Menara Pinisi, Simbol Peradaban Akademisi Sepanjang Hayat: Oleh-oleh dari Lokasi KKN (3/3)

oleh -134 x dibaca
Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum - Prof. Dr. Haedar Akib

Oleh:

Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum., Plt. Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM)

Prof. Dr. Haedar Akib, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) di Kabupaten Bone & Anggota Senat Akademik UNM.

Ada bangunan yang didirikan untuk memenuhi kebutuhan ruang dan uang, namun ada pula bangunan yang dirancang untuk menyampaikan “pesan moral peradaban.” Menara Pinisi Universitas Negeri Makassar (UNM) termasuk kategori kedua. Kehadirannya bukan sekadar menambah kemegahan lanskap perkotaan Makassar, melainkan merepresentasikan identitas, kebanggaan, kearifan lokal, dan cita-cita intelektual masyarakat Sulawesi Selatan Indonesia. Oleh karena itu, berbicara tentang UNM di lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengingatkan masyarakat pada Menara Pinisi, bukan pada demonstrasi sivitas akademikanya yang destruktif. Demikian pula, ketika orang berbicara tentang Pinisi, ingatannya tertuju pada UNM.

***

Menara Pinisi sebagai Gedung Pusat Pelayanan Akademik (GPPA) UNM merupakan karya arsitektur yang mengadaptasi kekayaan budaya lokal ke dalam desain bangunan modern. Gagasan arsitekturnya dikembangkan oleh Yu Sing, arsitek muda yang lahir di Bandung pada 5 Juli 1976 lalu menyelesaikan di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1999 (https://profesi-unm.com/kenali-sosok-arsitek-perancang-menara-pinisi-unm/) dan timnya melalui eksplorasi filosofi perahu Pinisi, logo UNM, rumah tradisional Makassar, dan falsafah Sulapa Eppa, sebagaimana ungkapan Edhi Kurniawan dalam artikelnya Metaphorical Architecture in the Educational Building of Pinisi Tower at Makassar State University pada Journal of Development and Integrated Engineering 4(1) (2024) 41-50. Bangunan tersebut dirancang sebagai ikon UNM sekaligus penanda baru Kota Makassar dan Sulawesi Selatan.

Dalam dokumen konsep desainnya, Yu Sing menegaskan pentingnya menggali nilai-nilai budaya dan arsitektur tradisional sebagai sumber inspirasi yang diadaptasi dengan kebutuhan zaman. Dengan demikian, modernitas tidak menghilangkan identitas lokal tetapi justru menjadi wahana untuk mengangkat kearifan lokal ke panggung dunia. Perahu Pinisi merupakan warisan maritim masyarakat Sulawesi Selatan yang dikenal memiliki kemampuan menjelajahi samudra. Dalam konteks interpretif simbolik (perspektif ketiga perkembangan teori organisasi menurut Mary Jo Hatch, 2013, dalam bukunya Organization Theory), Pinisi mengajarkan keberanian menentukan arah, ketangguhan menghadapi gelombang, kemampuan membaca angin, kerja sama awak kapal, dan konsistensi mencapai tujuan. Filosofi tersebut sangat relevan dengan kehidupan perguruan tinggi.

Universitas adalah kapal besar peradaban ilmu pengetahuan, atau ”perahu besar” istilah Prof. Dr. Arismunandar, M.Pd., rektor UNM pada masanya. Jadi, rektor, tenanga pendidik atau dosen, tenaga kependidikan (staf), mahasiswa, alumni, dan seluruh pemangku kepentingan merupakan bagian dari awak kapal yang memiliki tanggung jawab bersama. Setiap orang boleh berbeda pandangan tentang arah pelayaran, tetapi tidak boleh merusak (membocorkan) kapal yang menjadi tumpuan perjalanan bersama, atau rumah tempat kita menikmati rizki dari Tuhan.

BACA JUGA:  UNHAS: Nelson Mandela, Jusuf Kalla, Syekh Yusuf dan Perdamaian Dunia 

Bentuk Menara Pinisi yang menjulang dengan ekspresi layar kapal dimaknai sebagai representasi cita-cita akademik yang senantiasa bergerak menuju masa depan. Sementara itu, filosofi Sulapa Eppa mengingatkan pentingnya keseimbangan dan kesempurnaan nilai dalam kehidupan. Manakala ditransformasikan ke dalam kehidupan akademik maka keseimbangan tersebut mencakup kecerdasan intelektual, integritas moral, kepekaan sosial, dan tanggung jawab profesional. Dengan demikian, Menara Pinisi tidak cukup dipandang sebagai bangunan fisik yang indah, melainkan pula sebagai simbol hidup yang nilai-nilainya tercermin dalam perilaku penghuninya, termasuk penulis dan pembaca! sebagai bentuk tanggung jawab moral menjaga marwah akademik dan membangun image publik.

