Eco-Anxiety: Mengapa Berkembang Biak Kini Terasa Berdosa?

oleh -419 x dibaca
Arisnawawi, S.Sos, M.Si

Oleh: Arisnawawi, S.Sos., M.Si. 

(Dosen Sosiologi, Universitas Negeri Makassar)

 

Langit tidak lagi sekadar menghadirkan harapan bagi sebagian generasi muda hari ini. Di tengah meningkatnya suhu bumi, cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, serta berbagai peringatan ilmiah mengenai perubahan iklim, masa depan kerap dibayangkan dengan nada yang lebih cemas daripada optimistis. Dalam konteks inilah muncul fenomena yang dikenal sebagai eco-anxiety atau kecemasan ekologis.

 

Laporan iklim global menunjukkan bahwa tahun 2024 menjadi salah satu periode terpanas dalam 175 tahun sejarah observasi dengan kenaikan suhu global rata-rata mencapai 1,55°C. Kenaikan suhu yang semakin mendekati ambang batas yang ditetapkan dalam Kesepakatan Paris memperkuat kekhawatiran bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung. Dampaknya tidak hanya terlihat pada lingkungan, tetapi juga mulai memengaruhi cara manusia memandang kehidupan, keluarga, dan masa depan.

 

Di berbagai ruang diskusi anak muda belakangan ini yang saya ikuti, pertanyaan mengenai pekerjaan, pendidikan, dan pernikahan kini sering disertai pertanyaan lain yang tidak kalah mendasar, “apakah dunia yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya masih cukup aman untuk ditinggali?” Kecemasan ekologis lahir dari kegelisahan ini.

 

Fenomena ini tidak dapat semata-mata dipahami sebagai persoalan psikologis individual. Dalam banyak kasus, eco-anxiety merupakan respons terhadap kondisi sosial dan ekologis yang dirasakan nyata. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya kekhawatiran terhadap perubahan iklim turut memengaruhi keputusan reproduksi. Salah satunya adalah penelitian yang diterbitkan dalam Frontiers in Public Health (2025) yang menemukan bahwa individu dengan tingkat kecemasan iklim yang tinggi cenderung lebih ragu atau bahkan tidak berencana memiliki anak dari British Columbia, Kanada.

BACA JUGA:  Investasi Masa Depan Demokrasi di Sulsel lewat Pilketos  Serentak di SLTA Se-Sulawesi Selatan

 

Sekitar 32,9 persen partisipan secara tegas menyatakan tidak berencana memiliki anak, dan angka stres iklim mereka jauh melampaui kelompok yang masih ingin bereproduksi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa isu iklim telah memasuki ranah yang sangat personal. Jika dahulu keputusan memiliki anak lebih banyak dipengaruhi pertimbangan budaya, agama, ekonomi, dan keluarga, kini pertimbangan ekologis mulai menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan.

 

Perubahan ini dapat dibaca melalui perspektif modernitas refleksif sebagaimana dikemukakan oleh sosiolog Anthony Giddens. Dalam masyarakat modern, individu tidak lagi sekadar mengikuti norma yang diwariskan, melainkan terus-menerus menilai ulang pilihan hidup mereka berdasarkan berbagai risiko yang dihadapi. Krisis iklim menjadi salah satu risiko global yang membentuk proses refleksi tersebut.

 

Dari situ muncul fenomena yang sering disebut eco-childfree, yakni keputusan untuk tidak memiliki anak dengan pertimbangan lingkungan. Bagi sebagian orang, pilihan ini didasarkan pada kekhawatiran mengenai kualitas hidup generasi mendatang. Bagi yang lain, keputusan tersebut merupakan upaya untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan melalui pengurangan konsumsi dan emisi jangka panjang.

 

Namun, diskursus mengenai eco-childfree sering kali terjebak dalam penilaian yang terlalu sederhana. Mereka yang memilih tidak memiliki anak kerap dianggap egois atau tidak berkontribusi terhadap masa depan bangsa. Di sisi lain, mereka yang memilih memiliki anak juga tidak dapat begitu saja dianggap mengabaikan persoalan lingkungan. Kedua pilihan tersebut sesungguhnya lahir dari pertimbangan moral yang kompleks dan layak dipahami secara lebih proporsional.

