Puasa Teknologi: Menahan Diri dari Media Sosial

oleh -89 x dibaca
Arisnawawi, S.Sos., M.Si.

 

Penulis 

Arisnawawi, S.Sos., M.Si.

Dosen Sosiologi, Universitas Negeri Makassar

Email: arisnawawi@unm.ac.id  

 

Ramadhan selalu menghadirkan jeda. Ia datang bukan semata untuk mengatur ulang jam makan, tetapi untuk mengatur ulang cara kita hidup. Kita diajak menahan lapar, mengendalikan emosi, dan menata kembali relasi dengan Tuhan, orang lain, serta diri sendiri. Hemat saya, puasa sejak awal, hakikatnya adalah soal konsumsi. Yaitu apa yang boleh masuk, apa yang perlu ditahan, dan kapan kita harus berhenti.

Namun ada satu bentuk konsumsi yang kerap luput dari perhatian kita, jarang disentuh dalam khotbah-khotbah, dan jarang dipercakapkan dalam pengajian kita. Ia adalah konsumsi media sosial. Kita lapar akan atensi, lapar akan notifikasi, lapar akan tanda-tanda kecil yang memastikan bahwa kita masih terlihat, masih terhubung, masih dianggap ada di ruang maya. Kita berpuasa dari makanan dan minuman, tetapi tetap “mengonsumsi” media sosial tanpa jeda. Jempol terus bergerak, linimasa terus digulir, dan pikiran terus dijejali untuk membuat postingan baru.

Indonesia memasuki bulan suci dalam kepungan media sosial. Laporan Digital 2024 dari We Are Social menunjukkan bahwa rata-rata waktu penggunaan internet di Indonesia mencapai tujuh jam, tiga puluh delapan menit per hari, dengan porsi besar dihabiskan di platform media sosial. Angka ini bukan sekadar statistik kebiasaan, melainkan cermin dari struktur kehidupan sosial kita hari ini. Kita bangun dengan membuka linimasa, bekerja sambil berpindah aplikasi percakapan, beristirahat melalui video singkat, bahkan mengikuti kajian secara digital. Media sosial tidak lagi sekadar alat komunikasi, namun ia telah menjelma menjadi ruang yang hidup.

Fenomena ini tidak cukup dibaca hanya sebagai soal kemajuan teknologi atau perubahan gaya hidup, melainkan sebagai perubahan relasi kuasa dan cara kesadaran dibentuk. Herbert Marcuse, pemikir Mazhab Frankfurt, sejak 1960-an telah mengingatkan tentang masyarakat modern yang ditundukkan oleh rasionalitas teknologi. Dalam bukunya One-Dimensional Man (1964), ia menggambarkan manusia yang merasa bebas, tetapi kebebasannya dibatasi oleh sistem kebutuhan yang diciptakan industri dan diterima sebagai kewajaran. Ia menyebutnya kebutuhan palsu, yaitu kebutuhan yang membuat sistem terus berjalan, bukan yang membebaskan manusia.

BACA JUGA:  Investasi Masa Depan Demokrasi di Sulsel lewat Pilketos  Serentak di SLTA Se-Sulawesi Selatan

Jika gagasan itu kita tarik ke konteks media sosial, kita merasa butuh selalu terhubung. Merasa tidak enak jika lambat merespons pesan. Merasa tertinggal jika tidak mengikuti isu terbaru. Notifikasi bekerja seperti detak jantung kedua. Ketika ia berhenti, muncul kegelisahan yang sulit dijelaskan. Dalam sosiologi, inilah yang disebut internalisasi norma baru yang kelak menjadi normal baru. Keterhubungan tanpa henti tidak lagi dipertanyakan, melainkan ia diterima sebagai standar hidup modern.

Tinjauan sistematis selama delapan tahun dari Sarah M. Coyne bersama rekan-rekannya, dengan judul “Does time spent using social media impact mental health?: An eight year longitudinal study” (2020) menunjukkan hubungan signifikan antara penggunaan media sosial yang intens dengan meningkatnya gejala kecemasan dan depresi, khususnya pada kelompok muda. Studi lain dalam Journal of Behavioral Addictions menemukan bahwa penggunaan media sosial dapat menampilkan karakteristik adiksi perilaku, seperti dorongan kompulsif, kesulitan mengendalikan durasi, dan rasa tidak nyaman ketika akses dibatasi. Relasi kita dengan media sosial, dengan demikian, jauh dari netral.

Masalahnya tidak berhenti di tingkat individu. Media sosial beroperasi dalam apa yang disebut attention economy (ekonomi perhatian), yaitu perhatian adalah komoditas. Semakin lama kita berselancar di layar, semakin besar keuntungan yang dihasilkan platform. Brady dan koleganya dalam Proc Natl Acad Sci U S A. (2017) menunjukkan bahwa unggahan bermuatan emosi moral (kemarahan, keterkejutan, kecaman) lebih mudah menyebar dibandingkan konten reflektif dan tenang. Algoritma bekerja dengan logika keterlibatan, bukan kedalaman. Media sosial tidak dirancang untuk keheningan batin, melainkan untuk kegaduhan yang berulang.

