Oleh:
Prof. Dr. Hj. Hasmiyati, M.Kes., Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaam dan Kesehatan (FIKK) periode 2018-2026 Universitas Negeri Makassar (UNM).
Prof. Dr. H. Haedar Akib, Anggota Senat Universitas Negeri Makassar, Dosen Program Pascasarjana Universitas Puangrimaggalatung (UNIPRIMA) Sengkang.
Setiap dies natalis bukan sekadar penanda bertambahnya usia sebuah perguruan tinggi (PT) melainkan sebagai momentum untuk membaca kembali perjalanan pengabdian, menilai relevansi kehadiran, dan memperbarui komitmen menghadapi masa depan. Pada usia ke-65, Universitas Negeri Makassar (UNM) mengusung tema “65 Tahun Mengabdi: Tangguh, Inovatif, Berdampak bagi Negeri.” Tema tersebut mengandung tiga tuntutan moral sekaligus berupa kemampuan bertahan menghadapi perubahan, keberanian melahirkan pembaruan, dan kesanggupan menjamin ilmu pengetahuan, teknologi, seni (Ipteks) benar-benar memberikan manfaat (berdampak) kepada masyarakat. Perjalanan panjang UNM tidak dapat dilepaskan dari sejarah pendidikan guru di Indonesia, khususnya di kawasan timur Indonesia. Cikal bakalnya berasal dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Hasanuddin (UNHAS) pada 1961. Lembaga ini kemudian menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Yogyakarta Cabang Makassar, lalu berdiri secara mandiri sebagai IKIP Makassar pada 1965. Seiring perubahan nama Kota Makassar menjadi Ujung Pandang, namanya berubah menjadi IKIP Ujung Pandang pada 1972. Pada 4 Agustus 1999, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 93 Tahun 1999, lembaga ini bertransformasi menjadi Universitas Negeri Makassar yang disingkat UNM. Sebelum perubahan status itu, IKIP Ujung Pandang telah memperoleh perluasan mandat untuk mengembangkan program kependidikan dan nonkependidikan hingga saat ini.
***
Enam puluh lima tahun (65) mengabdi berarti UNM telah melewati berbagai perubahan sosial, politik, ekonomi, teknologi, dan kebijakan pendidikan. Dari ruang perkuliahan yang dahulu mengandalkan papan tulis, mesin ketik, dan buku cetak sebagaimana penulis alami, kini pendidikan lebih khusus proses perkuliahan memasuki ruang digital yang dipenuhi kecerdasan artifisial, analitik data, pembelajaran hibrida (blended learning), dan jejaring global. Perubahan teknologi tersebut tidak menghilangkan inti pendidikan yang diemban UNM dan institusi pendidikan lainnya untuk tetap ”memanusiakan manusia.”
Kata tangguh menegaskan tentang universitas yang tidak mudah goyah oleh perubahan. Ketangguhan bukan sekadar kemampuan bertahan secara pasif, melainkan pula kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Bagi UNM, ”salah dua” jati diri sekaligus visinya adalah ”Kependidikan dan Kewirausahaan.” Perubahan dari IKIP menjadi universitas tidak dimaknai sebagai tindakan meninggalkan warisan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) melainkan akar kependidikannya merupakan modal historis sekaligus pembeda UNM. Seiring berkembangnya berbagai bidang ilmu nonkependidikan UNM mempunyai kesempatan menanamkan semangat pedagogik, etika, komunikasi, keteladanan, dan tanggung jawab sosial ke dalam setiap disiplin ilmu, apalagi dengan adanya tiga mata kuliah penciri universitas ini – Literasi Sains Teknologi Seni, Kewirausahaan, Pendidikan Inklusi (Prof. Dr. Andi Aslinda, Meneguhkan Identitas UNM Lewat Mata Kuliah Penciri (Refleksi Dies Natalis Ke-65 UNM, https://harian.fajar.co.id/2026/08/03/meneguhkan-identitas-unm-lewat-mata-kuliah-penciri-refleksi-dies-natalis-ke-65-unm/). Lulusan atau almuni teknik, ekonomi, administrasi (publik, bisnis, perkantoran), seni, olahraga, psikologi, sains, dan berbagai bidang lainnya tidak hanya menguasai keterampilan profesional, melainkan pula memiliki kemampuan menyampaikan pengetahuan, memahami manusia, bekerja secara kolaboratif, dan menggunakan keahliannya untuk kepentingan masyarakat.
