Alhajju Arafah: Ketika Kita Sadar, Kita Tidak Ada Apa-apanya

oleh -93 x dibaca
Dr. Muhammad Asriady, M.Th.I

Oleh: Dr. Muhammad Asriady, M.Th.I.

Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung Bone (perjalanan menuju Arafah 09 Dzulhijjah)

“Haji itu Arafah” Kalimat pendek dari Nabi Saw ini memotong semua kemewahan ritual. Tidak ada tawaf, tidak ada sa’i, tidak ada lempar jumrah yang bisa menggantikan satu siang di padang Arafah. Allahu Akbar.

 

Karena di Arafah, topeng kita rontok semua.

Dimulai dari perjalanan fisik dengan melepas nyaman. Berangkat dari Mina dengan kaki, bukan dengan mobil mewah. Berdesakan, kepanasan, kehausan. Badan yang biasa minta AC, kasur empuk, makanan selera, tiba-tiba ditelanjangi oleh padang pasir.

Allah ingin kita merasakan bahwa tubuh ini lemah. Nyaman yang kita kejar seumur hidup ternyata rapuh di bawah terik matahari Arafah.

 

Fisik kita lelah lebih tepatnya dilelahkan supaya ego kita ikut lelah.

BACA JUGA:  MEREFLEKSIKAN MAKNA HIJRAH: SINERGITAS ISLAM, BUDAYA BUGIS DAN PENDIDIKAN TINGGI

Berlanjut perjalanan sosial dengan melebur dalam “La Farq”

Di Arafah tidak ada Professor, tidak ada Doktor tidak ada Tuan Haji, tidak ada bapak Pejabat. Yang ada hanya kain ihram putih yang sama. Ada keringat yang sama. Ada doa terhambur dengan bahasa berbeda yang sama-sama naik ke langit.

Orang Indonesia di sebelah Afrika. Orang kaya di sebelah fakir. Semua berdesakan, saling minta maaf kalau terinjak, saling bagi air kalau kehausan.

Inilah pelajaran tauhid sosial di hadapan Allah, kita semua nol. Tidak ada yang lebih mulia kecuali yang paling bertakwa. Dan takwa itu tidak kelihatan di baju, hanya Allah yang tahu.

Barengi dengan perjalanan spiritual. Kita berada pada Titik “Tidak Ada Apa-apanya”

BACA JUGA:  Menakar Kesiapan Venue Jelang Porprov

 

Dari Dhuhur sampai Maghrib, jutaan manusia mengangkat tangan. Ada yang hafal doa panjang, ada yang cuma bisa nangis. Ada yang fasih Arab, ada yang cuma bilang “Ya Allah…” berulang-ulang.

Tapi Allah dengar semuanya.

Di titik itulah kita paham makna takbirAllahu Akbar (Allah Maha Besar)

Kalau Allah Maha Besar, berarti kita ini… kecil. Sangat kecil. Bahkan “tidak ada apa-apanya”.

Kita kecil bukan untuk di kucilkan apalagi direndahkan, tapi untuk dibebaskan.

Bebas dari beban harus kelihatan hebat. Bebas dari penyakit ingin dipuji. Bebas dari sombong karena ilmu, harta, atau keturunan.

Pulang dari Arafah, Bawa Pulanglah kesucian diri yang selalu merasa Kita “Tidak Ada Apa-apanya”

Haji selesai, kita pulang. Tapi jangan tinggalkan Arafah di Arafah.

BACA JUGA:  KEBERSIHAN DAN ALAM SEMESTA ADALAH TITIPAN ILAHI

Bawa pulang rasa “tidak ada apa-apanya” itu ke rumah:

– Saat anak membantah, ingat aku bukan pusat semesta.

– Saat rezeki seret, ingat yang Maha Kaya sedang mendidikku.

– Saat disakiti orang, ingat aku juga sering menyakiti Rabbku, tapi Dia masih ampuni.

 

“Alhajju Arafah” bukan sekadar rukun. Dia tamparan lembut yang mengingatkan bahwa hidup ini bukan tentang membesarkan diri, tapi membesarkan Allah.

Mungkin kita tidak semua dipanggil ke Arafah tahun ini. Tapi setiap hari kita punya “Arafah kecil”: saat sujud terakhir, saat tahajud sunyi, saat kita berani bilang “Ya Allah, aku tidak bisa tanpa Engkau”.

Di situlah haji yang sesungguhnya dimulai.

Labbaik Allahumma labbaik

Aku datang ya Allah, dengan segala tidak-adanya diriku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.