Gau Maraja, Value Creation Budaya Masyarakat Bugis

oleh -253 x dibaca
Prof. Dr. Haedar Akib - Prof. Dr. Andi Kasmawati, M.Hum.

Oleh:

Prof. Dr. Haedar Akib, Anggota Senat Akademik UNM, Dosen Luar Biasa pada Universitas Sipatokkong Mambo (UNSIMA) Bone.

Prof. Dr. Andi Kasmawati, M.Hum., Koordinator Program Doktor (S3) Ilmu Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Makassar (UNM)

Di tengah arus modernisasi, digitalisasi, dan ekonomi kreatif, pertanyaan penting bagi masyarakat Bugis bukan lagi sekadar bagaimana mempertahankan budaya, tetapi bagaimana mengubah kekayaan budaya menjadi sumber penciptaan nilai (value creation) tanpa kehilangan makna dan jati dirinya dalam konteks Gau Maraja. Secara kebahasaan, gau’ berkaitan dengan perbuatan, kegiatan, atau hajatan atas dasar nilai baik, sementara maraja bermakna besar atau agung dan spektakuler. Dalam perkembangan kontemporer, Gau Maraja tampil sebagai ruang ekspresi publik, kolaborasi, edukasi, dan promosi kebudayaan. Balai Pelestarian Kebudayaan menggambarkannya sebagai ekosistem yang mempertemukan seni tradisi, kreativitas dan inovasi yang bernilai, sejarah, teknologi, komunitas, dan ekonomi kreatif. Oleh karena itu, Gau Maraja dipandang bukan hanya sebagai event tahunan melainkan platform penciptaan nilai berbasis pengetahuan budaya lokal. Dengan kata lain, Gau Maraja sebagai modal pengetahuan budaya yang dapat diwariskan ke generasi muda.

Kebudayaan masyarakat Bugis sesungguhnya menyimpan pengetahuan yang sangat kaya, baik yang hadir dalam bentuk buku atau dokumen maupun yang hidup dalam pengalaman dan praktik baik orang tua, petani, nelayan, seniman, pemangku adat, ustadz-guru-dosen, pejabat, pelaku usaha, dan komunitas dengan beragam profesinya. Pengetahuan tentang cara membaca musim, mengelola sawah dan kebun, membuat makanan tradisional, memainkan alat musik, menenun, membangun rumah, menyelenggarakan ritual, bertutur dalam bahasa Bugis, menjaga hubungan sosial, hingga memahami nilai siri’ na pacce merupakan bentuk “tacit knowledge” – pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman dan praktik. Sebagian lainnya berbentuk “explicit knowledge” berupa manuskrip, lontaraq, arsip sejarah, dokumentasi kesenian, foto, film, katalog, penelitian berdampak, hingga data kebudayaan, sebagaimana pemikiran Ikujiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi (1995) dalam bukunya The Knowledge-Creating Company. Merujuk pada pemikiran tersebut, organisasi tidak hanya mengelola pengetahuan yang sudah ada, tetapi dapat menciptakan pengetahuan (knowledge creation) baru melalui interaksi antara pengetahuan tacit dan explicit dengan tujuan membuat pengetahuan tersebar dan diwujudkan menjadi produk, layanan, proses, lingkungan, serta perilaku kreatif inovatif yang bernilai tambah. Dalam konteks budaya Bugis, Gau Maraja dipahami sebagai ruang penciptaan dan lokus sharing pengetahuan dan nilai budaya, karena budaya Bugis bukan sekadar warisan tetapi aset pengetahuan yang bernilai tinggi.

BACA JUGA:  Cure’ Labba sebagai Simbol Penyatu Keturunan Arumpone di Silatnas 2025

Budaya yang hanya disimpan akan menjadi arsip, sementara budaya yang dipraktikkan menjadi identitas diri subyek (warga masyarakat Bugis). Selanjutnya, budaya yang dipelajari, didokumentasikan, dikembangkan, diteladankan, dan dikoneksikan dengan kebutuhan zaman menjadi sumber nilai sosial-ekonomi-politik pembangunan multidimensional, seperti halnya terlihat pada event bertema Gau Maraja.

Event spetakuler tersebut penting bagi Bone dan sekitar karena identitas agraris, sejarah kerajaan dan “birokrasi lokal”, tradisi masyarakat, seni, bahasa, kuliner, dan berbagai warisan budaya yang ditampilkan merupakan asset publik yang dapat dikembangkan secara kreatif dan berkelanjutan. Gau Maraja 2026, mengangkat tema “Simfoni Lumbung: Merayakan Budaya & Pangan”. Tema tersebut mempertemukan kebudayaan dengan pangan dan sejarah agraris Bone.