Kata inovatif mengandung pesan mengenai tradisi akademik yang tidak berhenti pada pengulangan karena sivitas akademika UNM mampu mengubah hasil penelitian menjadi solusi, teknologi menjadi alat pemberdayaan, pembelajaran menjadi pengalaman yang menumbuhkan daya pikir dan daya zikir. Inovasi dimaksud tidak selamanya berarti menciptakan aplikasi baru atau membangun laboratorium mahal, melainkan pula telah hadir melalui metode pembelajaran yang lebih inklusif, pelayanan akademik yang lebih cepat, tata kelola yang lebih transparan, penelitian yang menjawab persoalan, dan pengabdian kepada masyarakat yang berkelanjutan.
Sementara itu, kata berdampak merupakan ukuran terpenting karena kinerja perguruan tinggi tidak cukup dinilai dari banyaknya kegiatan, seminar, publikasi, laporan, atau seremoni. Seluruh kegiatan tersebut baru benar-benar berarti karena menghasilkan perubahan nyata yang dampaknya terlihat pada peningkatan kualitas lulusan, kemajuan sekolah, penguatan ekonomi masyarakat, perbaikan pelayanan publik, pelestarian kebudayaan, dan hadirnya solusi terhadap persoalan sosial ekonomi politik pembangunan multidimensional.
Transformasi (metamorfosis) IKIP menjadi universitas penting sebagai jawaban terhadap perubahan kebutuhan masyarakat. Ketika berstatus IKIP, mandat utama lembaganya adalah menyiapkan tenaga pendidik (guru/dosen melalui jalur Tesis, seperti pengalaman penulis) dan tenaga kependidikan. Setelah menjadi universitas, ruang pengabdiannya semakin luas dimana UNM tetap mendidik calon guru dan dosen, sekaligus mengembangkan ilmu murni, teknologi, seni, ekonomi, administrasi, psikologi, sosiologi, hukum, olahraga dan kesehatan, kedokteran, bahasa dan sastra, kewirausahaan, dan bidang-bidang profesional lainnya. Dengan demikian, perubahan status tersebut bukan penghapusan identitas kependidikan, melainkan perluasan mandat keilmuan. UNM tidak meninggalkan sejarahnya, tetapi menggunakan sejarah tersebut sebagai fondasi untuk ”menambah catatan sejarah baru” dengan memasuki wilayah pengabdian yang lebih luas.
Dalam pembicaraan mengenai pendidikan guru selama ini, dikenal dua ungkapan yang menggambarkan perubahan paradigma. Pada masa lalu berkembang pandangan “lebih mudah mengahlikan guru daripada menggurukan ahli.” Jadi, seseorang terlebih dahulu dibentuk sebagai pendidik, kemudian diperdalam penguasaan bidang keilmuannya. Logikanya, watak keguruan – talenta atau kemampuan didaktik-metodik, memahami peserta didik, merancang pembelajaran, menilai perkembangan, membimbing, dan memberi keteladanan – memerlukan proses pembentukan yang panjang. Dalam perkembangan berikutnya muncul pula pandangan sebaliknya, “lebih mudah menggurukan ahli daripada mengahlikan guru.” Seseorang yang telah menguasai bidang ilmu dianggap dapat dibekali kompetensi pedagogik agar mampu mengajar di kelas. Pandangan ini tumbuh seiring semakin terbukanya perjumpaan antara ilmu kependidikan, ilmu murni, dan kebutuhan profesional yang bersifat lintas atau trans-disiplin.
