BENGO, TRIBUNBONEONLINE.COM– Penguatan ketahanan pangan lokal kini mulai diintegrasikan dalam dunia pendidikan di Kabupaten Bone. Salah satunya terlihat di SMP Negeri 2 Lappariaja, di mana pelajar dilibatkan langsung dalam praktik pengolahan lahan sebagai bagian dari pembelajaran kokurikuler.
Program ini sejalan dengan kebijakan Dinas Pendidikan Kabupaten Bone yang mulai mendorong muatan lokal (mulok) ketahanan pangan berbasis potensi daerah melalui kolaborasi bersama CIFOR-ICRAF dalam mendukung pendidikan berkelanjutan dan kesadaran lingkungan sejak dini.
Di SMPN 2 Lappariaja, implementasi program tersebut diwujudkan melalui kegiatan praktik bercocok tanam di halaman sekolah. Pelajar diajak memahami proses pertanian secara langsung, mulai dari persiapan lahan, penggemburan tanah, pemupukan, hingga tahap penanaman dan perawatan tanaman.
Pelaksana Harian Kepala SMPN 2 Lappariaja, Nursanti Ag, S.Pd., saat ditemui Sabtu (4/4/2026), mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan pembelajaran berbasis praktik yang hasilnya dapat dimanfaatkan di lingkungan sekolah.
“Tahun lalu kegiatan serupa sudah dilakukan, namun hasilnya belum maksimal karena faktor iklim yang tidak menentu dan keterbatasan air. Tahun ini kami mencoba lebih sistematis dengan berbagai inovasi, dimulai dari tahap awal hingga perawatan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, tanaman yang ditanam akan dipantau setiap hari oleh pelajar bersama tenaga pendidik guna memastikan pertumbuhan berjalan optimal sekaligus menjadi media pembelajaran berkesinambungan.
Selain meningkatkan keterampilan, program ini juga diharapkan mampu membentuk karakter pelajar agar lebih peduli terhadap lingkungan serta memahami pentingnya kemandirian pangan di tingkat lokal.
Salah satu pelajar kelas VIII, Astrid, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut dan merasakan pengalaman baru di luar kelas.
“Saya senang bisa belajar langsung di luar kelas. Dari kegiatan ini saya jadi tahu cara menanam yang baik dan merawat tanaman. Semoga hasilnya nanti bisa bagus dan bermanfaat untuk sekolah,” ungkapnya.
Dengan adanya integrasi muatan lokal ketahanan pangan ini, sekolah berharap para pelajar tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap isu lingkungan dan ketahanan pangan di masa depan.
Penulis: Affandy







