Masjid Songkok Recca, Simbol Peradaban Masyarakat Bone Sepanjang Masa

oleh -162 x dibaca
Prof. Dr. Haedar Akib

Oleh:

 Prof. Dr. Haedar Akib, Anggota Senat Akademik UNM & Dosen Program Pascasarjana Universitas Cahaya Prima (UNCAPI) Bone.

Tulisan ini sebagai ungkapan perasaan senang penulis selaku jamaah tidak tetap Masjid Songkok Recca karena mendengar lantunan suara merdu (tajwid) Imamnya ketika memimpin sholat berjamaah. Kesenangan mendengar lantunan ayat-ayat Suci Al-Qur’an ini sangat kuat seiring kuatnya tampilan fisik bangunan masjid. Masjid Songko Recca memang bukan sekadar bangunan tempat ibadah yang megah, melainkan pula sebagai artikulasi simbolik nilai sosial-budaya dan keimanan, serta pernyataan jatidiri orang Bone di hadapan zaman. Dalam satu bentuk arsitektur, masjid ini mempertemukan dua ruang besar kehidupan manusia, dunia dan akhirat. Dunia diwakili oleh sejarah, adat, estetika, gotong royong, kebanggaan daerah, dan identitas sosio-kultural. Akhirat diwakili oleh sujud, zikir, Asmaul Husna, pembinaan akhlak dan kesadaran tentang “kemegahan” tertinggi manusia berdasarkan kualitas penghambaannya (Ketaqwaan) kepada Allah, bukan pada kemegahan ornamen dan disain arsitektur bangunan. Masjid Songkok Recca atau Masjid Amirul Haq yang berada di Jalan Ahmad Yani Watampone oleh Pemerintah Kabupaten Bone menyebutnya sebagai ikon baru daerah ini. Kubahnya menyerupai Songkok Recca merupakan kearifan lokal Bone dengan lantai dan dinding berciri khas Timur Tengah berwarna keemasan, serta bagian luar yang dihiasi ukiran Asmaul Husna. Masjid tersebut dibangun bukan hanya untuk memenuhi fungsi ritual keagamaan semata, melainkan pula untuk menghadirkan simbol kebudayaan sekaligus peradaban masyarakat Bone yang dapat dibaca oleh generasi hari ini dan generasi setelahnya. Masjid ini mulai digunakan sholat berjamaah pada Ramadan 1443 H/2022.

***

Makna simbolik Masjid Songkok Recca bagi masyarakat Bone adalah sebagai ”Rumah Ibadah” bagi umat Muslim karena mayoritas penduduknya beragama Islam, ”Rumah Identitas” dan ”Rumah Peradaban”, selain Bola Soba (Rumah Persahabatan). Sebagai rumah ibadah, masjid Songkok Recca tidak cukup hanya disebut sebagai tempat sholat karena masjid memang rumah ibadah, melainkan pula karena tidak semua masjid memikul pesan peradaban sekuat ini. Masjid ini hadir sebagai ruang yang menghubungkan sejarah Bone, keislaman, adat-istiadat, dan cita rasa estetika dan kinestetika lokal. Artikulasinya tanpa banyak kata namun nyata adanya karena orang Bone memiliki akar budaya, ingatan, martabat, dan tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur dalam bingkai keimanan dan keilmuan.