Identitas Menara Pinisi direaktualisasikan karena sebuah universitas tidak hanya dinilai dari gedung, fasilitas, jumlah mahasiswa, atau capaian akademiknya, tetapi juga dari perilaku dan karakter seluruh sivitas akademikanya. Pemikiran Gareth Morgan dalam bukunya Images of Organization (1986) menarik dijadikan pelajaran bahwa organisasi dapat dipahami melalui berbagai metafora atau gambaran, seperti mesin, organisme, otak, budaya, sistem politik, penjara psikis, perubahan, dan instrumen dominasi, dimana setiap metafora membantu kita memahami organisasi dari perspektif yang berbeda, tidak menggunakan ”kacamata kuda,” seperti kesan Haedar Akib & Firdaus Suhaeb berjudul ”Rahasia Memadu Bu’Etik dan Bu’Emik” (https://tribunboneonline.com/2026/09/20/).

Morgan dan kita perlu menyepahami, organisasi tidak hanya memiliki struktur formal, tetapi juga citra (image) dan makna yang dibangun melalui caranya bekerja, berinteraksi, dan memperlakukan lingkungannya. Lingkungan yang kita maksud seperti juga pemahaman Kōzō Yamamura dan Yasukichi Yasuba dalam bukunya, The Political Economy of Japan (Volume 1, 1987) yang meliputi lingkungan fisik, lingkungan sosial, dan lingkungan peristiwa. Dalam konteks ”kita satu UNM”, Menara Pinisi dikembangkan sebagai metafora organisasi akademik yang memiliki identitas budaya, daya adaptasi, kecerdasan kolektif, dan orientasi masa depan. Bangunannya merupakan representasi visual, sedangkan perilaku sivitas akademikanya merupakan representasi substantif.

Persoalannya, citra universitas dapat mengalami gap (kesenjangan) antara identitas yang ingin ditampilkan dan kenyataan yang disaksikan masyarakat. Misalnya, ketika Menara Pinisi menggambarkan kemegahan intelektual, tetapi sebagian perilaku warganya mempertontonkan tindakan anarkis, destruktif, dan tidak mencerminkan etika akademik, maka terjadi kontradiksi antara simbol dan realitas. Tentu, demonstrasi bukan sesuatu yang dilarang dalam kehidupan kampus, karena kebebasan akademik, kebebasan berpendapat, dan hak menyampaikan aspirasi merupakan bagian dari kehidupan demokratis. Sivitas akademika memiliki hak mengkritik kebijakan, mempertanyakan keputusan pimpinan, bahkan melakukan demonstrasi atau unjuk rasa untuk memperjuangkan kepentingan publik. Namun, kebebasan tidak identik dengan kebebasan merusak. Kritik tidak harus diwujudkan melalui kekerasan, perusakan fasilitas, intimidasi, atau tindakan yang merendahkan martabat sesama warga kampus karena kualitas demokrasi akademik terlihat dari kemampuan menyampaikan perbedaan secara argumentatif, rasional, santun, dan bertanggung jawab.

BACA JUGA:  SULSEL DI ANTARA ANGKA GEMILANG DAN KETIMPANGAN STRUKTURAL   

Marwah akademik ditempatkan di atas kepentingan kelompok dan kepentingan sesaat dimana kampus merupakan ruang pembelajaran demokrasi, bukan arena pembenaran tindakan destruktif. Oleh karena itu, membangun public image universitas berarti mengarahkan publik untuk mengenal institusi pendidikan tinggi melalui (dampak) prestasi pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat (Kuliah Kerja Nyata), inovasi, integritas, serta kontribusi dewan penyantun dan alumninya. Bukan melalui konflik internal yang berulang dan perilaku kontraproduktif terhadap nilai-nilai kependidikan dan kewirausahaan (Visi UNM).

***

Menghidupkan filosofi Menara Pinisi dalam perilaku sivitas akademika dan sekaligus sebagai simbol peradaban akademisi sepanjang hayat dilakukan minimal melalui empat agenda yang dikembangkan berikut ini.

Reorientasi nilai dan budaya akademik kepada seluruh warga UNM dengan menjadikan filosofi Pinisi sebagai sumber inspirasi dan motivasi dalam membangun budaya organisasi. Motto UNM yang ”Tetap Jaya Dalam Tantangan” dan ketangguhan menghadapi gelombang diwujudkan menjadi ketangguhan intelektual, kemampuan menentukan arah berubah menjadi kemampuan merumuskan visi-misi akademik, dan kerja sama awak kapal diwujudkan menjadi kolaborasi sivitas akademika. Perbedaan pendapat dan pilihan dipandang sebagai sumber pembelajaran, bukan alasan untuk saling menjatuhkan.

