FESTIVAL DANAU TEMPE : Mengingat Kembali Romantisme Tappareng Karaja

oleh -210 x dibaca
Andi Ade Lepu

Oleh: Andi Ade Lepu (Pemerhati sosial dan Kebijakan Publik)

Wajo bisa disebut daerah yang komplit. Memiliki tiga penopang kehidupan: Laut, sungai, dan juga danau. Dari ketiga itu, yang paling ikonik adalah Danau Tempe. Danau yang menghimpun jutaan cerita sejak zaman purba hingga hari ini.

Andai Danau Tempe mampu berkisah tentang kesaksian yang dilakoninya sejak pertama kalinya, maka kita akan membaca sebuah kitab tebal yang bukan hanya bercerita tentang dirinya tapi juga bagaimana sejarah terbentuk di Wajo. Danau Tempe bagi Wajo bukanlah sekadar hamparan air. Ia adalah rahim dari kehidupan.

Naskah-naskah lontara menulis, manusia pertama Wajo menambatkan hidup dan merangkai peradaban awal di tepian air luas, yang dalam naskah I Lagaligo disebut Tappareng Karaja. Danau tempe adalah nama belakangan, disebut sekitar abad ke-18. Tutur-tutur bahari Wajo lebih banyak datang dari romantika air ketimbang darat. Dari perantauan panjang Sawerigading yang mempersunting We Cudai di Pammana, sampai keperkasaan La Maddukkelleng yang mengarungi sungai dan laut ke negeri-negeri yang jauh. Ke-semua cerita-cerita dominan datang dari laut, sungai, dan danau. Jadi, membaca sejarah Wajo adalah sekaligus pembacaan kita terhadap air. Dari Sungai Walennae, Danau Tempe, terus mengalir jauh sampai gerbang menuju laut lepas.

Ini menjadi landasan historis sekaligus filosofis kenapa acara Festival Danau Tempe menemukan urgensinya. Acara tahunan yang di 2026 ini diadakan selama 13 hari dari tanggal 23 September hingga 5 Oktober menghimpun banyak kegiatan. Dari tradisi tappareng, lomba perahu dayung, kuliner, sampai silaturahim saudagar Bugis Wajo yang tersebar di seluruh Indonesia, atau mungkin juga dunia.

Saya sendiri berkesempatan hadir dan menjadi bagian dari kerumunan yang riuh itu. Melihat dan membaui aroma romantisme masa lalu di lapangan Merdeka. Sebuah tempat yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari makam YM La Maddukkelleng dan menantunya YM Aji Sultan Muhammad Idris, raja Kutai yang gugur sebagai pahlawan di Tana Wajo.

BACA JUGA:  BAHASA INDONESIA DALAM SPEKTRUM GLOBALISASI DAN REVOLUSI INDUSTRI 5.0

Saat sampai di Wajo, yang pertama kali saya ingat adalah pesan-pesan Puang Rimaggalatung, raja sekaligus cendekiawan terkemuka Wajo 1491-1521. Puang Rimaggalatung bukan hanya raja yang memimpin perang, tapi juga seorang peletak dasar demokrasi Wajo, filsuf hukum, dan ahli strategi. Warisan terbesar darinya adalah 6 prinsip utama kearifan pemerintahan politik di Wajo. Yakni Alempureng (kejujuran), Amaccang (kecerdasan), Malabo (kedermawanan), Awaraningeng (keberanian), Assitinajang (kepatutan), dan Makkaritutu (kewaspadaan).

Enam prinsip inilah yang membentuk Kerajaan Wajo tidak dibangun dengan darah bangsawan dan nasab semata, tapi dengan pemilihan yang dilakukan oleh dewan adat (Arung Enneng). Prinsip ini kemudian dituangkan dalam sebuah semboyan kepatuhan terhadap hukum (ade’) dan persatuan kewajo-an. Puang Rimaggalatung berkata, ade’ assiturusenna to Wajo-e napopuang, yang kemudian terkenal sebagai Maradeka To Wajo-E Ade’na Napopuang. Orang Wajo adalah bangsa yang merdeka, menempatkan kesepakatan hukum (ade’) sebagai puncak kepatuhan.

Jiwa kemerdekaan inilah yang melahirkan etos perantauan orang Wajo. Orang Wajo tidak merantau karena terusir atau kemiskinan. Mereka merantau karena panggilan Sumange’ – semangat hidup dan penolakan terhadap kemerdekaan yang terampas oleh orang lain. Kita lalu membaca demikian banyak diaspora besar-besaran setelah Perjanjian Bongaya sebagai efek dari kekalahan Gowa terhadap aliansi VOC, Bone, dan Ambon. Wajo yang menjadi sekutu paling militan Gowa harus menelan kekalahan pahit dan memilih meninggalkan kampung halaman untuk mencari perhitungan di kemudian hari. Berbeda dengan Sultan Hasanuddin yang tidak berdaya menandatangai perjanjian kekalahan, Raja Wajo La Tenri Lai To Sengngeng memilih bertempur sampai mati, berkalang tanah di Tosora. Sisa-sisa pengikutnya kemudian merantau ke segala penjuru. Ke Johor, ke Batavia, ke Kalimantan, ke Papua, dll. Beberapa orang-orang yang berkumpul di acara Festival Danau Tempe hari ini bisa jadi adalah anak turunan dari generasi perantau awal itu.

