“Learning To Be(come)”, Mengokohkan (3/4) Pilar Pendidikan Dunia

oleh -520 x dibaca
Prof. Dr. Haedar Akib - Associate Prof. Dr. Patahuddin

Oleh:

  Prof. Dr. Haedar Akib, Universitas Negeri Makassar (UNM), Tim Leader Manajemen Program BERMUTU (Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading) Indonesia Timur.

 Associate Prof. Dr. Patahuddin, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) UNM, Alumni Program Doktor Bidang Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) merupakan kesempatan menengok kembali arah pendidikan kita yang tidak hanya menjadikan manusia mengetahui sesuatu melalui pilar Learning to Know (L2K) dan mampu melakukan sesuatu melalui pilar Learning to Do (L2D), melainkan pula mengarahkan ke masa depan untuk membentuk manusia yang terus bertumbuh, menemukan jati diri, mematangkan karakter, dan menjadi pribadi yang bermakna bagi dirinya, sesama, bangsa, dan dunia. Learning to Be yang disingkat L2B lahir untuk mengajak kita merekonstruksi pengetahuan dan pembelajaran yang membentuk masa depan kemanusiaan dan planet bumi beserta isinya. Learning to Become sebagai perluasan makna dari L2B melihat pendidikan bukan hanya untuk menjadikan manusia “ada”, melainkan untuk “menjadi” seperti yang diharapkan bersama.

***

Learning to Become yang juga disingkat L2B berarti “belajar untuk menjadi”, namun bukan sekadar menjadi sarjana, pegawai, profesional, pejabat, guru, dosen, polisi, tentara, jaksa, pengusaha dan sebagainya, atau tenaga kerja yang ditunjukkan dengan ijazahnya. Semua itu penting, tetapi belum cukup karena belajar untuk menjadi berarti belajar membentuk diri sebagai manusia yang utuh, berpengetahuan, terampil, berkarakter, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, beradab, bertanggung jawab, dan mampu memberi manfaat bagi diri dan orang lain.

Pendidikan sering kali terlalu cepat mengarahkan manusia pada profesi, apalagi profesi yang istilah pasarnya “didatangi uang”, tetapi terlalu lambat membimbing manusia mengenali diri dan kompetensi yang dimiliki. Anak-anak ditanya ingin menjadi apa, tetapi jarang dibantu memahami siapa dirinya, apa nilai hidupnya, apa potensinya, apa tanggung jawab moralnya, dan bagaimana sekiranya ingin memberi makna bagi kehidupan dan lingkungan. Akibatnya, pendidikan kadang berhasil melahirkan manusia cerdas secara akademik, tetapi rapuh secara kepribadian. L2B mengingatkan manusia bukan sebagai produk instan atau metik, melainkan proses ”memanusiakan manusia” yang tidak selesai pada satu ijazah, satu gelar, satu jabatan, atau satu capaian prestasi. Manusia (anak didik) terus berubah, belajar, jatuh, bangkit, memilih, menyesal, memperbaiki diri, dan bertumbuh. Pendidikan yang baik memberi ruang bagi pembentukan jatidi manusia (orang) dan tidak memaksakan semua anak didik menjadi sama karena setiap manusia membawa bakat, pengalaman, lingkungan, dan panggilan hidup yang berbeda. Dengan demikian, (institusi) pendidikan bukan pabrik yang mencetak manusia seragam, melainkan taman yang menumbuhkan keberagaman potensi. Ada anak yang kuat dalam bahasa, ada yang tajam dalam angka, ada yang peka terhadap seni, ada yang unggul dalam keterampilan teknis, ada yang memiliki empati sosial, ada yang berbakat memimpin, dan ada yang kuat dalam kerja-kerja pelayanan sebagai proses menemukan jalan terbaik untuk menjadi dirinya.

BACA JUGA:  ZAKAT PERTANIAN: POTENSI BESAR, KONTRIBUSI NYATA UNTUK KESEJAHTERAAN PETANI

***

L2B penting dikokohkan atau direkonstruksi karena situasi dewasa ini membutuhkan manusia berkarakter dimana tantangan zaman tidak cukup dijawab oleh kepintaran. Dunia hari ini tidak kekurangan orang pandai, tetapi seringkali kekurangan orang bijak, jujur, dan adil, sehingga menjadi bukti penguatan kewajiban khatib di mimbar menyampaikan penggalan ayat Tuhan “Innallâha ya’muru bil-‘adli wal-iḫsâni wa îtâ’i dzil-qurbâ…, Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat (Al Qur’an Surah An-Nahl, ayat 90). Banyak orang yang mampu berbicara tetapi tidak semua mampu mendengar meskipun disepahami untuk menjadi pembicara yang baik harus belajar menjadi pendengar yang baik. Banyak orang mampu bekerja tetapi tidak semua mampu menjaga integritas (kepercayaan). Banyak orang menguasai teknologi tetapi tidak semua memiliki etika dalam menggunakannya.

Pendidikan yang hanya menekankan pengetahuan melahirkan manusia yang pintar tetapi ”dingin” tidak peka terhadap situasi. Demikian halnya, pendidikan yang hanya menekankan keterampilan melahirkan manusia produktif tetapi kehilangan arah moral. Oleh karena itu, L2B diperlukan untuk menegaskan pembentukan manusia sebagai pusat pendidikan. Apalagi di era digital ini, kebutuhan terhadap L2B semakin mendesak dimana anak-anak tumbuh dalam ruang yang penuh pilihan, distraksi, tekanan sosial, dan perbandingan. Mereka tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga dibentuk oleh media sosial, algoritma, budaya populer, dan arus informasi yang tidak selalu mendidik. Memperoleh pengetahuan secara cepat tetapi belum tentu memiliki kedewasaan untuk menyaringnya, dan tampil percaya diri di ruang digital tetapi belum tentu kuat secara mental dan moral. Oleh karena itu, pendidikan hadir sebagai kompas, tetapi tidak cukup memberi peta jalan melainkan pula arah, memberi alat sekaligus nilai, mengajarkan cara mencapai sesuatu sekaligus alasan mengapa sesuatu itu layak dicapai.

