MASA DEPAN POLITIK BONE: ANDI TENRI WALINONONG (ATW) MENARI DI ANTARA STRUKTUR EKONOMI DAN SUPRASTRUKTUR BUDAYA PERSPEKTIF FILSAFAT SEJARAH MARX

Kesalahan metodologis terjadi ketika kita menganggap bu’Etik dan bu’Emik harus dipilih salah satunya, padahal penelitian yang kuat justru mensinergikan keduanya. Bu’Emik membantu menemukan makna di balik fakta, sementara bu’Etik mengembangkan analisis yang lebih luas. Bu’Emik bertanya bagaimana orang (mereka) memahami kenyataan, sementara bu’Etik bertanya bagaimana kenyataan dijelaskan secara analitis? B’Emik memberi kedalaman, sementara bu’Etik memberi jarak. Bu’Emik memberi konteks, sementara bu’Etik membantu melihat polanya. Oleh karena itu, sejumlah literatur metodologi ilmu pengetahuan mengajarkan emik dan etik sebagai perspektif yang saling melengkapi bukan dua posisi yang saling meniadakan.

***

Refleksi dari kenangan bersama bu’Etik dan bu’Emik sebagai pendekatan dalam melihat realitas atau orang lain dan diri sendiri ini tidak hanya mengungkap rahasia memadu perspektif penelitian tetapi juga merekonstruksi kesadaran kita akan pengetahuan tentang realitas atau orang lain dan diri sendiri yang terbatas. Oleh karena itu, supaya rahasia memadu bu’Etik bersama bu’Emik langgeng sebagai kenangan indah dari pertemuan HISPISI, kita ”tidak” dianjurkan melihat kehidupan ini atau orang lain dan diri sendiri dari ruang hampa, apalagi menggunakan kacamata kuda, melainkan melihat dari tempat dimana kita berada, lalu menilai berdasarkan pengalaman indah, dan mempersepsikan sesuai posisi kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.