MENJALIN SILATURAHMI, MENGGAPAI BERKAH DAN RIDHA ILAHI

oleh -537 x dibaca
Waode Arumaini Ali

Oleh : Waode Arumaini Ali, SE. Kolumnis Publik di Sulawesi Selatan

 

Ramadan selalu datang membawa dua undangan sekaligus. Undangan untuk mendekat kepada Allah dan sesama manusia. Puasa menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga magrib bukan sekadar latihan fisik, melainkan jalan penyucian hati. Penyucian itu tidak pernah berdiri sendiri. Ia menuntut kita merawat hubungan dengan Rabb dan manusia. Di sinilah silaturahmi menemukan maknanya yang paling hidup.

Al Qur’an berulang kali menautkan ketakwaan kepada Allah dengan perintah menjaga hubungan kekerabatan. Allah berfirman dalam Surah An Nisa ayat pertama, “Wattaqullaha alladzi tasa’aluna bihi wal arham” — bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, serta peliharalah hubungan kekeluargaan. Ayat ini merupakan seruan etis, juga fondasi spiritual. Takwa yang benar mustahil tumbuh di atas hati yang gemar memutuskan tali persaudaraan.

Rasulullah ﷺ menegaskan hal itu dengan bahasa yang lebih tegas. Dalam hadis sahih riwayat Al Bukhari dan Muslim, beliau bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahmi.”

BACA JUGA:  PALESTINA MEMANGGIL SOLIDARITAS UMAT ISLAM

Iman dan silaturahmi disebut dalam satu tarikan napas. Seolah-olah keduanya tidak terpisah. Keimanan yang mengaku tunduk kepada Allah harus teruji dalam kemampuan menjaga hubungan, memaafkan dan menguatkan ikatan yang rapuh.

Ramadan memberi ruang luas untuk mempraktikkan ajaran ini. Saat berbuka puasa bersama keluarga, ketika salat tarawih mempertemukan kembali wajah-wajah lama di masjid, atau ketika tangan-tangan berbagi takjil di jalanan, di situlah silaturahmi menemukan momentumnya. Allah menjanjikan keberkahan bagi siapa pun yang memelihara tali itu. Dalam hadis sahih riwayat Al Bukhari dan Muslim, Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” Keberkahan rezeki dan umur bukan semata-mata hitungan angka, melainkan nilai dan makna yang Allah tambahkan dalam kehidupan.

Sering kali kita memahami keberkahan hanya dalam bentuk materi. Padahal keberkahan yang lebih dalam adalah ketenangan, keharmonisan dan rasa cukup. Silaturahmi membuka pintu itu. Ketika hubungan yang renggang dipulihkan, ketika kesalahpahaman diselesaikan dengan rendah hati, di sanalah rahmat Allah turun. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa haram bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari (HR Al Bukhari dan Muslim). Pesan ini relevan di zaman ketika komunikasi begitu mudah, tetapi hati justru mudah berjarak.

BACA JUGA:  KUNJUNGAN PRESIDEN KE CINA, POLITIK LUAR NEGERI KIAN TERSANDERA

Ramadan tahun ini datang di tengah realitas sosial yang kompleks. Perbedaan pilihan, pandangan, bahkan kepentingan kerap menimbulkan gesekan. Media sosial mempercepat pertengkaran, memperkeras kata dan memperpanjang dendam. Dalam situasi seperti ini, silaturahmi menjadi amalan sunnah yang dianjurkan, sekaligus kebutuhan mendesak untuk menjaga keutuhan umat.

Dalam Al-Qur’an, Surah Ali Imran ayat 134, Allah SWT memuji individu yang memiliki kemampuan untuk mengontrol emosi, khususnya menahan amarah, serta menunjukkan kemurahan hati dengan memaafkan kesalahan orang lain. Ayat ini menekankan pentingnya pengendalian diri dan sikap toleransi dalam menjaga harmoni sosial.

Silaturahmi juga mengajarkan kerendahan hati. Menyambung hubungan tidak selalu berarti kita benar dan orang lain salah. Terkadang ia berarti kita bersedia melangkah lebih dulu, mengetuk pintu yang lama tertutup, atau mengirim pesan sederhana yang mengawali perdamaian. Dalam hadis sahih riwayat Al Bukhari, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa bukanlah penyambung silaturahmi itu orang yang sekadar membalas kebaikan, tetapi yang menyambung ketika hubungan itu terputus. Inilah standar kemuliaan yang diajarkan Islam.

BACA JUGA:  Porprov dan Ujian Daerah: Prestise vs Pembinaan Atlet Berkelanjutan

Di bulan Ramadan, doa-doa dipanjatkan lebih khusyuk, air mata lebih mudah jatuh, dan hati lebih lembut menerima nasihat. Mengapa tidak kita manfaatkan kelembutan itu untuk merajut kembali hubungan yang retak? Ridho Allah tidak hanya dicari dalam panjangnya rakaat atau banyaknya tilawah, tetapi juga dalam kelapangan dada memaafkan dan kesungguhan memperbaiki relasi.

Pada akhirnya, silaturahmi adalah cermin iman yang bekerja dalam kehidupan nyata. Ia menghadirkan keberkahan karena ia membuka pintu rahmat. Ia mendatangkan ridho Ilahi sebab sejalan dengan perintah-Nya. Ramadan mengajarkan bahwa lapar dan dahaga hanyalah sarana, sedangkan tujuan akhirnya ialah takwa. Takwa yang sejati akan selalu tampak dalam cara kita menjaga tali persaudaraan.

Maka, ketika azan magrib berkumandang dan kita menadahkan tangan, semoga kita mendapat ampunan Allah, juga kekuatan untuk menjadi penyambung, bukan pemutus. Di sanalah berkah bertumbuh, serta ridho Allah kita harapkan bersemayam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.