Penguatan etika, estetika, kinestetika, dan tanggung jawab akademik dimana Dosen sebagai teladan integritas keilmuan, mahasiswa menjadi pembelajar yang kritis sekaligus santun, tenaga kependidikan memberikan pelayanan profesional, serta pimpinan menghadirkan gaya kepemimpinan inklusif (Haedar Akib & Andi Selvi Kartini Wonsu, Kepemimpinan Inklusif Berbasis Nilai Budaya Lokal, https://tribunboneonline.com/2026/10/13/) dan jabatan dianggap sebagai amanah (Andi Aslinda & Haedar dalam opininya, Jabatan Sebagai Amanah: Dimensi Spiritual Etika Perilaku Birokrasi, https://tribunboneonline.com/2026/05/27/). Sementara itu, marwah akademik dipahami bukan tanggung jawab rektor semata, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh warga universitas.

Transformasi Menara Pinisi menjadi laboratorium pembelajaran sepanjang hayat. Makna lifelong learning tidak berhenti sebagai jargon pendidikan. UNESCO melalui laporan Learning: The Treasure Within (1996) yang disusun Komisi Internasional Pendidikan untuk Abad ke-21, memperkenalkan empat pilar pendidikan, yakni learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be (baca: Serial tulisan Haedar Akib bersama kolega di Tribun Bone bertema Mengokohkan Pilar Pendidikan Dunia). Keempatnya relevan untuk membangun peradaban akademik UNM dan perguruan tinggi lain.

BACA JUGA:  UNM sebagai Pusat Kajian Penurunan Angka Kemiskinan di ASEAN di Era Orde Baru

Menara Pinisi sebagai pengingat kita tentang belajar yang tidak hanya dilakukan untuk memperoleh gelar akademik, tetapi juga untuk membangun pengetahuan, keterampilan, kemampuan hidup bersama, dan kematangan kepribadian. Mahasiswa belajar menjadi manusia berkarakter, dosen terus memperbarui kompetensi dan keilmuannya, sementara pimpinan juga belajar memimpin secara adil dan bijaksana, sedangkan alumni tetap sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan “prinsip pembelajaran sosial yang Paikemhubkan” (produktif, aktif, inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan, humanis, bermakna, kasih sayang) menurut Hasmiyati & Haedar Akib dalam opininya berjudul Makna Perjalanan Dari Rumah Persahabatan ke Rumah Tuhan, https://tribunboneonline.com/2026/07/03/).

Membangun komunikasi dan reputasi publik secara konsisten, dimana universitas aktif mengembangkan strategi komunikasi kelembagaan yang mengintegrasikan prestasi akademik, inovasi pembelajaran, riset, karya mahasiswa, kiprah alumni, dan kontribusi sosial. Media digital dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan informasi positif sekaligus membangun kepercayaan publik. Citra positif UNM tidak dibangun hanya melalui slogan (kita satu UNM) atau publikasi seremonial, tetapi didukung oleh kenyataan dan pengalaman masyarakat ketika berinteraksi dengan universitas untuk menjadikan Menara Pinisi sebagai warisan identitas dan kebanggaan bersama. Dengan kata lain, Menara Pinisi yang kita pahami sebagai simbol peradaban akademisi sepanjang hayat bukan hanya bertujuan untuk membuat UNM terkenal karena memiliki bangunan ikonik, melainkan pula menjamin kemegahan fisik tersebut sejalan dengan “kemuliaan perilaku” dan “kualitas intelektual warganya.”

***

Menara Pinisi sebagai perekat memori kolektif tentang universitas kebanggaan kita telah memiliki akar budaya yang kuat sekaligus cita-cita keilmuan yang mendunia. Oleh karena itu, seluruh warga kampus perlu memiliki kesepahaman bahwa menjaga fasilitas universitas sama pentingnya dengan menjaga integritas (marwah) akademik, menghormati perbedaan (pilihan calon nahkoda pinisi) sama pentingnya dengan memperjuangkan kebenaran, dan membangun prestasi sama pentingnya dengan mempertahankan kehormatan institusi. Universitas yang besar bukan yang tidak pernah menghadapi gelombang perbedaan, melainkan universitas yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan arah dan kehormatan. Menara Pinisi boleh menjulang tinggi di langit Makassar, tetapi marwah akademik UNM tetap menjulang lebih tinggi dalam hati, pikiran, perkataan, dan tindakan seluruh warganya sebagai simbol (teladan) peradaban akademisi sepanjang hayat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.