Menghayati Haji Wada’ dan Melangkah Pulang ke Tanah Bugis

oleh -79 x dibaca

Oleh: Dr.H.Muhammad Asriady, S.Hd.,M.Th.I.,CPSM.

Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung Bone.

Tanah suci memiliki rahasia tersendiri dalam menggetarkan jiwa. Namun, tidak ada momen yang lebih menguras air mata selain saat kaki harus melangkah menjauh, dan mata harus menatap untuk terakhir kalinya kemegahan Baitullah.

Rasulullah SAW melakukan Haji Wada’ (Haji Perpisahan) sebagai momentum monumental ketika beliau menyampaikan khutbah terakhir yang menggetarkan para sahabat, sekaligus menjadi isyarat bahwa tugas suci beliau di dunia akan segera usai.

Kini, ribuan tahun setelah peristiwa itu, getaran kesedihan yang sama merayap di dada setiap jemaah yang bersiap melakukan Thawaf Wada’.

Selamat Jalan Baitullah

Selamat Jalan Baitullah di Masjidil Haram. Semoga Panggilan itu kembali hadir dan kami doakan saudara, keluarga, serta kerabat yang belum ke sini, engkau undang yaa Rabbana. Aamiin.

BACA JUGA:  PENGAKUAN PALESTINA, ILUSI KEDAULATAN DALAM SISTEM SEKULAR

 

Meninggalkan Makkatul Mukarramah bukan perkara mudah. Berpisah secara fisik dengan Ka’bah adalah sebuah kesedihan yang mendalam. Namun, melangkah pergi bukan berarti melupakan. Biarlah jasad ini bergerak pulang menyeberangi samudra menuju Tanah Bugis, namun getaran spiritual dan kesucian Baitullah harus tetap hidup, mengakar, dan hadir di dalam batin setiap saat.

Terimakasih Anregurutta atas amanah yang dititipkan. Terimakasih Guruku atas segala bimbingan, kesabaran, dan ilmu yang dicurahkan selama kami menunaikan rukun demi rukun.

Terimakasih atas pelayanan, fasilitas, dan kemudahan yang diberikan kepada para tamu Allah.

BACA JUGA:  MENGINTIP ‘DAPUR’ KEUANGAN BANK SYARIAH INDONESIA: Ini Rasio-Rasio Kunci Penjaga Likuiditas Bank

Terimakasih atas kebersamaan, rasa kekeluargaan, dan pengawalan yang luar biasa hingga ibadah ini terasa begitu khusyuk dan bermakna terkhusus Haji Barokah Indonesia.

Ada Filosofi Spiritual Bugis Menyatukan Baitullah di Jiwa

Bagi jemaah yang berasal dari Tanah Bugis, perpisahan fisik ini melahirkan sebuah perenungan spiritual yang mendalam, sebagaimana falsafah yang luhur:

“Ripasseddi baitullae ri marajae sibawa baitullae ri lanro aleta.”

(Menyatukan Baitullah yang agung di Makkah dengan Baitullah yang ada di dalam rancang bangun diri/hati kita)

Sebab, haji yang mabrur tidak berhenti ketika kita keluar dari pintu Masjidil Haram. Haji yang sesungguhnya baru dimulai saat kita kembali ke tengah masyarakat. Rumah Allah yang agung di sana, kini harus mewujud dalam “Baitullah” di dalam dada sebuah hati yang bersih, penuh kasih, dan senantiasa terpaut pada syariat-Nya.

BACA JUGA:  Ketika Diplomasi MBG Perintah dari Langit 

Kita pulang tidak dengan tangan kosong. Kita pulang membawa harapan besar, membawa sepotong surga yang kita rasakan di pelataran Ka’bah, di hamparan Arafah, dan di keheningan Muzdalifah.

Semoga Allah SWT menerima setiap jengkal lelah kita, mengampuni segala dosa, dan menganugerahkan predikat “Mabrur Al Ilahiyatul Wahid” kemabruran sejati yang bersumber dan bermuara hanya kepada Allah Yang Maha Esa.

Sampai jumpa lagi, ya Baitullah. Izinkan kami dan seluruh keluarga kami kembali bersujud di pelataranmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.