Rekonstruksi Destinasi Wisata Toraja Berbasis “Tongkonan”

oleh -73 x dibaca
Dr. Rospita Napa, SE., MM - Prof. Haedar Akib

Oleh:

 Kandidat Dr. Rospita Napa, SE., MM., Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja (2020-2022).

 Prof. Haedar Akib, Anggota Senat Akademik Universitas Negeri Makassar (UNM), Dosen Program Pascasarjana Universitas Puangrimaggalatung (UNIPRIMA) Sengkang.

Pariwisata Toraja tidak pernah benar-benar kehilangan pesonanya karena menghadirkan imajinasi tentang rumah adat Tongkonan, ritual budaya, lanskap pegunungan, situs pemakaman tebing, ukiran, kerbau belang, kopi, serta keramahan masyarakat adat yang hidup dalam ikatan kekerabatan yang kuat. Toraja bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, melainkan pula ruang budaya yang menyimpan memori, nilai, dan pengalaman spiritual yang tidak mudah ditemukan di destinasi lain. Namun, di tengah perubahan perilaku wisatawan, percepatan digitalisasi, tuntutan kenyamanan layanan, dan kompetisi antar-destinasi menjadikan Toraja tidak hanya mengandalkan kemasyhuran masa lalu. Destinasi yang dikenal dunia tetap membutuhkan pembaruan cara kelola yang tidak mencabut akar budayanya, melainkan rekonstruksi (penataan ulang) yang menghidupkan kembali nilai-nilai lokal sebagai dasar pengembangan pariwisata masa depan, sebagaimana model strategi yang direkomendasikan oleh penulis (Rospita Napa) dalam disertasinya pada Program Doktor Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Makassar. Pertanyaan retorisnya bukan sekadar bagaimana “menjual” Toraja kepada wisatawan, melainkan pula bagaimana membangun ulang pariwisata Toraja agar tetap otentik, terintegrasi, berkelanjutan, dan menyejahterakan masyarakat lokal. Dalam konteks ini, konsep Tongkonan dijadikan sebagai basis filosofis sekaligus kerangka kerja strategis untuk membaca ulang masa depan destinasi wisata Toraja. Toraja direkontruksi berbasis akar budaya, bukan sekedar dipromosikan berbasis digital.

***

Rekonstruksi destinasi wisata Toraja tidak dimaknai sebagai mengganti wajah Toraja menjadi serba modern, melainkan menata kembali kekuatan utama Toraja agar lebih relevan dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan jati diri. Toraja tidak perlu menjadi Bali, Labuan Bajo, Yogyakarta, atau destinasi lain melainkan menjadi dirinya sendiri dengan tata kelola yang lebih rapi, layanan yang lebih baik, akses yang lebih mudah, narasi budaya yang lebih kuat, dan manfaat ekonomi kreatif yang lebih adil dan merata secara berkelanjutan.

Kekuatan utama Toraja selama ini berada pada atraksi budaya dan alam. Ritual adat seperti Rambu Solo’, Rambu Tuka’, Ma’Nene’, rumah adat Tongkonan, situs pemakaman batu, tau-tau, panorama pegunungan, kawasan Pango-Pango, Buntu Burake, Sarira dan Tebing Romantis, Lembah Ollon, termasuk Negri di Atas Awan menjadi bagian dari daya tarik yang khas. Akan tetapi, daya tarik yang kuat ini belum secara otomatis menghasilkan destinasi yang kuat karena membutuhkan sistem dan keterpaduan atau integrasi tata kelola antara komponen pengembangannya berupa atraksi, amenitas, aksesibilitas, akomodasi, ansilaritas (5A), kelembagaan, promosi, sumber daya manusia (SDM), dan pengalaman wisata.

BACA JUGA:  Kecekatan ”SINONA” Melayani Pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit

Rekonstruksi destinasi wisata Toraja berarti membangun sistem pariwisata yang tidak hanya indah dilihat, tetapi juga nyaman dikunjungi, mudah diakses, bermakna dialami, dan adil bagi semua, termasuk bagi masyarakat lokal. Rekomendasi yang dikenalkan oleh Rospita Napa berbasis akar budaya TONGKONAN merupakan model pengembangan pariwisata terintegrasi yang meliputi Transformative, Organized, Nature, Genuine, Kinship, Opportunity, Networking, Accessibility, dan Nostalgic. Konsep ini menempatkan Tongkonan bukan hanya sebagai rumah adat, tetapi sebagai paradigma tata kelola destinasi yang menyatukan budaya, sosial, ekonomi, lingkungan, kelembagaan, dan pengalaman wisata.

