”Swamedikasi”, Mata Kuliah Pilihan Kita di Universitas Kehidupan

oleh -331 x dibaca
Andi Selvi Kartini Wonsu, S.Si., Apt., M.Tr.AP -Sitti Zam Zam, S.Si., Apt., M.M.,

Oleh:

 Andi Selvi Kartini Wonsu, S.Si., Apt., M.Tr.AP., Aparatur Sipil Negara (ASN) pada RSUD La Mappapenning & Dosen Universitas Sipatokkong Mambo (UNSIMA) Bone.

 Sitti Zam Zam, S.Si., Apt., M.M., Aparatur Sipil Negara (ASN) pada RSUD La Mappapenning & Mahasiswi Program Doktor Ilmu Ekonomi STIE AMKOP Makassar.

Setiap orang, termasuk pembaca! cepat atau lambat dapat atau pernah menjadi “dokter” bagi dirinya sendiri. Saat kepala berdenyut di tengah deadline tugas, ketika tenggorokan mulai perih pada malam hari, saat perut melilit setelah telat makan, atau ketika demam datang pada jam-jam ketika klinik sudah tutup maka keputusan pertama yang muncul seringkali bukan pergi ke fasilitas kesehatan, melainkan membuka laci obat, mampir ke apotek, menyeduh ramuan hangat, atau mencari sendiri cara meredakan gejalanya. Pada situasi seperti ini swamedikasi dipraktekkan sebagai kebiasaan hidup. Swamedikasi layak disebut”mata kuliah” pilihan kita (orang) di universitas kehidupan. Universitas kehidupan merupakan metafora pendidikan sepanjang hayat (long life education) dimana masyarakat dan pengalaman sehari-hari sebagai kampus, sedangkan kita (manusia) menjadi “peserta didik” (pembelajar) sekaligus “pendidik” satu sama lain (Haedar Akib & Rifdan, https://tribunboneonline.com/2026/02/02/universitas-kehidupan-bagi-pembelajar-sepanjang-hayat/). Tidak ada KRS (kartu rencana studi), tidak ada dosen tetap, tidak ada ruang kuliah resmi, tetapi hampir semua orang mengikuti. Prakteknya dipelajari dari ibu yang menyiapkan kompres dan teh hangat, dari ayah yang selalu menyimpan obat sakit kepala, dari tetangga yang menyarankan balsem atau jamu, dari iklan, dari media sosial, dan dari pengalaman karena yakin “dulu juga sembuh pakai cara yang biasa”. Mata kuliah ini terasa sangat dekat, praktis, dan karena itulah sering dianggap paling mudah, padahal justru di sinilah jebakannya karena yang tampak sederhana dan mudah itu sering menyimpan risiko.

BACA JUGA:  Pembelajaran Kebijakan Penataan RTH berbasis Sistem Tana' Ulen

***

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa swamedikasi merupakan upaya pengobatan yang dilakukan sendiri. Dalam pedoman resminya, praktik itu dibenarkan untuk pengobatan sendiri menggunakan obat bebas dan obat bebas terbatas, dengan syarat kita (orang) memahami cara penggunaan yang benar agar tidak terjadi kesalahan pengobatan. Kemenkes menempatkan apoteker sebagai pemberi informasi penting dalam praktik ini. Artinya, swamedikasi bukan tindakan liar di luar sistem kesehatan melainkan sebagai ruang terbatas yang memang diakui, tetapi biasa dijalankan dengan pengetahuan yang sesuai.

Masalahnya adalah dalam praktik sehari-hari, swamedikasi kerap dipersempit sekadar menjadi urusan “minum obat apa”. Padahal maknanya lebih luas sebagai seni membaca gejala (penyakit), memilih respons awal, memahami batas aman, dan tahu kapan berhenti menolong diri sendiri. Intinya, swamedikasi bukanlah keberanian membeli obat, melainkan kecerdasan mengenali batas antara keluhan ringan dan tanda bahaya.

Swamedikasi familiar dengan masyarakat karena hidup kita tidak memberi waktu untuk sakit dengan santun dan pada saat yang sama pelayanan kesehatan formal belum selalu mudah dijangkau ketika dibutuhkan. Ada antrean, biaya, jarak (apalagi jalan rusak!), waktu pelayanan, dan keterbatasan ritme kerja masyarakat. Pada situasi seperti itu, swamedikasi tampak sebagai jalan tercepat, termurah, dan paling masuk akal. Ada juga alasan psikologis sesuai pengalaman karena orang suka percaya pada apa yang pernah berhasil atau pernah sembuh setelah minum obat tertentu sehingga obat itu disimpan sebagai “jurus”. Demikian pula, pernah merasa lebih baik setelah minum ramuan tertentu, sehingga ramuan itu dipercaya lagi. Pengalaman memang merupakan dosen favorit pada universitas kehidupan. Sayangnya, tubuh manusia bukan buku catatan yang selalu memberi jawaban sama. Gejala yang mirip belum tentu datang dari sebab yang sama. Pusing tidak selalu berarti kurang tidur, batuk tidak selalu sekadar flu, atau nyeri lambung tidak selalu hanya karena telat makan. Jadi, ketika pengalaman dijadikan satu-satunya kurikulum, maka swamedikasi mudah berubah menjadi tebakan yang terlalu percaya diri.