Rangkaian kegiatannya yang berlangsung 25–30 September 2026 mencakup seminar, karnaval budaya, festival, pesta panen, pameran pusaka, pameran agraris, serta berbagai kegiatan seni dan edukasi. Fenomena ini memberikan sebuah perspektif penting mengenai lumbung yang dipahami bukan hanya sebagai tempat menyimpan gabah (beras) tetapi metafora tentang penyimpanan dan regenerasi pengetahuan masyarakat. Lumbung pangan menyimpan hasil panen untuk masa depan. Demikian pula ”lumbung budaya” menyimpan pengetahuan, nilai, cerita, keterampilan, dan kreativitas yang bernilai untuk diwariskan kepada generasi berikutnya, sebagaimana dibaca “Gau Maraja dengan Model SECI” ala pemikiran Nonaka-Takeuchi.

Model SECI Nonaka–Takeuchi terdiri atas empat kuadran proses berupa Socialization, Externalization, Combination, dan Internalization. Model proses kreasi pengetahuan tersebut menggambarkan wujud pengetahuan tacit (tersirat) dan explicit (tersurat) bertransformasi secara terus-menerus dalam sebuah spiral penciptaan pengetahuan. Dalam konteks Gau Maraja, empat tahap itu diterjemahkan secara praktis.

Socialization – tacit to tacit (sosialisasi antar-pengetahuan tersirat. Pengetahuan budaya pertama-tama tentu dialami sehingga anak muda tidak cukup membaca tentang Mappadendang, Mappacci, tari tradisional, kuliner Bugis, atau tradisi pertanian, melainkan bertemu langsung dengan pelaku budaya, petani, seniman, pemangku adat, dan masyarakat, seperti format Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang mana penulis sebagai bagian dari DPL (dosen pembimbing lapangan) pada beberapa desa di Kabupaten Bone. Festival, lokakarya, sanggar, kunjungan situs, praktik memasak, demonstrasi kerajinan, dan kegiatan komunitas merupakan ruang socialization, dimana pengalaman berpindah dari satu orang kepada orang lain.

Externalization – tacit to explicit (eksternalisasi dari pengetahuan tersirat ke pengetahuan tersurat. Pengalaman tersebut diartikulasikan dalam bentuk cerita para tetua, teknik para perajin, pengetahuan petani, sejarah kampung, legenda, ritual, dan filosofi budaya direkam menjadi buku, film, podcast, arsip digital, dokumenter, katalog, modul pendidikan, atau konten kreatif. Langkah ini penting karena pengetahuan yang tidak didokumentasikan rentan hilang ketika generasi pemilik pengetahuan tidak lagi mampu mentransmisikannya.

BACA JUGA:  MENAKAR STRATEGI PANGAN DAERAH UNTUK STABILITAS HARGA DAN KETAHANAN PANGAN KONSUMEN

Combination – explicit to explicit. Dokumentasi budaya tersebut dikombinasikan dengan pengetahuan lain, dalam teknologi digital, desain, pemasaran, pariwisata, pendidikan, ekonomi kreatif, pertanian, dan riset dan dampaknya, sehingga budaya tersebut menghasilkan inovasi. Cerita agraris Bone dikembangkan menjadi film, motif tradisional diterjemahkan menjadi desain produk, kuliner lokal dikemas menjadi produk ekonomi kreatif yang bernilai tambah, sejarah kerajaan menjadi materi pembelajaran digital, sementara situs budaya dikembangkan menjadi destinasi edukasi sebagai bagian dari edu-tourism.

Internalization – explicit to tacit, ketika pengetahuan yang didokumentasikan kembali menjadi keterampilan dan pengalaman baru. Anak muda yang belajar dari dokumentasi budaya kemudian mempraktikkannya, sehingga mereka tidak hanya “tahu” budaya, tetapi juga mampu melakukan, menciptakan, dan mengembangkan sesuatu berdasarkan budaya tersebut. Dengan demikian, spiral SECI berputar kembali, sebagai pengalaman baru menghasilkan pengetahuan baru, lalu didokumentasikan kembali, dikombinasikan, dan dipraktikkan oleh anak generasi berikutnya.