Alasan faktual yang mendasari urgensi model rekomendasi Rospita Napa, seperti halnya pendekatan strategi yang pernah diteliti oleh mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Toraja Utara, Kandidat Doktor Rede Roni Bare adalah karena ”pariwisata tanpa akar budaya akan kehilangan jiwa.” Oleh karena itu, destinasi wisata direkonstruksi atau ditata ulang minimal Sapta Pesona-nya. Sapta Pesona atau tujuh unsur utama sebagai landasan pengembangan dan pengelolaan destinasi wisata di Indonesia meliputi ”aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan.” (Rede Roni Bare, Haedar Akib, Anshari, Djamil Hasim, Akbar Mukmin. Competitive Advantage of Local Potential-Based Tourism Destinations: Evidence from Indonesia, PalArchs Journal of Archaeology of Egypt/Egyptology Vol. 17 No. 6 (2020), https://archives.palarch.nl/index.php/jae/article/view/9106.

Menurut Rospita Napa, Toraja direkonstruksi karena pariwisata budayanya menghadapi dilema besar. Di satu sisi, budaya menjadi daya tarik utama dan di sisi lain budaya terjebak menjadi komoditas jika hanya diperlakukan sebagai tontonan. Ritual adat yang sakral bisa kehilangan makna ketika hanya dibaca sebagai atraksi. Tongkonan bisa direduksi menjadi latar foto. Situs budaya bisa dipadati kunjungan, tetapi miskin penjelasan nilai karena wisatawan datang, berfoto, lalu pergi tanpa membawa pemahaman mendalam tentang filosofi hidup masyarakat Toraja. Inilah risiko pariwisata budaya ketika ramai tetapi dangkal, terkenal tetapi rapuh, menghasilkan kunjungan tetapi belum tentu menghasilkan penghormatan.

Toraja memiliki keunggulan yang tidak dimiliki semua destinasi, yaitu kekuatan memori budaya. Sementara itu, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat objek, tetapi juga untuk merasakan pengalaman, karena mereka ingin memahami mengapa rumah Tongkonan dibangun dengan bentuk tertentu, mengapa ritus kematian memiliki kedudukan penting, mengapa kekerabatan menjadi fondasi sosial, dan mengapa manusia Toraja menjaga hubungan dengan leluhur, alam, komunitas, dan Tuhan. Oleh karena itu, pariwisata Toraja tidak hanya dikelola dengan logika ekonomi semata karena ukuran keberhasilannya tidak berhenti pada berapa banyak wisatawan datang, berapa banyak tiket terjual, atau peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Ukuran yang lebih penting adalah ketika para stakeholder pariwisata mampu menjaga martabat budaya, memperkuat ekonomi berbasis kompetensi lokal, melibatkan masyarakat adat, melindungi lingkungan, menciptakan pengalaman yang berkesan bagi wisatawan.

BACA JUGA:  Komprador, Upeti, dan Genosida: Membedah Wajah Neokolonialis di Balik "Board of Peace"

Konsep Tongkonan penting karena bukan sekadar bangunan adat, melainkan pula simbol hubungan. Menghubungkan keluarga, leluhur, tanah, adat, identitas, Pencita alam semesta, dan masa depan. Jika nilai ini diterjemahkan ke dalam tata kelola pariwisata, maka destinasi Toraja dibangun bukan sebagai kumpulan objek wisata yang berdiri sendiri, tetapi sebagai ekosistem budaya yang hidup, atau berfokus 3P Pariwisata – People, Profit, Planet. Dalam kerangka TONGKONAN, pengembangan destinasi wisata tidak hanya mengejar transformasi ekonomi, tetapi juga menekankan keteraturan tata kelola, kelestarian alam, keaslian budaya, kekerabatan sosial, peluang ekonomi, jejaring kolaborasi, kemudahan akses, dan pengalaman wisata yang membekas. Model ini menghadirkan cara pandang baru tentang Tongkonan sebagai paradigma tata kelola destinasi, bukan hanya ikon visual pariwisata.

***

Membangun destinasi wisata Toraja berbasis (akronim) TONGKONAN berarti dikelola secara transformatif. Transformasi tidak berarti mengubah budaya menjadi produk pasar, tetapi menjadikan pariwisata sebagai jalan perubahan sosial-ekonomi-politik pembangunan secara berkelanjutan. Masyarakat lokal sebagai pelaku utama, bukan penonton di tanah sendiri. Pelaku usaha-mikro-kecil-menengah (UMKM), pemandu lokal, pengrajin ukiran, pengelola homestay, petani kopi, komunitas adat, dan generasi muda masuk dalam rantai nilai pariwisata secara terorganisir.

