Lomba 17 Agustus Menjadi Ruang Belajar Kebangsaan

oleh -365 x dibaca
Dr. Muh. Safar

Oleh: Dr. Muh. Safar, S. Pd., M.Pd.C.Ed.

Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Bone

Mengapa setiap Agustus kita rela berkumpul di lapangan hanya untuk menyaksikan orang berlari dengan karung, makan kerupuk, menarik tali, sepak bola, memasukkan pensil ke botol, atau memanjat batang pinang? Bukankah semua itu sekadar permainan? Pertanyaan sederhana itu justru membawa kita pada persoalan yang lebih besar. Di balik tawa, sorak-sorai, dan hadiah lomba, terdapat pelajaran tentang Indonesia yang semakin penting di tengah kehidupan yang kian individual dan digital.

Lomba 17 Agustus bukan sekadar hiburan. Ia adalah ruang belajar kebangsaan. Setiap memasuki bulan Agustus, suasana kampung di Bone dan berbagai daerah di Sulawesi Selatan bahkan di seluruh Indonesia berubah. Bendera Merah Putih terpasang di depan rumah. Umbul-umbul menghiasi jalan. Lapangan yang sehari-hari menjadi tempat bermain kembali ramai. Anak-anak berlatih, pemuda menjadi panitia, orang tua memberikan dukungan, dan warga berkumpul menyaksikan pertandingan.

Di sejumlah kampung, semangat itu bahkan meluas menjadi pertandingan antarkampung. Ada kebanggaan ketika tim sendiri menang. Ada sorakan ketika pertandingan berlangsung sengit. Ada pula kekecewaan ketika jagoan mereka harus kalah. Semua itu wajar. Kompetisi memang membutuhkan semangat untuk menjadi yang terbaik. Namun, yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa kompetisi tidak menghilangkan kesadaran bahwa kita tetap berada dalam satu ruang kebersamaan sebagai masyarakat dan sebagai bangsa. Di sinilah lomba 17 Agustus memiliki makna pendidikan.

Tarik tambang hanya membutuhkan seutas tali. Tetapi permainan sederhana itu mengajarkan sesuatu yang sering terlupakan. Kekuatan tidak selalu lahir dari kemampuan individu. Satu orang boleh memiliki tenaga besar, tetapi tidak akan banyak berarti jika anggota tim lainnya tidak bergerak bersama. Kemenangan ditentukan oleh kemampuan untuk menyatukan tenaga, menjaga irama, dan percaya kepada orang-orang yang berada di sampingnya. Panjat pinang bahkan memberikan pelajaran yang lebih dalam. Orang yang mencapai puncak memang menjadi pihak yang mengambil hadiah. Namun, ia tidak mungkin sampai ke sana tanpa orang-orang yang rela menjadi pijakan. Mereka yang berada di bawah mungkin tidak memperoleh hadiah. Mereka bahkan harus menanggung beban tubuh orang lain. Tetapi tanpa mereka, tidak ada yang sampai ke puncak. Ketika bermain sepak bola, mereka belajar bahwa kemenangan tidak ditentukan oleh satu pemain, tetapi oleh kerja sama seluruh tim. Mereka belajar mengoper bola, memberi ruang kepada teman, mempercayai peran masing-masing, dan bermain sesuai aturan. Ketika kalah, mereka belajar menerima kenyataan. Ketika menang, mereka belajar menghargai lawan. Dari lapangan sepak bola pula anak-anak belajar bahwa kompetisi bukan alasan untuk bermusuhan. Lawan dalam pertandingan tetap dapat menjadi kawan setelah peluit akhir dibunyikan. Nilai-nilai sederhana itulah yang sesungguhnya menjadi bagian dari pendidikan kebangsaan.

BACA JUGA:  Menembus Batas: Tantangan dan Hambatan Jurusan ATPH SMKN 5 Bone dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0"

Bukankah kehidupan berbangsa juga demikian? Indonesia tidak dibangun oleh mereka yang berjalan sendirian. Kemajuan sebuah daerah pun tidak lahir dari satu orang. Ada banyak tangan yang bekerja dalam diam: petani yang mengolah sawah, guru yang mendidik, nelayan yang melaut, pedagang yang menggerakkan ekonomi, pemuda yang bekerja, dan masyarakat yang menjaga lingkungan. Masing-masing memiliki peran. Karena itu, lomba 17 Agustus sesungguhnya mengajarkan prinsip sederhana. Kita boleh berkompetisi untuk menjadi yang terbaik, tetapi tidak boleh kehilangan kesadaran bahwa kita membutuhkan orang lain.

Sebagai pendidik, saya melihat perayaan kemerdekaan juga mengandung pelajaran kebahasaan. Bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan pesan, tetapi juga mencerminkan bagaimana seseorang menempatkan dirinya dalam hubungan sosial. Dalam kehidupan kampung, kita masih akrab dengan kata mari, bersama, bantu, gotong royong, dan kita. Kata kita tidak sekadar menunjuk sekelompok orang, tetapi mengandung kesadaran bahwa kehidupan tidak dibangun sendirian. Ada orang lain yang hadir, membantu, dan berjalan bersama. Di situlah bahasa menjadi cermin kebersamaan.

