BONE, TRIBUNBONEONLINE.COM–Sebanyak 132 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bone mengikuti kegiatan Lokakarya Film Dokumenter dan Diskusi Publik Ritus Makkatte dalam Bingkai Kebudayaan, Kesehatan, dan Keagamaan sebagai Upaya Pelestarian Tradisi di Daerah Bone yang dilaksanakan pada Sabtu, Juli 2026. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus dialog lintas disiplin untuk membahas salah satu warisan budaya masyarakat Bugis Bone melalui perspektif kebudayaan, kesehatan, dan keagamaan.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, yakni praktisi budaya, penyuluh agama Islam, dan tokoh adat, sehingga peserta memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai makna dan eksistensi ritus Makkatte di tengah perkembangan masyarakat modern. Selain diskusi publik, kegiatan juga dirangkaikan dengan pemutaran film dokumenter Makkatte yang mengangkat nilai-nilai filosofis, sejarah, serta dinamika tradisi tersebut dalam kehidupan masyarakat Bugis Bone.
Ketua Pelaksana kegiatan, Bungatang, S.S., M.Hum., dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi ataupun membenarkan suatu praktik budaya. Menurutnya, lokakarya dan diskusi publik ini merupakan bentuk pelestarian budaya melalui pendekatan akademik yang mengedepankan dialog dan pemahaman yang utuh.
“Kegiatan yang kita laksanakan hari ini bukan bertujuan untuk menghakimi ataupun membenarkan suatu praktik budaya. Sebaliknya, kegiatan ini merupakan upaya mendokumentasikan, mengkaji, dan memahami Makkatte secara utuh sebagai warisan budaya masyarakat Bugis. Melalui film dokumenter, diskusi publik, dan lokakarya, kita ingin menghadirkan narasi yang lebih komprehensif mengenai nilai-nilai yang hidup di balik ritual tersebut, sehingga masyarakat dapat melihatnya tidak hanya dari satu perspektif, melainkan dari sudut pandang budaya, agama, dan kesehatan secara seimbang,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pelestarian budaya saat ini memerlukan pendekatan yang reflektif dan kolaboratif, sehingga tradisi lokal tetap dapat diwariskan kepada generasi muda tanpa mengabaikan perkembangan ilmu pengetahuan, kesehatan, dan nilai-nilai keagamaan.
Sementara itu, Fitriansal, S.Pd., M.Pd., selaku sutradara film dokumenter sekaligus dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (FBS UNM), menjelaskan bahwa film dokumenter yang ditayangkan diharapkan mampu membuka ruang refleksi bagi generasi muda mengenai makna sesungguhnya dari ritus Makkatte.
“Pemutaran Film Dokumenter Makkatte mampu memantik generasi muda untuk membincangkan kembali esensi Makkatte. Selama ini masih banyak generasi yang melaksanakan Makkatte hanya sebagai tradisi tanpa memahami makna yang terkandung di dalamnya. Lokakarya ini menjadi ruang untuk membuka wawasan mengenai esensi tradisi dalam kehidupan masyarakat saat ini,” ungkapnya.
Dalam sesi diskusi, Ita Rosvita, S.S., M.Hum., praktisi budaya sekaligus dosen FBS UNM, mengangkat tema Posisi Perempuan dalam Budaya Bugis. Ia menjelaskan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam pewarisan nilai-nilai budaya dan tradisi masyarakat Bugis.
“Sebagai pembicara yang mengangkat tema Posisi Perempuan dalam Budaya Bugis, saya memandang bahwa perempuan merupakan aktor penting dalam pewarisan nilai-nilai budaya, termasuk dalam berbagai ritus adat yang hidup di masyarakat. Karena itu, pembahasan mengenai ritus Makkatte perlu dilihat secara menyeluruh dengan mempertimbangkan aspek kebudayaan, kesehatan, dan keimanan, tanpa menghilangkan ruang dialog yang kritis dan konstruktif. Melalui forum seperti ini, kita dapat membangun pemahaman bersama bahwa pelestarian tradisi tidak hanya berorientasi pada mempertahankan praktik budaya, tetapi juga memastikan tradisi tersebut tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, penghormatan terhadap hak-hak perempuan, serta nilai-nilai yang dianut masyarakat saat ini,” jelasnya.
Perspektif keagamaan disampaikan oleh Fatma Utami Jauharoh, S.Th.I, Penyuluh Agama Islam Fungsional Kementerian Agama Kabupaten Bone. Ia menekankan pentingnya melihat substansi budaya secara utuh dan tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap suatu tradisi.
Menurutnya, Makkatte secara substansial mengandung nilai-nilai luhur dan kearifan lokal masyarakat Bugis Bone, khususnya dalam penghormatan terhadap perempuan. Ia menjelaskan bahwa tradisi tersebut dapat terus dilestarikan selama tidak membahayakan keselamatan jiwa, tidak menimbulkan trauma, maupun mencederai fisik. Fatma juga menegaskan bahwa akulturasi budaya dan agama merupakan sesuatu yang dapat dipertahankan selama selaras dengan prinsip-prinsip ajaran Islam, sehingga masyarakat perlu menilai tradisi berdasarkan substansi nilai yang dikandungnya secara komprehensif.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai posisi Makkatte dalam masyarakat modern, keterkaitannya dengan kesehatan reproduksi, hingga bagaimana generasi muda dapat mengambil peran dalam pelestarian budaya lokal.
Salah seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bone mengaku memperoleh perspektif baru setelah mengikuti kegiatan tersebut.
“Kegiatan ini luar biasa bagi kami sebagai mahasiswa. Di tengah perkembangan zaman, khususnya bagi Generasi Z, kami merasa sangat perlu mendapatkan pemahaman mengenai kebudayaan lokal di Kabupaten Bone. Melalui kegiatan ini kami tidak hanya mengenal tradisi, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dari sudut pandang budaya, agama, dan kesehatan,” tuturnya.
Melalui lokakarya film dokumenter dan diskusi publik ini, penyelenggara berharap lahir kesadaran kolektif untuk menjaga warisan budaya Bugis Bone secara bijaksana. Dokumentasi audiovisual yang dihasilkan diharapkan menjadi arsip budaya sekaligus media edukasi bagi masyarakat luas, sehingga ritus Makkatte dapat terus dipahami sebagai bagian dari identitas budaya yang kaya makna dan tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kesehatan, serta nilai-nilai keagamaan di era modern. (*)