Pariwisata tidak dikelola secara terpisah oleh masing-masing sektor, melainkan dalam konteks ini pemerintah daerah, masyarakat adat, pelaku usaha, akademisi, komunitas kreatif, dan media bergerak dalam satu peta jalan. Ada pembagian tugas dan peran yang jelas, standar layanan destinasi, kalender event budaya yang tertata, sistem informasi wisata terpadu, serta mekanisme evaluasi berkala agar terjaga dimensi alamiahnya. Toraja yang menjaga dimensi nature berarti keindahan daerahnya tidak hanya berada pada budaya, tetapi juga pada alam pegunungan, lembah, sawah, hutan, udara sejuk, dan lanskap desa. Pengembangan wisata alam yang berbasis daya dukung lingkungan karena setiap destinasi memiliki pengelolaan sampah, pengendalian kunjungan, jalur aman, edukasi lingkungan, dan prinsip ekowisata, sehingga genuine (keaslian) Toraja tetap adanya sebagai modal utamanya. Apalagi, wisatawan modern mencari pengalaman yang autentik bukan pengalaman yang dibuat-buat. Oleh karena itu, narasi budayanya disampaikan oleh orang yang memahami adat setempat. Pemandu wisata yang dibekali literasi budaya, bahasa asing, etika interpretasi, dan kemampuan bercerita tentang Toraja sebagai ruang pengetahuan budaya kolaborasi.

BACA JUGA:  BANK SYARIAH (7):  MENJAWAB TANTANGAN PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT

Pariwisata Toraja dibangun dengan semangat kekerabatan, gotong royong, penghormatan terhadap struktur sosial lokal dimana masyarakat adat dilibatkan dalam pengambilan keputusan, terutama terkait destinasi yang memiliki nilai sakral. Sementara itu, pengembangan destinasi menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Homestay berbasis keluarga, kuliner lokal, kopi Toraja, kerajinan, fesyen etnik, suvenir, jasa pemandu, transportasi lokal, dan paket wisata edukatif menjadi sumber pendapatan masyarakat. Dengan kata lain, pariwisata Toraja tidak hanya mempercantik destinasi, tetapi juga memperkuat ekonomi warga dan jejaringnya.

Toraja juga membangun jejaring promosi dan kolaborasi yang lebih luas. Kerjasama dengan biro perjalanan, maskapai, platform digital, kampus, komunitas budaya, kreator konten, dan diaspora Toraja memperluas jangkauan ”promosi berbasis digital yang bermartabat”, atau dengan narasi yang menghormati nilai adat. Selain itu, tetap memprioritaskan pengembangan accessibility, karena wisatawan membutuhkan akses jalan yang baik, transportasi yang jelas, informasi digital yang mudah dibaca, papan petunjuk yang informatif, fasilitas umum, toilet bersih, pusat informasi, dan layanan darurat. Aksesibilitas berarti inklusivitas dimana destinasi lebih ramah bagi lansia, anak-anak, penyandang disabilitas, dan wisatawan yang baru pertama kali datang, sehingga menciptakan pengalaman nostalgic.

Pariwisata yang berhasil bukan hanya membuat orang datang, melainkan pula membuat orang ingin kembali lagi. Kenangan dibangun dari keramahan warga, cerita budaya, rasa kopi, udara pegunungan, pengalaman tinggal di desa, percakapan dengan pemandu lokal, dan pemahaman baru tentang kehidupan. Toraja membangun pengalaman yang tidak selesai ketika wisatawan pulang, tetapi tinggal dalam ingatannya.

***

Masa depan pariwisata Toraja tidak cukup dibangun dengan slogan promosi berbasis digital melainkan pula dibangun dengan rekonstruksi tata kelola. Rumah adat Tongkonan dan akronimnya memberi pelajaran bahwa kekuatan Toraja terletak pada keterhubungan, manusia dengan anggota keluarga, manusia dengan adat, manusia dengan alam, manusia dengan leluhur, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan masa depan. Oleh karena itu, membangun ulang Toraja dari filosofi Tongkonan berarti menempatkan budaya sebagai pusat, masyarakat sebagai pelaku, alam sebagai batas etis, dan pengalaman wisata sebagai nilai utama, karena dengan cara itulah Toraja lahir kembali (Reborn), bukan sebagai destinasi yang kehilangan jiwanya karena pariwisata, tetapi sebagai destinasi yang semakin kuat karena berakar pada dirinya sendiri. Semoga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.