Dalam konteks pemerintahan Kabupaten Bone, gagasan value creation berbasis budaya ini ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan yang lebih luas. Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Bone periode 2025–2030 (H. Andi Asman Sulaiman, MM. – Dr. Andi Akmal Pasluddin menggunakan identitas program “Beramal” dalam pemerintahannya. Dalam kerangka value creation, relevansinya bukan hanya pada angka-angka prestassi yang diraih semata, seperti prestasi ”Tiga Bersaudara keturuan Bapak Andi Sulaiman”, tetapi juga pada pertanyaan retoris bagaimana pembangunan multidimensional saling mengokohkan melalui Gau Maraja sebagai (salah satu) jawabannya. Pemerintah tentu bukan satu-satunya produsen kebudayaan melainkan berperan sebagai orkestrator ekosistem berjenjang (Bupati, Gubernur, Menteri) guna mempertemukan aparatur negara, beragam komunitas, seniman, akademisi, pelaku usaha, generasi muda, sekolah, desa, media, dan sektor swasta.

Dalam penyelenggaraan event Gau Maraja ini, Pemerintah Kabupaten Bone menyebut kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan, pelaku seni dan budaya lokal, serta berbagai pihak sebagai bagian dari penyelenggaraan festival. Bahkan produksi film “Gau Maraja” diarahkan bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai media untuk menyampaikan program pemerintah sekaligus memperkenalkan nilai lokal Bone. Ini menunjukkan bentuk awal dari externalization dan combination, dimana nilai dan pengalaman budaya diterjemahkan ke dalam medium baru untuk dikombinasikan dengan teknologi informasi dan komunikasi, sebagai bentuk ”Cultural Preservation” Menuju ”Cultural Value Creation.”

***

Pertanyaan retoris terbesar kita bukan “seberapa meriah Gau Maraja?”, melainkan nilai apa yang tersisa setelah panggung dibongkar atau panitia dibubarkan? Jika setelah festival hanya tersisa dokumentasi acara, nilai yang tercipta relatif terbatas. Tetapi jika setelah Gau Maraja lahir arsip budaya digital, film, penelitian berdampak, beragam produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) berbasis kompetensi lokal, seniman baru, komunitas baru, destinasi baru, kurikulum lokal, inovasi pangan, jejaring akademik, dan generasi muda yang semakin paham akar budayanya, maka inilah wujud apresiasi dan reaktualisasinya dalam menciptakan cultural value. Oleh karena itu, Gau Maraja dapat diarahkan menjadi “living laboratory” kebudayaan Bugis dan materi pelajaran pada Universitas Kehidupan. Ukuran keberhasilannya diperluas menjadi beberapa indikator, pengetahuan lokal yang terdokumentasi, komunitas yang terlibat, anak muda yang belajar, produk kreatif yang lahir, riset berdampak yang dihasilkan, usaha budaya yang berkembang, dan modal pengetahuan yang dipraktikkan (direaktualisasi) masyarakat sebagai wujud titik temu antara budaya, pengetahuan, inovasi, dan pembangunan daerah.

BACA JUGA:  BANK SYARIAH (7):  MENJAWAB TANTANGAN PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT

Gau Maraja akhirnya bukan sekadar tentang mengenang masa lalu, melainkan sebagai mekanisme untuk mengubah masa lalu menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi inovasi yang bernilai ekonomi dan sosial, dan nilai yang kembali memperkuat identitas masyarakat Bugis. Jika lumbung menyimpan pangan untuk menjamin kehidupan esok hari, Gau Maraja dipahami sebagai lumbung pengetahuan budaya – tempat masyarakat menyimpan ingatan, mengolah pengalaman, menciptakan gagasan baru, dan menyiapkan identitas untuk generasi berikutnya. Semoga!

Nonaka, I., & Takeuchi, H. (1995). The Knowledge-Creating Company: How Japanese Companies Create the Dynamics of Innovation. Oxford University Press. OOUP Academic

Nonaka, I., Toyama, R., & Konno, N. (2000). “SECI, Ba and Leadership: A Unified Model of Dynamic Knowledge Creation.” Long Range Planning, 33(1), 5–34. SScienceDirect

Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan. “Gau’ Maraja 2022.” Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Kemdikbud Kebudayaan

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX. Laporan Kinerja 2025 — bagian Festival Gau Maraja. Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX

Pemerintah Kabupaten Bone. “Capaian 1 Tahun Pemerintahan Beramal Bone,” 20 Februari 2026. Bone

Pemerintah Kabupaten Bone. “Bupati Bone Bahas Persiapan Gau Maraja Festival Seni Budaya Agraris 2026,” 1 September 2026. Bone

Pemerintah Kabupaten Bone. “Jelang Gau Maraja 2026, Bupati Bone Ikut Shooting Perdana Film ‘Gau Maraja’,” 8 September 2026. Bone

Pemerintah Kabupaten Bone. “Madduppa Gau Awali Gau Maraja 2026,” 12 September 2026. BBone

RRI Bone. “Festival Gau’ Maraja 2026 Angkat Tema ‘Simfoni Lumbung’ Perkuat Identitas Budaya,” 22 Juli 2026. RRI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.