BACA JUGA:  ZAKAT HARTA: KUNCI MEMBERSIHKAN REZEKI, MENGANGKAT EKONOMI UMAT

Songkok Recca bukan benda budaya biasa, karena dalam catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan, Songkok Recca, Songkok Pamiring, atau Songkok To’ Bone memiliki sejarah panjang dimana salah satu riwayat menyebut kemunculannya pada masa perang Bone dengan Tana Toraja tahun 1683 sebagai penanda pasukan Bone. Kata “recca” berarti “dipukul” mengacu pada proses pembuatan songkok dari serat pelepah daun lontar yang pohonnya banyak tumbuh di Bone. Kemudian, pada masa Andi Mappanyukki songkok recca diberi pinggiran emas atau pamiring pulaweng sebagai penanda strata pemakainya. Semakin tinggi lingkaran emas pada songkok semakin tinggi pula derajat (status sosial) pemakainya (Muhammad Farid W. Makkulau, Asal Usul Songkok Recca: Songkok Bugis Bone, https://ettapedia.org/budaya/pakaian-adat/asal-usul-songkok-recca-songkok-bugis-bone/06/02/2025/#google_vignette. Seiring perkembangan zaman, songkok tersebut dipakai oleh semua kalangan dan menjadi ekspresi cipta, rasa, karsa orang Bone.

Keunikan Masjid Songkok Recca semakin tampak karena bentuk songkok dijadikan model kubah masjid sehingga warisan budaya ini tidak lagi berhenti di kepala manusia, tetapi juga meningkat menjadi “mahkota peradaban”. Jika dulu songkok hanya sebagai penanda kehormatan individu (Andi, Puang, Petta) pemakainya, kini bentuk songkok pada masjid sudah merupakan penanda kehormatan kolektif masyarakat Bone. Kehormatan tersebut bukan lagi milik raja, bangsawan, atau tokoh tertentu, melainkan pula sudah menjadi milik jamaah, umat, masyarakat, dan generasi Bone sepanjang masa.

Masjid ini memberi pesan bahwa peradaban tidak harus meniru sepenuhnya bentuk luar dari tempat lain. Islam memang agama universal, tetapi ekspresi kebudayaannya tumbuh dalam ragam wajah lokal. Kubah Timur Tengah, ornamen kaligrafi, dan bentuk Songkok Recca bukan pertentangan, melainkan dialog atau artikulasi lintas budaya dan peradaban. Realitasnya untuk menjadi Muslim tidak harus kehilangan identitas Bone, demikian sebaliknya menjadi orang Bone tidak boleh menjauh dari nilai Islam karena keduanya saling menguatkan, adat memberi akar, agama memberi arah. Dengan demikian, dapat dipahamkan sebagai moto atau semboyan baru generasi muda kita, “Adat Bersendikan Siri’, Siri’ Bersendikan Kitabullah.”

BACA JUGA:  Pembelajaran Siklus Kehidupan dalam Pengelolaan Limbah Domestik: Materi Ujian Promosi Doktor Kartika Karim Kasim

Urgensi Masjid Songkok Recca sebagai simbol peradaban masyarakat Bone sepanjang masa bernuansa religius terlihat dari fungsinya sebagai wahana yang menyatukan nilai budaya masa lalu, kini, dan akan datang, seiring dengan masyarakatnya yang besar karena mampu membangun gedung sekaligus memberi makna simbolik bangunannya. Banyak bangunan terlihat megah, tetapi tidak semuanya meninggalkan pesan. Demikian halnya banyak ikon yang menarik perhatian, tetapi tidak semuanya mendidik kesadaran transendental. Oleh karena itu, Masjid Songko Recca merupakan simbol ingatan kolektif tentang Bone yang memiliki sistem nilai, tradisi kepemimpinan, etika sosial, dan kebudayaan yang kuat.

Bone merupakan daerah yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi keislaman dan kebudayaan Bugis. Pemerintah Kabupaten Bone mencatat Masjid Raya Watampone didirikan oleh La Mappanyukki pada tahun 1941, sedangkan Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif yang terletak di Jalan Ahmad Yani Watampone dibangun sejak awal 1980-an. Keduanya diproyeksikan sebagai pusat peradaban Islam Kabupaten Bone dan wilayah timur Sulawesi Selatan. Artinya, gagasan menjadikan masjid sebagai pusat peradaban bukan hal baru di Bone. Masjid Songko Recca melanjutkan garis sejarah itu dalam bahasa arsitektur yang lebih simbolik dan mudah dikenali masyarakat modern. Selain itu, Songko Recca berkembang dari simbol stratifikasi menjadi simbol kebersamaan. Berdasarkan catatan Pemerintah Kabupaten Bone, setelah masa kerajaan berakhir, 1959 maka Songko Recca atau Songkok To’ Bone dapat dipakai oleh semua kalangan tanpa mengenal strata sehingga menjadi “songkoknya seluruh orang Bone.”