BACA JUGA:  RADIOAKTIF CIKANDE, LUKA BERULANG DARI NEGERI YANG TAK BELAJAR

Persoalannya, dalam kehidupan modern, bahasa “saya” terasa semakin kuat. Generasi digital tumbuh dalam ruang yang memungkinkan setiap orang menampilkan dirinya. Media sosial memberi kesempatan kepada seseorang untuk menunjukkan prestasi, membangun citra, memperoleh perhatian, dan mengukur popularitas melalui jumlah pengikut, komentar, atau tanda suka. Kita semakin mudah terhubung, tetapi belum tentu semakin dekat. Seseorang dapat memiliki ribuan pengikut di media sosial, tetapi belum tentu memiliki cukup banyak orang yang benar-benar hadir ketika ia membutuhkan bantuan. Anak-anak dapat berkomunikasi dengan siapa saja melalui layar, tetapi belum tentu terbiasa bekerja sama dengan teman yang berada di dekatnya. Dalam konteks inilah lapangan kampung menjadi penting. Di lapangan, anak-anak tidak hanya melihat layar. Mereka bertemu secara langsung. Mereka berlari, tertawa, terjatuh, saling menyemangati, menerima kekalahan, dan merayakan kemenangan. Pengalaman seperti itu sederhana, tetapi tidak kecil nilainya.

Kita sering membicarakan pendidikan karakter dalam konteks sekolah. Padahal, pendidikan karakter tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Lomba 17 Agustus dapat menjadi sekolah karakter yang hidup. Anak yang mengikuti perlombaan belajar mematuhi aturan. Ketika kalah, ia belajar menerima kenyataan. Ketika menang, ia belajar bahwa kemenangan tidak harus digunakan untuk merendahkan lawan. Pemuda yang menjadi panitia belajar bertanggung jawab. Mereka belajar membagi tugas, berkomunikasi, menyelesaikan persoalan, dan mengambil keputusan. Orang tua belajar memberikan dukungan. Masyarakat belajar menciptakan ruang publik yang dapat dinikmati bersama. Tidak ada papan tulis di lapangan. Tidak ada ujian tertulis. Namun, ada pelajaran tentang sportivitas, tanggung jawab, solidaritas, komunikasi, kepemimpinan, dan gotong royong. Nilai-nilai itu justru semakin penting ketika kehidupan semakin kompetitif.

Pendidikan tidak cukup menghasilkan manusia yang mampu memenangkan persaingan. Pendidikan juga harus melahirkan manusia yang mampu hidup bersama. Semangat pertandingan antarkampung patut dipelihara karena memberikan ruang positif bagi masyarakat, terutama anak muda. Namun, kompetisi harus tetap memiliki batas. Jangan sampai pertandingan antarkampung berubah menjadi permusuhan antarkampung. Jangan sampai fanatisme membuat kita lupa bahwa lawan dalam pertandingan tetap saudara dalam kehidupan. Jangan sampai kemenangan melahirkan kesombongan dan kekalahan melahirkan kebencian.

BACA JUGA:  KURBAN : MENGUJI KETAQWAAN DI TENGAH EFESIENSI

Justru di sinilah nasionalisme diuji. Nasionalisme bukan hanya soal mengibarkan bendera atau menyanyikan lagu kebangsaan. Nasionalisme juga terlihat dari kemampuan menghormati orang lain, menerima perbedaan, bekerja sama, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Berbeda tim tidak berarti bermusuhan. Berbeda pilihan tidak berarti harus saling menjauh. Menang bukan alasan untuk merendahkan. Kalah bukan alasan untuk menyerah. Pelajaran kecil dari lapangan kampung itu sesungguhnya merupakan latihan kehidupan berbangsa.

Barangkali, di tengah kehidupan yang semakin individual dan digital, pengalaman sederhana itu justru semakin kita butuhkan. Kita tidak perlu memusuhi teknologi. Generasi digital tetap harus menguasai teknologi. Namun, mereka juga membutuhkan ruang untuk bertemu, berbicara, bekerja sama, dan merasakan kehidupan sosial secara langsung. Karena itu, lomba 17 Agustus jangan dipandang sebagai kegiatan tahunan yang hanya mengejar kemeriahan. Jika dirancang dengan baik, ia dapat menjadi investasi sosial dan pendidikan karakter. Lapangan dapat menjadi ruang belajar. Kampung dapat menjadi ruang pendidikan. Lomba dapat menjadi media menanamkan kebangsaan.

Pada akhirnya, Indonesia tidak hanya diajarkan melalui buku pelajaran. Indonesia juga dipelajari melalui pengalaman hidup bersama: dari tangan yang saling membantu, suara yang saling menyemangati, kekalahan yang diterima dengan lapang dada, dan kemenangan yang dirayakan tanpa merendahkan sesama. Maka, ketika Agustus kembali menghadirkan riuh lomba di kampung-kampung, jangan hanya melihat siapa yang menjadi juara. Lihatlah anak-anak yang sedang belajar menjadi Indonesia. Sebab kemerdekaan tidak cukup hanya dirayakan, Kemerdekaan harus dihidupkan melalui kebersamaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.