BACA JUGA:  Selat Hormuz: Jembatan Ekonomi Global vs Titik Didih Dunia

 

Dalam konteks kebijakan publik, persoalannya menjadi semakin rumit. Banyak negara saat ini menghadapi kekhawatiran mengenai penurunan angka kelahiran dan menyusutnya populasi usia produktif. Pada saat yang sama, dunia juga berhadapan dengan krisis ekologis yang menuntut perubahan pola pembangunan. Ketegangan antara kebutuhan demografis dan keberlanjutan lingkungan menjadi tantangan yang semakin nyata.

 

Perdebatan ini juga relevan bagi Indonesia. Di tengah kuatnya nilai keluarga dan pandangan yang menempatkan reproduksi sebagai bagian penting dari kehidupan sosial, pilihan untuk tidak memiliki anak masih sering dipandang sebagai penyimpangan dari norma yang berlaku. Perempuan khususnya menghadapi tekanan sosial yang lebih besar karena keputusan tersebut kerap dikaitkan dengan peran tradisional yang dilekatkan kepada mereka.

 

Padahal, persoalan utamanya bukan terletak pada pilihan individu semata, melainkan pada kondisi sosial yang membentuk pilihan itu. Ketika banjir, kekeringan, gelombang panas, dan berbagai bentuk cuaca ekstrem semakin sering terjadi, sebagian generasi muda mempertanyakan kesiapan masyarakat dalam menjamin masa depan yang layak bagi anak-anak yang akan lahir.

 

Karena itu, meningkatnya kecemasan ekologis seharusnya dibaca sebagai sinyal sosial yang penting. Fenomena ini menunjukkan adanya krisis kepercayaan terhadap kemampuan institusi dan pemerintah dalam menghadapi perubahan iklim. Ketika masa depan dipandang penuh ketidakpastian, keputusan untuk memiliki anak tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang otomatis.

BACA JUGA:  Pertukaran Hampers Saat Berbuka Puasa: Antara Nilai Silaturahim dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

 

Dampaknya tentu tidak dapat diabaikan. Dalam jangka panjang, perubahan preferensi reproduksi dapat memengaruhi struktur demografi, pasar tenaga kerja, hingga sistem perlindungan sosial. Namun, menyalahkan individu yang mengalami kecemasan bukanlah solusi. Yang lebih mendesak adalah membangun kebijakan yang mampu memperkuat ketahanan ekologis sekaligus menghadirkan rasa aman bagi masyarakat.

 

Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai kolektif yang menekankan tanggung jawab bersama terhadap lingkungan. Dalam tradisi Bugis-Makassar, misalnya, terdapat nilai sipakainge, yaitu saling mengingatkan untuk menjaga keseimbangan kehidupan. Nilai semacam ini dapat menjadi landasan etis dalam menghadapi tantangan ekologis yang semakin kompleks.

 

Pada akhirnya, kecemasan ekologis bukan sekadar cerita tentang ketakutan generasi muda. Ia adalah cermin yang memperlihatkan bagaimana krisis lingkungan telah mengubah cara manusia membayangkan masa depan. Keputusan untuk memiliki atau tidak memiliki anak memang merupakan hak personal. Namun, ketika semakin banyak orang meragukan masa depan dunia yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya, persoalan tersebut tidak lagi sepenuhnya bersifat pribadi.

 

Tugas kita bukan menghakimi pilihan mereka, melainkan memastikan bahwa generasi mendatang memiliki alasan untuk percaya bahwa bumi masih layak dihuni. Sebab keberanian untuk menghadirkan kehidupan baru pada akhirnya lahir dari keyakinan bahwa masa depan menawarkan harapan, bukan sekadar kecemasan. Tanpa jaminan itu, “berkembang biak” akan terus terasa seperti sebuah tindakan yang tidak bertanggung jawab, atau dalam bahasa kegelisahan generasi hari ini “terasa seperti berdosa”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.