Oleh: Dr. Muhammad Asriady, S.Hd., M.Th.I.
Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung
Di balik hiruk pikuk angka dan target kurikulum, ada sebuah kebenaran abadi yang seringkali terlupakan yaitu menjadi guru bukanlah tentang pekerjaan, melainkan tentang panggilan jiwa. Kebenaran inilah yang kembali digemakan dengan penuh hikmat oleh Anregurutta Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A., di hadapan ratusan calon pendidik bangsa di auditorium UIN Syarif Hidayatullah, Rabu (3/9/2025).
Dalam momen sakral Pembukaan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Batch 3, Anregurutta menyampaikan sebuah pesan fundamental, “tugas seorang guru adalah sebuah kemuliaan yang menuntut keseimbangan sempurna antara ketajaman intelektual dan kemurnian moral.” Ini bukanlah sekadar pidato, melainkan sebuah peneguhan kembali tentang siapa sejatinya seorang guru, ia adalah arsitek utama peradaban.
Guru harus memiliki Dua Sayap Sang Pendidik, yaitu Intelek dan Integritas. “Seorang guru tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga harus memiliki integritas moral yang tinggi,” tegas Menag.
Pesan ini menusuk langsung ke sanubari dunia pendidikan. Kecerdasan adalah sayap yang memungkinkan seorang guru membawa muridnya terbang melintasi cakrawala ilmu pengetahuan. Namun, tanpa sayap kedua integritas moral penerbangan itu akan timpang dan kehilangan arah. Kecerdasan tanpa nurani bisa melahirkan generasi yang pintar namun kosong jiwanya. Ia pintar tapi kurang ajar, harapan kita murid itu pintar yang menjunjung tinggi akhlakul karimah.
Di sinilah peran guru sebagai teladan menjadi segalanya. Guru adalah sosok yang digugu nan ditiru (dipercaya dan dicontoh). Setiap kata yang terucap, setiap tindakan yang terlihat, adalah benih karakter yang ditanamkan dalam jiwa para murid. Integritas inilah yang akan menyuburkan nilai kejujuran, empati, dan tanggung jawab. Karena pada akhirnya, kita boleh membangun gedung pencakar langit setinggi apapun, namun peradaban bangsa yang kokoh hanya bisa dibangun di atas fondasi generasi yang berintegritas.
PPG itu Kawah Candradimuka Para Pahlawan Ruang Kelas
Menyampaikan pesan ini di awal perjalanan para calon guru PPG adalah sebuah langkah strategis. PPG adalah “kawah candradimuka”, sebuah tempat suci di mana para pahlawan ruang kelas ditempa. Bekal yang mereka terima di sini bukanlah sekadar teknik mengajar, melainkan pemahaman mendalam tentang amanah besar yang akan mereka emban.
Menteri Agama seakan menitipkan takdir peradaban bangsa di pundak mereka. Mereka tidak sedang dilatih untuk menjadi pegawai, tetapi untuk menjadi para pejuang sunyi yang siap menyalakan lilin-lilin harapan di seluruh penjuru negeri.
Mengajar itu Sebuah Panggilan untuk Menyentuh Kehidupan
Pada akhirnya, mengajar adalah sebuah seni untuk menyentuh kehidupan, menginspirasi mimpi, dan menyalakan api dalam jiwa yang redup. Ini adalah panggilan suci yang gaungnya melampaui dinding kelas dan gema lonceng sekolah.
Di tengah derasnya arus zaman, peran guru yang berintelek dan berintegritas adalah kompas moral bagi bangsa. Anda, para pendidik, adalah penjaga masa depan. Pesan dari UIN Syarif Hidayatullah hari itu adalah seruan untuk kita semua, teruslah menjadi cahaya yang tak hanya menerangi akal, tetapi juga menghangatkan jiwa.