Perubahan makna tersebut penting karena menunjukkan “budaya sehat” sebagai budaya yang mampu bergerak dari eksklusivitas menuju inklusivitas, serta berdimensi “dunia-akhirat”. Pada sisi dunia, masjid merupakan ikon kota, destinasi religi, ruang estetika, penguat ekonomi lokal, dan media pendidikan budaya. Pada sisi akhirat, masjid merupakan tempat manusia menundukkan kepala, merendahkan hati, dan mengingat bahwa semua kemuliaan dunia akan kembali kepada Allah. Pesan religiusnya adalah “keseimbangan” dimana kejayaan dunia tidak membuat manusia lupa akhirat, sedangkan orientasi akhirat tidak membuat manusia abai membangun peradaban dunia, sebagaimana makna ayat 77 dalam Al Qur’an Surah Al-Qasas yang artinya ”carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.”

BACA JUGA:  RELASI KUASA DI DUNIA PENDIDIKAN: ANTARA ILMU, KEKUASAN, DAN KETIMPANGAN

Masjid Songko Recca sebagai simbol peradaban memang penting karena masyarakat hari ini hidup dalam arus globalisasi yang sering membuat identitas lokal menjadi kabur. Anak muda lebih mudah mengenal simbol populer global daripada simbol leluhurnya sendiri dan lebih akrab dengan merek digital daripada makna budaya daerahnya. Dalam konteks ini, masjid menjadi ruang pendidikan yang halus tetapi kuat. Anak-anak yang kemudian bertanya mengapa kubah masjid berbentuk songko membuka percakapan tentang sejarah Bone, nilai siri’, pesse, keberanian, kehormatan, kesalehan, dan tanggung jawab sosial.

Menghidupkan Masjid Songkok Recca sebagai pusat ibadah, ilmu, budaya dan pelayanan sosial merupakan cara efektif membangun simbol peradaban masyarakat Bone sepanjang masa dimana kemegahan bangunannya diimbangi dengan kekhusyukan jamaah, kerapian tata kelola, kebersihan, kenyamanan, ketertiban, dan keramahan pengurusnya. Masjid ini dijadikan pusat literasi sejarah dan budaya Bone karena di dalamnya dikembangkan papan informasi, galeri kecil, atau narasi digital tentang Songko Recca, sejarah Bone, nilai-nilai Islam Bugis, dan tokoh-tokoh lokal yang berjasa. Masjid merupakan ruang pembinaan generasi muda melalui kajian kepemudaan, kelas public speaking islami, pelatihan konten dakwah, literasi digital, kewirausahaan halal, dan dokumentasi budaya lokal agar warganya merasa memiliki masjid sebagai rumah masa depan, selain fungsi sosial dan simpul wisata religi melalui ”tata kelola masjid yang baik berbasis kewirausahaan spiritual.”

***

Masjid Songko Recca merupakan refleksi siapa masyarakat Bone, dari mana berasal, nilai apa yang dijaga, dan ke mana hendak menuju, karena dilihatnya bukan hanya sebagai bangunan indah dengan kubah dan ornamen, melainkan pula sebagai simbol peradaban. Simbol peradaban ini memiliki akar budaya dan arah spiritual berdasarkan moto atau semboyan Adat Bersendikan Siri’, Siri’ Bersendikan Kitabullah. Akar budaya tersebut membuat manusia (to Bone) tidak tercerabut dari tanah kelahirannya. Sedangkan arah spiritual membuat manusianya tidak tersesat dalam kemegahan dunia. Di antara keduanya, masyarakat Bone berdiri tegak dengan bangga sebagai pewaris Songko Recca dan tetap rendah hati sebagai hamba Allah yang rajin bersujud di masjid. Semoga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.