“Ketika Keringat Menjadi Zikir”: Dimensi Spiritual Berolahraga

oleh -250 x dibaca
Prof. Dr. Hj. Hasmiyati, M.Kes - Prof. Dr. H. Haedar Akib

Oleh:

Prof. Dr. Hj. Hasmiyati, M.Kes., Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaam dan Kesehatan (FIKK) periode 2018-2026 Universitas Negeri Makassar.

Prof. Dr. H. Haedar Akib, Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Makassar (UNM), Dosen Program Pascasarjana Universitas Puangrimaggalatung (UNIPRIMA) Sengkang.

Ada satu pengalaman tubuh kita yang sampai hari ini sulit dilupakan ketika berada di Masjidil Haram melaksanakan tawaf mengelilingi Ka‘bah. Bagi sebagian orang tawaf mungkin terlihat seperti gerakan berjalan melingkar, namun bagi jamaah yang mengalaminya sendiri tawaf bukan sekadar gerak fisik melainkan “pengalaman diri total” dimana tubuh bergerak, hati bergetar, lisan berzikir, pikiran menunduk, dan jiwa seperti sedang ditarik mendekat kepada pusat kepasrahan. Teringat langkah kaki terasa sebagai gabungan antara lelah, haru, kagum, dan rindu, terlebih ketika mengambil putaran bagian terluar di lantai atas Masjidil Haram jarak tempuh menjadi lebih panjang, napas lebih teruji, kaki lebih bekerja, tetapi hati justru terasa lebih lapang. Disadari bahwa ibadah ternyata tidak selalu hadir dalam bentuk diam, karena juga dapat hadir dalam gerak mengambil bentuk jalan panjang, putaran berulang, keringat yang jatuh, napas yang naik turun, dan otot yang perlahan menegang. Tawaf mengajarkan gerak tubuh sebagai bahasa spiritual ketika kita tidak hanya berdoa dengan lisan, melainkan berdoa dengan langkah kaki dimana tidak hanya bersujud dengan kening tetapi juga merendahkan diri melalui ketekunan tubuh dalam menempuh jarak.

***

Pengalaman spiritual terasa ketika melaksanakan sa’i dari Bukit Safa ke Marwah. Sa’i merupakan perjalanan bolak-balik yang secara fisik melelahkan tetapi secara batin sangat menghidupkan karena mengingatkan manusia kepada perjuangan Siti Hajar, seorang ibu yang berlari mencari air untuk anaknya. Di sana, gerak bukan sekadar aktivitas jasmani melainkan simbol ikhtiar, cinta, keteguhan, dan harapan. Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 158 menyebut Safa dan Marwah sebagai bagian dari syiar Allah dimana orang yang berhaji atau berumrah diperkenankan berjalan di antara keduanya sebagai bagian dari ibadah.

Dari pengalaman tawaf dan sa’i, penulis mulai membaca ulang makna olahraga. Selama ini olahraga sering dipahami secara terbatas sebagai aktivitas untuk membakar kalori, menjaga kebugaran, menurunkan berat badan, atau memperkuat otot. Pemahaman itu tentu tidak keliru, namun olahraga sebenarnya memiliki dimensi yang lebih dalam, bukan hanya urusan tubuh melainkan pula urusan jiwa, bukan hanya tentang stamina melainkan pula tentang disiplin, dan bukan hanya tentang kekuatan fisik melainkan pula tentang ketahanan batin. Dimensi spiritual berolahraga adalah kesadaran bahwa aktivitas fisik dapat menjadi jalan untuk merawat amanah Tuhan, mendidik jiwa, mengendalikan ego, dan membangun hubungan yang lebih jujur antara manusia, tubuh, alam, dan Sang Pencipta. Olahraga tidak berhenti pada aktivitas jasmani, melainkan pula sebagai ruang kontemplasi. Ketika seseorang berjalan pagi, berlari, berenang, bersepeda, bermain bola, mendaki, atau sekadar melakukan peregangan, sesungguhnya sedang berdialog dengan tubuhnya sendiri.

BACA JUGA:  Pembelajaran Siklus Kehidupan dalam Pengelolaan Limbah Domestik: Materi Ujian Promosi Doktor Kartika Karim Kasim

Tubuh bukan benda mati melainkan titipan yang menyimpan tanda-tanda (’ayat nafsiyah’) kebesaran Tuhan. Detak jantung, irama napas, gerak sendi, keseimbangan otot dan kemampuan manusia untuk pulih setelah lelah merupakan keajaiban yang sering dianggap biasa. Ketika olahraga dilakukan dengan kesadaran spiritual maka seseorang tidak lagi memandang tubuh sebagai alat pemuas ambisi tetapi sebagai amanah yang dirawat atau olahraga bermakna ibadah sosial dan personal sekaligus.