Bagi pembaca kedua ungkapan tersebut tentu tidak dipertentangkan secara mutlak karena menjadi ahli tidak otomatis membuat seseorang mampu mendidik. Sebaliknya, menguasai metode pembelajaran tanpa kedalaman ilmu juga berisiko menghasilkan pembelajaran yang dangkal. Seorang guru profesional harus menjadi ahli dalam bidang yang diajarkan sekaligus pendidik yang memahami manusia. Oleh karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah mana yang lebih mudah, tetapi bagaimana menyatukan keahlian bidang, kompetensi pedagogik, integritas moral, kecakapan digital, dan kepekaan sosial dalam diri seorang pendidik sebagai refleksi bagi setiap alumni UNM. Sebagai universitas yang lahir dari rahim LPTK, UNM dapat mempertemukan dua dunia yang kerap dipisahkan ilmu kependidikan dan ilmu bidang (non-kependidikan/ ilmu murni). Program studi kependidikan dapat memperkuat tradisi pedagogik, sedangkan program nonkependidikan memperluas kedalaman disiplin, teknologi, penelitian, dan profesionalisme. Pertemuan keduanya memungkinkan UNM tidak hanya “mengahlikan guru” atau “menggurukan ahli”, melainkan pula mampu melahirkan manusia terdidik yang ahli, mampu mengajar, terus belajar dan bersedia mengabdikan ilmunya kepada masyarakat, bangsa dan negara.
***
Refleksi pengabdian UNM untuk negeri ini penting karena pembangunan manusia tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi melainkan pula memperluas kemampuan setiap warga negara untuk hidup secara berpengetahuan, produktif, sehat, bermartabat, bahagia, dan mampu berpartisipasi dalam segala aspek kehidupan. Dalam kerangka tersebut, kontribusi UNM untuk negeri sangat strategis karena pendidikan merupakan fondasi yang menggerakkan berbagai sektor pembangunan.
Kontribusi nyata UNM adalah menyiapkan pendidik. Pendidik mempunyai efek berantai yang panjang karena seorang guru atau dosen yang berkualitas tidak hanya memengaruhi satu kelas, tetapi dapat membentuk generasi demi generasi. Ketika lulusan UNM mengajar di kota, desa, pulau, pegunungan, wilayah perbatasan, dan daerah terpencil, sesungguhnya UNM hadir di tempat-tempat tersebut. Kampusnya berpusat di Makassar, tetapi pengabdiannya tersebar melalui para alumninya. Kemudian, berkontribusi untuk menghasilkan tenaga profesional dan pemimpin. Transformasi organisasi menjadi universitas memungkinkan UNM melahirkan lulusan yang mampu berkiprah dalam pendidikan, pemerintahan, dunia usaha, industri, seni, olahraga, teknologi, dan organisasi kemasyarakatan. Mereka tidak hanya dipersiapkan menjadi pencari kerja, tetapi juga menjadi pencipta nilai, pembuka kesempatan, dan pemecah masalah.
UNM menghasilkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni (Ipteks) yang berpihak kepada kebutuhan masyarakat. Sulawesi Selatan dan kawasan timur Indonesia mempunyai tantangan yang khas, seperti kesenjangan akses pendidikan, perbedaan kualitas sekolah dan lulusannya, kebutuhan penguatan pendidikan vokasi, transformasi digital, pengelolaan wilayah kepulauan, pengembangan ekonomi lokal, pelestarian budaya lokal, dan penguatan pendidikan inklusif. Penelitian dan pengabdian UNM berangkat dari persoalan nyata tersebut dimana hasilnya tidak berhenti di rak perpustakaan atau pangkalan data publikasi ilmiah tetapi diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan, teknologi tepat guna, metode pembelajaran, program pemberdayaan, dan inovasi pelayanan yang dapat digunakan oleh sekolah, pemerintah daerah, dunia usaha dan industri (DUDI), serta masyarakat. UNM juga aktif menjaga mobilitas sosial. Perguruan tinggi ini memberikan kesempatan kepada generasi muda dari berbagai latar belakang (suku, adat, ras, agama) untuk meningkatkan kemampuan dan memperbaiki masa depan. Akses pendidikan tinggi ini dikelola secara adil dan proses pembelajaran berlangsung secara bermutu, atau PAIKEMHUBKAN – Produktif, Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Humanis, Bermakna, Kasih Sayang (Prof. Dr. Hasmiyati dan Prof. Dr. Haedar Akib, https://tribunboneonline.com/2026/07/03/makna-perjalanan-hidup-dari-rumah-persahabatan-ke-rumah-tuhan/) sehingga universitas menjadi jembatan yang menghubungkan potensi dengan kesempatan.
