Refleksi Fajar 1448 Hijriah: Menata Jiwa, Mengasah Perangai, Menjemput Keberkahan

oleh -44 x dibaca
Dr. Muhammad Asriady, M.Th.I

Oleh : Dr.H.Muhamamd Asriady, M.Th.I.

Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung Bone

Pergantian tahun dalam kalender Hijriah bukan sekadar perubahan angka pada kalender, melainkan sebuah jeda kosmik yang Tuhan berikan agar kita sejenak berhenti, menarik napas dalam-dalam, dan menengok ke dalam rumah besar bernama “diri kita sendiri”.

Memasuki tahun 1448 Hijriah, kita semua membawa harapan yang sama: menjadi pribadi yang lebih cerdas (smart), meraih kesuksesan yang sejati, dan yang terpenting, memeluk keberkahan dalam setiap embusan napas dan langkah kaki. Namun, jalan menuju ke sana tidak pernah dibangun di atas fondasi yang rapuh. Ia menuntut sebuah keberanian besar untuk melirik ke belakang, mengenang setiap noktah perbuatan di masa lalu, demi merajut kain masa depan yang lebih putih dan bersih.

Sebuah pesan luhur yang tak lekang oleh zaman kembali bergema di telinga kita:

Hasibu anfusakum qobla an tuhasabu

(Nilailah dirimu sendiri sebelum engkau dinilai (oleh Allah Swt. di hari kemudian)

Pesan ini adalah sebuah tamparan lembut sekaligus navigasi spiritual yang mengingatkan kita untuk selalulah memandang ke dalam diri sebelum kita memberikan komentar keluar. Di era digital dan media sosial saat ini, kita diperhadapkan dengan realitas sosial yang ironis: kita begitu gampang memberikan komentar, sekaligus begitu gampang tersinggung.

BACA JUGA:  SUKSESI KEPALA DAERAH DALAM PERSPEKTIF AKADEMISI DAN AGAMA

Jempol dan lisan kita bergerak lebih cepat daripada ruang cerna di dalam kepala. Kita mahir menjadi hakim bagi hidup orang lain, namun sering kali buta terhadap cacat di dalam dada sendiri. Ego yang tinggi tanpa dipayungi kesiapan mental yang matang membuat kita rapuh. Ketika kita tidak siap dikritik tetapi paling depan dalam menghujat, di situlah kita sedang kehilangan berkah hidup.

Oleh karena itu, refleksi terbaik di tahun 1448 Hijriah ini adalah membalik arah kompas perhatian kita. Kurangi melihat keluar, perbanyak melihat ke dalam. Sebelum menilai urusan orang lain, tanyakan pada diri sendiri: “Sudahkah perbuatanku hari ini mendatangkan manfaat?”

Tiga Pilar Pribadi Baru di Tahun 1448 Hijriah

BACA JUGA:  Ketika Diplomasi MBG Perintah dari Langit 

Untuk bertumbuh menjadi pribadi yang sukses dan berkah, mari kita canangkan tiga resolusi batin yang akan menjaga kompas moral dan spiritual kita sepanjang tahun ini:

Anggun Perangainya (Good Character)

Keanggunan seorang Muslim tidak terletak pada kemewahan pakaiannya atau tingginya jabatan, melainkan pada kematangan akhlaknya. Menjadi anggun berarti mampu mengendalikan diri saat amarah memuncak, tetap membumi saat berada di puncak kesuksesan, dan memiliki ketangguhan mental (mental resilience) dalam menghadapi dinamika hidup tanpa harus kehilangan jati diri yang mulia.

Santun Kata-Katanya (Gentle Speech)

Lisan adalah pemantul isi hati. Di tahun yang baru ini, mari kita latih lisan dan jempol kita untuk hanya melahirkan untaian kata yang menyejukkan, membangun, dan mendamaikan. Jika tidak mampu memberikan komentar yang baik atau solutif, maka pilihan terbaik yang diajarkan oleh baginda Nabi Muhammad saw. adalah diam. Kesantunan kata adalah separuh dari keindahan iman.

Baik Prasangkanya (Husnuzan)

Dunia akan terlihat sangat melelahkan jika kita selalu memandangnya dengan kacamata kecurigaan. Bersih hati dimulai dari bersihnya prasangka (husnuzan) baik kepada ketetapan Allah, maupun kepada sesama manusia. Ketika kita membiasakan diri berprasangka baik kepada siapa pun, energi positif akan mengalir dalam hidup kita, menjauhkan penyakit hati, dan melapangkan jalan datangnya rezeki serta keberkahan.

BACA JUGA:  “Learning To Be(come)”, Mengokohkan (3/4) Pilar Pendidikan Dunia

Menjemput Keberkahan Masa Depan

Masa lalu telah pergi dengan segala ceritanya; ia adalah guru yang berharga. Masa depan di tahun 1448 Hijriah ini adalah lembaran putih yang menanti guratan-guratan emas dari amal saleh kita.

Mari kita jadikan tahun baru ini sebagai momentum untuk melakukan migrasi spiritual (hijrah). Dari pribadi yang gemar menghakimi menjadi pribadi yang gemar memperbaiki diri. Dari jiwa yang rapuh dan mudah tersinggung menjadi jiwa yang kokoh, bijaksana, dan penuh kasih sayang.

Selamat menyambut dan menjalani tahun 1448 Hijriah. Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing langkah kita, menjernihkan hati kita, dan menjadikan kita pribadi yang lebih smart, sukses, serta dipenuhi keberkahan yang melimpah. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.