Dalam ajaran Islam, kekuatan bukanlah sesuatu yang tercela. Rasulullah Muhammad SAW menegaskan bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya tetap terdapat kebaikan. Hadis ini sering dipahami bukan hanya dalam arti kekuatan fisik melainkan pula kekuatan iman, mental, ilmu, moral, dan kemauan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat (Sahih Muslim, 2664). Dengan demikian, menjaga kebugaran tubuh merupakan bagian dari upaya menjadi pribadi yang lebih siap beribadah, bekerja, melayani, dan memberi manfaat. Al-Qur’an memberi pesan penting tentang kapasitas manusia dimana Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (Al-Baqarah ayat 286). Ayat ini memberi inspirasi dalam berolahraga dimana manusia perlu bergerak, berusaha, dan melatih diri tetapi tidak boleh merusak tubuh dengan ambisi yang melampaui batas. Olahraga yang berdimensi spiritual bukan yang memaksakan diri demi gengsi, melainkan olahraga yang mengenal batas, bertahap, konsisten, dan penuh kesyukuran.

Olahraga yang berdimensi spiritual penting dipraktekkan karena manusia modern sering mengalami keterbelahan antara tubuh dan jiwa. Banyak orang mengejar produktivitas tetapi lupa merawat kesehatan, sibuk bekerja tetapi kehilangan waktu untuk bernapas secara sadar, ingin terlihat kuat di luar tetapi rapuh di dalam. Oleh karena itu, olahraga merupakan ruang pemulihan dari keterbelahan itu, mengembalikan manusia kepada ritme dasar kehidupan untuk bergerak, bernapas, berkeringat, beristirahat, lalu bangkit kembali.

Di tengah kehidupan yang penuh tekanan, olahraga dapat menjadi bentuk ”zikir tubuh.” Saat kaki melangkah seseorang mengingat tentang hidup sebagai perjalanan. Saat napas terasa berat akan belajar tentang keberhasilan yang membutuhkan kesabaran. Saat tubuh mulai lelah akan belajar rendah hati tentang diri manusia yang memiliki batas dan keterbatasan rasionalitas (’bounded rationality’) menurut Herbert A. Simon dalam bukunya Administrative Behavior. Saat berhasil menyelesaikan satu putaran, satu kilometer, atau satu sesi latihan manusia belajar bersyukur atas kemampuan kecil yang sering luput dihargai.

BACA JUGA:  Pertumbuhan Ekonomi Islam di Bumi Pertiwi: Ke Mana Arahnya Saat Ini?

Ajaran agama lain pun memberikan penguatan yang sejalan. Dalam tradisi Kristen, Corinthians (6: 19-20) dinyatakan, tubuh dipandang sebagai bait Roh Kudus sehingga manusia diajak memuliakan Tuhan melalui tubuhnya (reminds believers that their bodies are temples of the Holy Spirit). Pesan ini menunjukkan bahwa tubuh kita memiliki nilai sakral, bukan sekadar wadah biologis. Dalam tradisi Hindu, Bhagavad Gita mengajarkan pentingnya keteraturan dalam makan, rekreasi, kerja, tidur, dan bangun sebagai jalan menuju keseimbangan hidup (Swami Adidevananda). Sedangkan dalam tradisi Buddha, Dhammapada menempatkan kesehatan sebagai salah satu anugerah terbesar dan kepuasan batin sebagai kekayaan yang utama (Sukha Vagga, dalam bab Happiness oleh Acharya Buddharakkhita). Titik temu dari berbagai ajaran tersebut adalah tubuh perlu dirawat bukan dieksploitasi, dilatih bukan disiksa, disyukuri bukan diabaikan. Olahraga yang dilakukan dengan kesadaran spiritual membantu manusia keluar dari sekadar budaya penampilan.

Hari ini, olahraga kadang berubah menjadi panggung citra, tubuh ideal, pakaian mahal, dokumentasi media sosial, jumlah langkah, jumlah kalori, atau capaian fisik yang dipamerkan. Semua itu tidak selalu salah tetapi kehilangan kedalaman bila tidak disertai kesadaran batin. Dengan kata lain, olahraga spiritual mengajarkan hal yang penting bukan hanya seberapa jauh seseorang berlari tetapi seberapa jujur mengenali dirinya, bukan hanya seberapa berat beban yang diangkat tetapi seberapa kuat mengangkat kemalasan, bukan hanya seberapa cepat sampai tetapi seberapa sabar menjalani proses, dan bukan hanya seberapa indah tubuh terlihat tetapi seberapa sehat tubuh digunakan (”sambil menutup aurat”) untuk berbuat baik.