BACA JUGA:  RAKYAT SINJAI MENOLAK TAMBANG EMAS MERUSAK 

Merantau atau sompe bagi orang Wajo bukanlah pelarian, sompe adalah sekolah kehidupan. Semangatnya adalah lao sappa deceng, lisu mappedeceng, berangkat mencari kebaikan, dan kembali menebar kebaikan. Itulah mengapa Festival Danau Tempe tidak pernah bisa dipahami hanya sebagai pesta perahu hias atau lomba dayung. Ia lebih dalam dari itu. Tema “Palisu Sumange na Tanah Wajo” _mengalirkan Kembali Semangat Tanah Wajo harus kita baca sebagai dialog manusia dengan asalnya, dengan sejarahnya, dan dengan adatnya.

Danau Tempe sendiri tidak bertanya seberapa kaya engkau di rantau. Danau hanya bertanya, masihkah engkau ingat rasa airnya? Ikan-ikan segala jenis yang walau sama di negeri rantau tapi terasa jauh lebih lezat?

Di sinilah filosofi itu bertemu, para saudagar Wajo yang sukses dalam beragam pengertian di seluruh penjuru nusantara, diundang oleh Bupati Wajo. Diundang untuk berkumpul di tepi danaunya. Bukan untuk pamer keberhasilan satu sama lain, tapi sejatinya sedang melakukan ritual sipakarennu dan sipakario. Saling mengasihi, menguatkan, dan juga berbagi cerita kebahagiaan. Mereka pulang untuk mengisi ulang Sumange’ yang mulai menipis di tanah rantau. Karena hanya di Danau Tempe, seorang pengusaha, penguasa, atau pedagang kaki lima dari Samarinda, Jakarta, atau Malaysia, kembali menjadi anak-anak rantau yang duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.

Lalu, apa sebaiknya pesan sejarah yang bisa kita catat dari festival ini? Secara garis besar bisa kita tuliskan setidaknya tiga poin. Pertama, ingatlah asalmu adalah air yang bergerak. Danau Tempe tidak pernah diam. Airnya pasang surut, kadang meluap, kadang surut hingga bisa menjadi ladang. Danau Tempe menghimpun air sungai dari berbagai penjuru lalu mengalirkannya ke laut. Hidup orang Wajo pun begitu. Filosofi Wajo adalah adaptif. Rumah terapung di atas danau adalah simbol kehidupan yang tidak melawan air, tapi hidup bersama air. Di rantau, kita bisa mengadopsi filosofi rumah terapung itu.

BACA JUGA:  Narkoba Dalam Pandangan Agama Dan Kesehatan, Jalan Gelap Yang Menjerumuskan Jiwa Dan Raga

Kedua, jangan pernah putus jaringan. Kekuatan saudagar Wajo dulu bukan pada modalnya, tapi pada jaringannya yakni assisumpungeng dan assedding yang disebut yassiwajori. Di mana ada satu orang Wajo, di situ ada saudara. Festival Danau Tempe adalah upaya merajut kembali semangat yassiwajori yang terurai oleh jarak dan waktu. Festival ini adalah pasar, reuni, atau dewan dagang yang bermusyawarah kembali seperti Arung Enneng di masa lalu.

Ketiga, Kemerdekaan sejati adalah pulang dengan bermartabat. Orang Wajo merantau untuk merdeka. Tetapi kemerdekaan itu tidak sempurna jika ia tidak pernah pulang. Pulang dalam budaya Wajo tidak harus berarti menetap selamanya. Pulang adalah membawa hasil rantau untuk menghidupkan tanah asal. Pulang membawa kebaikan sebagai hasil dari pencarian deceng di kampung orang. Itulah makna Palisu Sumange. Alirkan kembali semangat, alirkan kembali rezeki, alirkan kembali ilmu ke danau yang dulu membesarkan Wajo dengan segala sejarahnya. Dan kita yang hari ini berkumpul di Wajo yang datang segala penjuru tana rantau adalah kelanjutan dari sejarah itu.

Pada akhirnya, seberapa jauh pun orang Wajo berlayar, kompas pulangnya akan selalu menunjuk ke satu titik GPS: sebuah danau yang tenang di tengah Sulawesi, tempat pertama kali nenek moyang kita belajar bahwa hidup adalah tentang berani mengarungi, dan sekaligus tidak pernah takut bertarung dalam mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.