Menanti Tegaknya Kembali Marwah Bone: Ironi Hampir 5 Tahun Mangkraknya Renovasi Bola Soba

oleh -54 x dibaca
Rahmatullah

Oleh: Rahmatullah, Ketua Umum Sanggar Seni Budaya Phinisi Kecamatan Salomekko

 

Hampir 5 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sekadar menunggu sebuah kepastian. Sejak api melahap habis Bola Soba pada tahun 2021, hingga detik ini di tahun 2026, kita hanya disuguhi pemandangan puing-puing yang kian meranggas. Sebagai bagian dari pelaku seni di akar rumput melalui Sanggar Seni Budaya Phinisi Kecamatan Salomekko, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menggugat diamnya proses ini.

Bola Soba bukan hanya susunan kayu atau proyek fisik semata; ia adalah jantung dari identitas kultural masyarakat Bone. Membiarkan bangunan ini mangkrak selama setengah dekade adalah bentuk pengabaian terhadap nilai Siri’ yang selalu kita agung-agungkan. Bagaimana mungkin kita lantang bicara tentang pelestarian budaya di panggung-panggung festival, sementara simbol paling sakral dari sejarah kita sendiri dibiarkan menjadi “monumen kegagalan”

BACA JUGA:  Pernikahan Adat Bone sebagai Atraksi Wisata : Sebuah Pengalaman Diri

Kami di kecamatan, khususnya para pegiat seni, setiap hari berjuang menanamkan rasa bangga terhadap jati diri Bone kepada generasi muda. Namun, perjuangan itu seolah membentur tembok tebal ketika melihat kenyataan bahwa pemerintah seakan kehilangan taji dalam menuntaskan renovasi ikon kebanggaan kita ini. Penundaan yang berlarut-larut hanya akan membuat material bangunan kian lapuk sebelum sempat berdiri, dan yang lebih menyakitkan, ia melumat kepercayaan masyarakat terhadap komitmen pemerintah dalam menjaga warisan leluhur.

Melalui tulisan ini, saya, Rahmatullah selaku KETUA UMUM SSB PHINISI, mendesak Pemerintah Kabupaten Bone dan instansi terkait untuk tidak lagi bersembunyi di balik alasan-alasan teknis yang klasik. Rakyat butuh transparansi dan langkah nyata. Jangan biarkan Bola Soba menjadi sejarah yang hanya bisa kita ceritakan lewat foto digital karena fisiknya hancur di tangan kelalaian kita sendiri.

BACA JUGA:  Jangan Plin-Plan (Imma’ah): Membangun Diri di Atas Fondasi Pendirian yang Kuat

Tegakkan kembali Bola Soba! Karena di sanalah marwah dan martabat Tanah Bone dipertaruhkan. Jika membangun kembali rumah adat sendiri saja membutuhkan waktu lima tahun tanpa hasil, lantas kepada siapa lagi kita harus menitipkan masa depan kebudayaan ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.