Dimensi spiritual dalam olahraga dimulai dengan niat. Dalam Islam, niat menjadi fondasi amal. Berolahraga diniatkan untuk menjaga amanah tubuh, memperkuat ibadah, meningkatkan kualitas kerja, memperpanjang kebermanfaatan, dan menjaga diri dari penyakit. Dengan niat seperti ini, aktivitas fisik tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi sebagai bagian dari pengabdian. Kemudian, menghadirkan kesadaran dalam gerak seperti ketika berjalan pagi dapat merasakan udara yang masuk ke paru-paru. Ketika berlari menyadari irama kaki yang menyentuh tanah, ketika bersepeda menikmati keseimbangan tubuh dan ruang, dan ketika berenang merasakan harmoni antara napas, air, dan gerakan. Kesadaran seperti ini membuat olahraga sebagai latihan perhatian yang mendidik manusia untuk hadir pada saat ini bukan terus-menerus dikejar masa lalu atau dicemaskan masa depan.

Olahraga yang baik bukan hanya tentang intensitas melainkan pula tentang keteraturan dan menjaga keseimbangan. Tubuh membutuhkan gerak sekaligus istirahat dan memerlukan tantangan sekaligus pemulihan. Dalam perspektif spiritual, keseimbangan merupakan bagian dari adab terhadap tubuh karena memaksa diri secara berlebihan hingga mencederai tubuh bukanlah keberanian melainkan kelalaian terhadap amanah dan latihan akhlak.

BACA JUGA:  Menakar Ulang Pilkada Dalam Tafsir Konstitusi dan Demokrasi Substansi (Bagian pertama)

Di lapangan, manusia belajar disiplin, sportivitas, kerja sama, pengendalian emosi, dan penerimaan terhadap kekalahan. Dalam olahraga, seseorang melihat karakter aslinya, apakah mudah marah, mudah menyerah, curang, sombong atau mampu menghargai orang lain. Dengan kata lain, olahraga merupakan madrasah akhlak karena menguji otot dan hati sekaligus. Olahraga juga berhubungan dengan kepedulian sosial karena tubuh yang sehat dapat membuat seseorang lebih mampu melayani diri, keluarga dan masyarakat. Seorang Dosen yang sehat dapat mengajar lebih baik, pemimpin yang bugar dapat mengambil keputusan lebih jernih, dan orang tua yang sehat dapat mendampingi anak-anaknya lebih lama. Demikian pula, pelayan publik yang kuat dan berpengalaman dapat melayani dirinya dan masyarakat secara lebih sabar sebagai investasi sosial.

Pengalaman tawaf dan sa’i memberi pelajaran mendalam mengenai gerak sebagai ibadah ketika dilakukan dengan kesadaran (iman). Tawaf mengajarkan orientasi hidup dimana semua bergerak mengelilingi pusat yang sama, yaitu Allah. Sa’i mengajarkan ikhtiar manusia bergerak, mencari, berusaha, dan tidak menyerah. Dalam dua ibadah itu, tubuh kita tidak dipinggirkan, melainkan justru dilibatkan sepenuhnya sebagai sarana mendekat kepada Tuhan. Dengan kata lain, ketika berolahraga kita sedang melanjutkan pelajaran spiritual itu dalam kehidupan sehari-hari. Setiap langkah sebagai doa, keringat sebagai syukur, rasa lelah sebagai pengingat bahwa manusia lemah tanpa pertolongan Tuhan, dan setiap keberhasilan kecil sebagai latihan rendah hati.

***

Dimensi spiritual berolahraga mengajak kita memahami bahwa kesehatan bukan sekadar keadaan bebas penyakit, melainkan pula kemampuan untuk hidup lebih bermakna. Tubuh yang sehat memberi ruang bagi jiwa untuk beribadah, berpikir, mencintai, bekerja, mengabdi, dan memberi manfaat. Berolahraga bukan hanya menjadi lebih kuat melainkan pula menjadi lebih sadar, bukan hanya agar umur panjang melainkan pula agar hidup lebih bernilai, bukan hanya agar tubuh bugar melainkan pula agar jiwa semakin dekat kepada sumber kehidupan. Tawaf, sa’i, dan olahraga sehari-hari bertemu pada satu pesan mengenai hidup sebagai gerak menuju Tuhan, bedanya hanyalah ruang dan bentuknya. Di Masjidil Haram, gerak itu bernama ibadah haji atau umrah. Di lapangan, di kolam renang, di pegunungan, atau di halaman rumah, gerak itu merupakan ibadah bila disertai niat, kesadaran, keseimbangan, dan syukur karena di sanalah olahraga menemukan dimensi spiritualnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.