BACA JUGA:  Sikap Syukur Bangsa Indonesia Membersamai MUI 2025–2030: Menjaga Harmoni Umat dan Keutuhan NKRI

Di era digital, persoalannya bertambah karena orang kini mudah memperoleh “nasihat kesehatan” lebih cepat dari notifikasi ponsel ketimbang dari tenaga kesehatan. Saran beredar di media sosial dengan sangat meyakinkan, meskipun sering tanpa konteks, tanpa pemeriksaan, dan tanpa tanggung jawab ilmiah. Gejala pribadi diubah menjadi konten umum seolah tubuh semua orang seragam. Akibatnya, swamedikasi hari ini tidak lagi hanya dibentuk oleh tradisi lama (rumah tangga), tetapi juga oleh algoritma, padahal algoritma tidak tahu kondisi tubuh (perasaan) kita.

Dalam praktik nyata, swamedikasi bergerak melalui dua jalur besar, jalur farmakologi dan jalur nonfarmakologi, atau tradisional. Jalur farmakologi menggunakan sediaan obat yang legal untuk pengobatan sendiri. Obat untuk swamedikasi meliputi obat bebas dan obat bebas terbatas, sehingga masyarakat diharapkan cermat membaca komposisi, indikasi, dosis, aturan pakai, efek samping, kontraindikasi, cara penyimpanan, kedaluwarsa, serta nomor registrasinya serta paham bahwa antibiotik bukan ranah swamedikasi karena termasuk obat keras. Sementara itu, jalur nonfarmakologi untuk keluhan ringan seperti istirahat, hidrasi cukup, makan teratur, kompres, menghindari pemicu, menjaga kebersihan, dan memberi waktu kepada tubuh untuk pulih, sebagai bentuk self-care yang sah dan penting, apalagi pada kondisi (kasus) tertentu dimana tubuh kita sebenarnya tidak selalu membutuhkan obat, melainkan cukup jeda, cairan, nutrisi, dan perawatan sederhana yang konsisten. Sedangkan jalur tradisional memiliki akar yang sangat kuat dalam masyarakat kita karena obat tradisional dipahami sebagai bahan atau ramuan bahan dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian, atau campurannya, yang secara turun-temurun digunakan untuk pengobatan. Pembuktian dan standardisasi obat tradisional ini dibagi menjadi tiga jenis yaitu jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka, sebagaimana ditegaskan dalam regulasi BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) tentang registrasi obat bahan alam.

BACA JUGA:  Artificial Intelligence dan Masa Depan Pendidikan : Siapa yang harus Beradaptasi?

Pelayanan tradisional tidak dipahami sebagai wilayah tanpa standar, karena ada jenjang pembuktian yang membedakan antara ramuan berbasis pengalaman turun-temurun dan produk yang sudah melalui pengujian secara cermat. Dengan kata lain, ada jalur farmakologi yang berbasis obat nonresep resmi, ada jalur nonfarmakologi yang berbasis perawatan diri, dan ada jalur tradisional yang berbasis ramuan atau obat bahan dari alam dengan tingkat pembuktian tertentu dimana ketiganya merupakan bagian dari swamedikasi yang dipraktekkan secara tepat.

 

***

Swamedikasi yang dipraktekkan berawal dari ”kejujuran pada gejala” dan hanya layak untuk keluhan yang ringan, singkat dan jelas. Begitu keluhan menjadi berat, menetap, berulang, atau disertai tanda bahaya seperti sesak, demam tinggi berkepanjangan, nyeri hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, atau penurunan kesadaran, maka swamedikasi dihentikan. Pada kondisi ini yang dibutuhkan bukan keberanian mencoba lagi, melainkan kerendahan hati untuk mencari pertolongan medis. Selanjutnya, menjadikan apoteker sebagai mitra, bukan sekadar penjual, menghentikan kebiasaan menggunakan antibiotik sesuka hati, sembari membedakan antara merawat diri dan mengobati diri secara berlebihan. Swamedikasi tetap sebagai mata kuliah pilihan di universitas kehidupan karena dekat, murah, cepat, dan terasa praktis dipelajari dan dipraktekkan secara benar. Meskipun demikian, mata kuliah ini tidak dibiarkan untuk diajarkan sepenuhnya oleh iklan, asumsi, dan pengalaman yang dilebih-lebihkan, melainkan perlu dibimbing oleh literasi, regulasi, dan akal sehat, karena swamedikasi yang sehat bukanlah simbol kenekatan, melainkan tanda kedewasaan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.