Komitmen menjadikan tema Dies Natalis UNM saat ini sebagai gerakan terlihat melalui ketangguhan yang dibangun berdasarkan tata kelola universitas yang baik (Good University governance/ GUG), adaptif, dan berintegritas. UNM memperkuat pelayanan akademik digital melalui SYAM-OK (System and Application Management Open Knowledge), transparansi, akuntabilitas, perlindungan data, dan pengambilan keputusan berbasis bukti. Teknologinya memudahkan sivitas akademika (Dosen, mahasiswa) atau warga kampus menghilangkan jarak antara kampus dan warga masyarakat di sekitarnya.
Inovasi UNM dimulai dari ruang-ruang pembelajaran dimana Dosen tidak sekedar selaku penyampai materi karena mahasiswa dapat memperoleh data, informasi dan pengetahuan dari berbagai sumber, melainkan telah diperkuat perannnya sebagai perancang pengalaman belajar, pembimbing nalar kritis (High Order Thinking Skill/ HOTS), penjaga etika-estetika-kinestetika akademik, serta penghubung antara teori dan kenyataan. Pemanfaatan kecerdasan artifisialnya diarahkan untuk memperkaya khazanah pembelajaran, penelitian, dan pengabdian (program kemitraan masyarakat/ PKM) bukan menggantikan proses berpikir dan berzikir.
Penelitian di UNM bergerak dari orientasi administratif menuju pemecahan masalah, istilahnya ”penelitian berdampak”. Publikasi berdasarkan hasil penelitian semakin penting dan bermakna karena digunakan untuk memperbaiki kebijakan, meningkatkan kualitas sekolah, memberdayakan usaha lokal, memperkuat pelayanan publik, atau melindungi kelompok rentan. Sementara itu, pengabdian kepada masyarakat atau PKM dilaksanakan secara berkelanjutan pada skala lokal, regional, nasional, dan internasional dimana masyarakat diposisikan sebagai lokasi kegiatan sekaligus mitra yang memiliki pengetahuan, skill, pengalaman, dan kebutuhan. PKM ini dirancang bersama masyarakat, dipantau hasilnya, dan dilanjutkan sampai masyarakat mampu mengembangkan solusi secara mandiri. Keberhasilan universitas dibaca melalui jejak kegiatan sivitas akademika dan alumninya. Hubungan dengan alumni tidak berhenti pada kegiatan seremonial melainkan dilibatkan sebagai mentor, mitra penelitian dan PKM, penyedia pengalaman profesional, pemberi masukan bagi kurikulum, serta penghubung antara kampus dan kebutuhan dunia kerja dan industri.
***
Masa pengabdian 65 tahun UNM merupakan usia kematangan yang tumbuh dari lembaga pendidikan guru menjadi universitas dengan mandat diperluas. Akar histrorisnya sebagai sumber kekuatan untuk kebanggaan masa depan UNM tidak ditentukan oleh seberapa jauh meninggalkan identitas IKIP, melainkan pada seberapa cerdas mengembangkan identitas dan motto ”Tetap Jaya Dalam Tantangan” yang relevan dengan perubahan zaman. “Tangguh, Inovatif, Berdampak” hadir secara simultan dalam proses kebijakan, pembelajaran, penelitian, pelayanan, dan perilaku sehari-hari warga kampus. Oleh karena itu, enam puluh lima tahun mengabdi bukanlah titik akhir, melainkan janji yang diperbarui untuk tetap menjadi rumah bagi para pendidik dan ahli, pusat Ipteks yang membumi, dan kekuatan moral yang ikut membangun manusia Indonesia. Di Kota Makassar, Parepare, Bone, (kampus) UNM hadir menyalakan obor Ipteks, memperluas kesempatan, dan menghadirkan manfaat (berdampak) bagi negeri.








