Idul Adha itu Momentum Menyembelih Sifat Kebinatangan di Dalam Diri

oleh -172 x dibaca
Dr. Muhammad Asriady

Oleh : Dr. Muhammad Asriady, S.Hd.,M.Th.I. Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung Bone (inspirasi mabid di Muzdalifah 10 Dzulhijjah 1447 H)

Idul Adha bukan hanya tentang memotong hewan kurban yang disembelih. Di balik pisau dan darah, ada pelajaran berharga bahwa Allah SWT ingin kita terlibat menyembelih sifat-sifat “kebinatangan” di dalam diri Kita.

 

Nabi Ibrahim AS tidak hanya diperintahkan menyembelih Ismail, tetapi Allah sedang mengujinnya. Mana yang lebih Ia cintai, anaknya atau Tuhannya? Ketika Ibrahim tunduk setunduk-tunduknya Allah ganti Ismail dengan Qibas (hewan sejenis domba). Hal itu sebagai isyarat bahwa yang Allah minta sebenarnya bukan darah, tapi ketaatan dan kesucian hati.

Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.(QS. Al-Hajj: 37)

 

Jadi kurban yang sampai kepada Allah bukanlah daging, tapi hati yang mau tunduk, ego yang mau dipotong.

BACA JUGA:  Idul Adha: Momentum Mengendalikan Hawa Nafsu dan Memuliakan Akal

 

Ada 3 “Hewan” dalam Diri Kita yang Perlu Disembelih di Hari Kurban

1. Ego yang Tinggi (Sifat Firaun dalam diri)

Firaun binasa karena satu kalimat “Akulah Tuhan yang paling tinggi”. QS. An-Nazi’at: 24.

Ego terkadang membuat kita sulit minta maaf, sulit mengakui kesalahan, sulit mendengarkan orang lain. Di Hari Kurban, sembelihlah rasa “akulah yang paling benar”. Gantikan dengan kerendahan hati, karena Nabi Saw bersabda:

Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan walau seberat biji sawi. (HR. Muslim)

2. Ingin Menang Sendiri (Siifatnya Serigala)

Serigala berebut mangsa didepan mata. Manusia kadang juga seperti itu, Ia menghalalkan segala cara demi menang, walau harus menjatuhkan saudaranya sendiri.

Padahal Rasulullah Saw mengingatkan:

BACA JUGA:  Akses Pasar Modal Syariah: Investasi Rp10 Ribu, Peluang Besar bagi Generasi Muda

Orang muslim itu saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak menzhaliminya, tidak merendahkannya. (HR. Muslim)

Kurban mengajar kita berbagi. Daging dibagi tiga: untuk keluarga, tetangga, dan fakir miskin. Menang sejati bukan saat kita di atas sendiri, tapi saat semua bisa ikut merasakannya bersama-sama.

3. Merasa Lebih Baik dari Orang Lain (Sifatnya Iblis)

Iblis menolak sujud kepada Adam As dengan alasan “Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)

Merasa lebih baik, lebih alim, lebih kaya, lebih berkurban itulah pintu ujub yang bisa menghapus pahala. Imam Ghazali menyebut ujub sebagai “sifat kebinatangan” yang membuat amal jadi hampa.

Kurban Sejati Hari Ini di tahun ini, selain berkurban kambing atau sapi, mari tambah satu kurban lagi yaitu kurbankan ego dengan minta maaf duluan ke saudara yang sedang renggang.

BACA JUGA:  Teologi Berlalu Lintas: Mata Kuliah Wajib bagi Pengguna Jalan

Kurbankan rasa ingin menang sendiri dengan memberi kesempatan orang lain bersinar falsafah Bugis ‘sirui menre aja mu sirui nno’

Kurbankan kesombongan dengan mengakui bahwa semua kelebihan kita hanya titipan Allah.

Ibrahim lulus ujian karena memiliki sikap dan sifat siap kehilangan yang paling dicintainua demi Allah. Anak semata wayang dinanti sekian tahun, pas lahir dimintai untuk di kurbankan.

Sahabatku, kini kita juga sedang diuji, siapkah kita “kehilangan” ego, gengsi, dan rasa superior demi menjadi hamba yang lebih bersih?

Semoga Idul Adha kali ini bukan hanya membuat freezer kita penuh daging kurban, tapi juga membuat hati kita lebih lapang, lebih rendah hati, dan lebih dekat dengan Allah SWT.

‘Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H’ _Taqabbalallahu minna wa minkum_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.