Menggugat Algoritma Sebagai Biang Fragmentasi dan Polarisasi Bangsa

oleh -125 x dibaca
Andi Asdar

Oleh: Andi Asdar / Kamad MIN 4 Bone

Akhir-akhir ini, lanskap ruang publik di negeri ini telah bergeser secara masif.

Diskusi hangat yang dulunya terjadi di tempat nongkrong atau ruang pertemuan warga, kini lebih dominan berpindah ke layar ponsel. Masyarakat kini banyak difasilitasi oleh media sosial yang terkoneksi secara global tanpa batas. Namun, alihalih menyatukan, realitas yang kita hadapi justru sebaliknya. Masyarakat kita yang kian terfragmentasi, terpolarisasi, dan rentan terhadap disintegrasi. Mengapa teknologi yang dirancang untuk menghubungkan justru berakhir memecah belah bangsa ini. Jawabannya ada di balik layar smartphone kita, yakni algoritma.

Secara teknis, algoritma media sosial dirancang dengan satu tujuan utama

yang tampak begitu lugu, yaitu memaksimalkan user engagement dengan berbagai fitur. Agar kita betah berlama-lama menatap layar, sistem dengan cermat mempelajari preferensi, kebutuhan, dan pencitraan penggunanya. Akan tetapi masalahnya adalah, sifat dasar psikologi manusia cenderung lebih cepat merespons konten yang memicu emosi yang kuat utamanya tentang amarah, ancaman, dan kebencian.

Dengan demikan berimplikasi pada algoritma yang mulai bekerja layaknya

makelar emosi. Konten-konten yang provokatif, ekstrem, dan sarat polarisasi sengaja diberi panggung utama karena terbukti menghasilkan banyak view, komentar, dan share yang tinggi.

BACA JUGA:  HMI Restoratif: Menerapkan Prinsip-Prinsip Rekonsiliasi Untuk Memperkuat Kader dan Organisasi

Hal ini akan berdampak paling nyata dari mekanisasi ini adalah lahirnya

buzzer dan echo chamber. Anak bangsa kita dikerdilkan dalam gelembung informasi yang hanya menyajikan opini-opini yang searah dengan pandangan mereka. Bisa dibayangkan ketika kita hanya mendengar gaung dari suara kita sendiri atau komunitas yang sepemikiran, ego komunitas kian tercengkram lebih dalam.

Lambat laun, muncullah ilusi merasa paling benar. Kita kehilangan

kemampuan untuk memahami nuansa dan berempati pada argumen yang berbeda. Pihak yang berseberangan tidak lagi dilihat sebagai sesama warga negara yang memiliki perspektif berbeda, melainkan seperti musuh yang harus dilumpuhkan. Polarisasi politik, konflik horizontal, hingga sentimen suku dan agama sering kali membesar bukan karena masalah aslinya tidak bisa diselesaikan, melainkan karena algoritma terus-menerus menyiram bensin ke dalam api konflik demi perputaran lalulintas data.

Ketika kenyamanan bersosial media menuntut kita untuk hanya melihat apa

yang ingin kita lihat, kita sedang menukar integrasi sosial dengan kepuasan yang begitu instan di dunia maya.Fenomena ini bukan sekadar teori, melainkan kenyataayang kita rasakan sehari-hari. Kita bisa melihatnya dalam dinamika perbincangan publik kita hari ini. Polarisasi tentang kebijakan publik sedang dipertontonkan dengan fulgar.

BACA JUGA:  “Learning To Be(come)”, Mengokohkan (3/4) Pilar Pendidikan Dunia

Ketika ada sebuah rancangan regulasi atau kebijakan baru yang dilemparkan ke publik, linimasa kita jarang menyajikan diskusi esensial yang solutif dan sehat. Algoritma justru menaikkan potongan video (potongan reels atau shorts) berdurasi 30 detik yang berisi makian, sarkasme, atau pemelintiran fakta dari kedua kubu yang sangat ekstrem. Akibatnya, masyarakat langsung terbelah menjadi dua kutub, pendukung buta atau pengkritik radikal, tanpa ada ruang untuk memahami substansi kebijakan secara menyeluruh.

Selain itu, media sosial akhir-akhir ini ramai dengan konten sentimen lokal

dan isu sosial. Di masyarakat kita, konflik horizontal antar-kelompok warga sering kali tereskalasi bukan karena masalah di lapangan, melainkan karena algoritma terus menyodorkan narasi yang saling memojokkan. Sekali saja seorang pengguna mengeklik video ketegangan sosial, algoritma akan terus menyuplai konten serupa, mempertebal kecurigaan, hingga memicu gesekan fisik di dunia nyata.

Makin maraknya komersialisasi konflik oleh influencer. Kita juga melihat

menjamurnya kreator konten yang sengaja memproduksi konflik buatan atau memperuncing perbedaan demi mendulang cuan. Mereka tahu betul bahwa algoritma akan mengganjar kemarahan publik dengan jumlah views yang melimpah, yang pada akhirnya dikonversi menjadi pundi-pundi rupiah.

BACA JUGA:  HULUISASI DAN HILIRISASI KEUANGAN PUBLIK ISLAM (3)

Kita tidak bisa membiarkan disintegrasi ini menjadi normal baru. Harus ada

langkah konkret untuk merebut kembali kendali atas ruang waras kita. Pertama, di tingkat sistemik, perlu ada regulasi yang memaksa perusahaan teknologi untuk lebih transparan mengenai cara kerja algoritma mereka. Akuntabilitas tidak boleh dikorbankan demi profit iklan semata.

Kedua, di tingkat individu, kita butuh digitalisasi yang higenis. Kita harus

sadar kapan emosi kita sedang dimanipulasi oleh linimasa. Melatih diri untuk tidak langsung membagikan konten yang memicu amarah dan secara aktif mencari sudut pandang alternatif yang kredibel adalah langkah awal untuk memecahkan para buzzer tersebut.

Teknologi harus dikembalikan pada fungsi asalnya, sebagai alat bantu, bukan

penentu arah moral dan sosial peradaban. Jika kita terus membiarkan algoritma mendikte apa yang harus kita benci dan siapa yang harus kita musuhi, maka fondasi persatuan kita sebagai sebuah bangsa sedang dipertaruhkan. Menjaga jemari tetap bijak di atas layar hari ini, adalah cara kita merawat keutuhan di dunia nyata esok hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.