BACA JUGA:  KETAHANAN PANGAN DALAM ISLAM (SERI 5): KEDAULATAN PANGAN DAN PEMBERDAYAAN KOMUNITAS PETANI MUSLIM

L2B juga penting bagi masa depan bangsa. Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang kompeten, tetapi juga generasi yang jujur, peduli, tangguh, terbuka, dan mampu menjaga persatuan di tengah kebhinekaan. Bangsa besar tidak dibangun hanya oleh orang pintar, tetapi juga oleh manusia yang berkarakter, sebagaimana pernyataan mantan Presiden pertama Republik Indonesia, Bapak Ir. Soekarno atau Bung Karno (dalam Gunawan, 2013) bahwa bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character building), karena pembangunan karakter inilah yang dapat membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya serta bermartabat.

L2B diwujudkan dengan cara menghadirkan pendidikan yang memanusiakan manusia karena memandang peserta didik sebagai manusia, bukan sekadar angka-angka, nilai rapor, skor ujian, peringkat kelas, atau data statistik. Anak didik merupakan pribadi yang memiliki emosi, mimpi, ketakutan, potensi, masalah keluarga, pengalaman sosial, dan kebutuhan untuk dihargai. Jadi, pendidikan karakter dihidupkan dalam praktik, bukan hanya slogan, dimana kejujuran diajarkan melalui definisi dan dibiasakan dalam ujian, tugas, interaksi, kehidupan sekolah. Tanggung jawab ditulis dalam visi sekolah dan dilatihkan melalui tugas nyata, kerja kelompok, kepemimpinan kelas, dan kepedulian terhadap lingkungan. Demikian pula empati dijadikan materi ceramah yang ditumbuhkan melalui pengalaman membantu, mendengar, dan bekerja bersama orang lain. Dalam hal ini, guru dan dosen berperan sebagai teladan karena L2D mengajarkan pendidik sebagai penyampai ilmu sekaligus figur pembentuk karakter dalam cara guru berbicara, memperlakukan siswa, menghargai pertanyaan, mengakui kesalahan, menegakkan disiplin, dan menunjukkan kasih sayang sebagai pelajaran hidup.

Sementara itu sekolah dan kampus memberi ruang refleksi dimana anak didik dibiasakan bertanya kepada dirinya sendiri, apa yang sudah saya pelajari, apa yang saya rasakan, apa yang perlu saya saya perbaiki, bagaimana saya memperlakukan orang lain, dan apa manfaat saya belajar bagi kehidupan, karena dengan berefleksi membuat pendidikan menyentuh kesadaran batin. Selanjutnya, pembelajaran memberi ruang pada pilihan dan tanggung jawab dengan melatih anak didik memilih topik, menyusun proyek, menentukan cara belajar berkolaborasi, dan mempertanggungjawabkan hasilnya. Kepribadian anak didik kemudian terbentuk melalui kegiatan sosial, proyek kemanusiaan, pengabdian masyarakat, praktik lapangan, organisasi siswa, kewirausahaan, dan kolaborasi lintas budaya, selain melalui lembaga pendidikan formal di bangku sekolah atau perguruan tinggi.

BACA JUGA:  ARAH PENDIDIKAN SETELAH DELAPAN DEKADE KEMERDEKAAN

Akhirnya, pendidikan memperkuat dimensi spiritual dan moral, dimana pada konteks Indonesia tidak terlepas dari nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan. Sementara itu melalui L2B manusia (orang) semakin sadar bahwa hidup bukan hanya tentang “aku bisa apa”, tetapi juga “aku bertanggung jawab kepada siapa”, kepada diri sendiri, orang lain, masyarakat, bangsa dan negara, serta kepada Tuhan. Oleh karena itu, pendidikan yang mengokohkan L2B melahirkan manusia yang bermakna, manusia yang kehadirannya membawa kebaikan, seperti seorang guru yang tulus, petani yang jujur, pegawai yang amanah, pemimpin yang adil, peneliti yang tekun, pengusaha yang peduli, atau anak muda yang berani memperbaiki lingkungannya, karena menyatu dengan nilai agama, budaya, dan Pancasila.

***

Pada peringatan Hardiknas ini, L2B merupakan pengingat bahwa pendidikan merupakan perjalanan panjang untuk membentuk karakter manusia. Pendidikan tidak hanya mengejar output administratif, melainkan pula menyentuh inti kemanusiaan, karena ukuran tertingginya adalah banyaknya manusia yang tumbuh menjadi pribadi mandiri dan lebih baik. Jadi, jika L2K mampu mengokohkan pikiran dan L2D menggerakkan tangan untuk berkarya, maka L2B membentuk jiwa manusia agar tidak kehilangan arah, karena pendidikan sejati membantu manusia menjadi lebih sadar, lebih beradab, lebih bertanggung jawab, lebih peduli, lebih kuat, lebih rendah hati, dan lebih bermanfaat bagi orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni nomor: 3289).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.