BACA JUGA:  ARAH PENDIDIKAN SETELAH DELAPAN DEKADE KEMERDEKAAN

Di titik inilah Ramadhan menemukan relevansinya. Puasa melatih kita membedakan antara kebutuhan dan dorongan. Ketika lapar datang lalu kita menahannya, kita sedang belajar bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi. Kita melatih kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bertindak. Itulah kapasitas menahan impuls, kemampuan memberi jarak antara dorongan dan keputusan. Puasa pada dasarnya adalah pendidikan kesadaran. Ia mengajarkan jeda. Namun jika pada saat yang sama kita terus membuka media sosial setiap beberapa menit, latihan itu menjadi setengah jalan. Tubuh memang menahan makan dan minum, tetapi pikiran tetap sibuk dikonsumsi oleh notifikasi dan linimasa

Puasa media sosial dapat dibaca sebagai bentuk asketisme modern, yaitu laku pengendalian diri secara sadar untuk membatasi konsumsi dan kenikmatan yang berlebihan demi menjaga kejernihan batin dan kebebasan berpikir. Bukan karena media sosial sepenuhnya buruk, melainkan karena relasi yang tidak seimbang melahirkan ketergantungan. Dalam bahasa Marcuse, manusia berisiko menjadi satu dimensi ketika seluruh kehidupannya disesuaikan dengan logika sistem teknologi yang ia ciptakan sendiri. Media sosial, melalui algoritmanya, membentuk pola perhatian, preferensi, bahkan opini kita. Ia tidak memaksa secara kasar, tetapi membentuk secara halus melalui pengulangan dan pembiasaan yang terus menerus.

Ramadhan memberi momentum kolektif untuk meninjau ulang pola ini. Ritme sosial melambat. Waktu berbuka mempertemukan keluarga. Tarawih mempertemukan komunitas. Ada ruang kultural yang mendukung kedalaman dan kebersamaan. Dalam konteks ini, puasa media sosial bukan sekadar keputusan individual, melainkan tindakan sosial yang memulihkan kualitas interaksi langsung.

BACA JUGA:  Bunga Indah Yang Tumbuh Di Semak Belukar : Bukan Nakal Tapi Mereka Terabaikan

Puasa media sosial tentu tidak berarti memutus total dari dunia digital. Banyak pekerjaan dan komunikasi memang bergantung padanya. Yang dipersoalkan adalah pola konsumsi yang menguras kesadaran. Mengurangi yang tidak perlu, menunda yang tidak mendesak, memberi ruang bagi percakapan tanpa gangguan notifikasi. Tindakan-tindakan kecil ini adalah bentuk resistensi terhadap apa yang pernah saya sebut sebagai “normal baru yang tak pernah kita setujui” (terbit di Tribun Bone, 5/2/2026).

Karena yang dipertaruhkan bukan hanya waktu, tetapi struktur kesadaran. Ketika perhatian terus terfragmentasi, kemampuan refleksi melemah. Ketika opini dibentuk oleh arus emosi viral, ruang berpikir kritis menyempit. Ramadhan mengajarkan pengendalian diri sebagai fondasi etika. Dalam masyarakat digital, pengendalian itu juga perlu diarahkan pada konsumsi media sosial.

Pada akhirnya, puasa bukan sekadar menahan, tetapi memurnikan dan menata ulang prioritas. Di tengah arus unggahan yang tak pernah berhenti, keberanian untuk sunyi dengan menahan diri menjadi tindakan bermakna. Sunyi memberi ruang bagi refleksi. Refleksi membuka jalan menuju kebebasan.

Marcuse mengingatkan bahwa pembebasan dimulai ketika manusia menyadari bahwa apa yang dianggap wajar sesungguhnya dapat dipersoalkan. Jika selama ini keterhubungan tanpa henti kita terima sebagai keniscayaan zaman, Ramadhan memberi peluang untuk meninjau ulang itu. Tidak semua notifikasi perlu dibalas. Tidak semua perdebatan perlu diikuti. Tidak semua unggahan perlu dikomentari.

Puasa media sosial, dalam pengertian ini, bukan sekadar tren musiman. Ia adalah praktik sosial untuk tetap menjadi manusia yang utuh, manusia yang mampu menahan diri, berpikir, dan memilih. Atau dalam bahasa Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), manusia yang pintar kapan harus mengegas dan kapan harus mengerem, sehingga tidak sepenuhnya dikendalikan oleh arus, melainkan tetap menjadi pengemudi atas kesadarannya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.