Gandeng Mahasiswa Uniasman, Pemerintah Tanete Riattang Timur Angkat Tradisi Maloro Lopi di Gau Maraja

oleh -43 x dibaca

BONE, TRIBUNBONEONLINE.COM– Derap langkah, lantunan Barasanji, gerak tari, dan semangat gotong royong mewarnai Karnaval Budaya Gau Maraja 2026 di Kabupaten Bone, Ahad (27/9/2026). Di tengah kemeriahan event kebudayaan tersebut, Pemerintah Kecamatan Tanete Riattang Timur berkolaborasi dengan mahasiswa Universitas Andi Sudirman menghadirkan sebuah persembahan yang mengangkat denyut kehidupan masyarakat pesisir.

Mengusung tema “Layar Budaya, Semangat Pesisir”, kolaborasi tersebut menampilkan tradisi Maloro Lopi atau mendorong perahu. Tradisi ini menggambarkan masyarakat pesisir ketika melepas lopi atau perahu menuju laut untuk mencari rezeki.

Namun, Maloro Lopi bukan sekadar prosesi mendorong perahu. Di dalamnya tersimpan doa, harapan, keberanian, kebersamaan, serta semangat gotong royong yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Prosesi diawali dengan kehadiran Punggawa Lopi sebagai pemilik perahu, Juragan Lopi sebagai pemimpin pelayaran, serta Sandro Lopi atau dukun perahu yang memanjatkan doa keselamatan dan keberkahan sebelum perjalanan dimulai.

Suasana semakin sakral ketika Pabbarasanji mengiringi prosesi dengan lantunan Barasanji. Di sisi lain, Padoko membawa sejumlah bekal dan persembahan ritual yang terdiri atas onde-onde, sokko lotong, sokko putih, bella lawo, pisang goreng, pisang tandang, pisang nisi, pisang manurung, ayam likku, kelapa muda, dan telur masak.

BACA JUGA:  Berkarya Lewat Irama, Tim Marawis MTsN 4 Bone Hadir di Berbagai Hajatan Masyarakat 

Beragam makanan tersebut bukan sekadar pelengkap prosesi. Setiap hidangan menjadi simbol bekal, rasa syukur, doa, serta harapan agar perjalanan melaut diberikan keselamatan dan keberkahan.

Setelah seluruh persiapan selesai, Paloro Lopi atau para pendorong perahu bersama awak kapal mulai mendorong perahu menuju laut. Gerakan tersebut menjadi gambaran tentang bagaimana masyarakat pesisir membangun kekuatan melalui kebersamaan.

Di balik dorongan tangan-tangan tersebut terdapat perjuangan masyarakat pesisir dalam mencari rezeki sebagai nelayan sekaligus menjaga keberlangsungan sumber pangan laut bagi masyarakat di Kecamatan Tanete Riattang Timur.

Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Tanete Riattang Timur, Andi Habibie, S.T., M.Si. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan pemerintah kecamatan terhadap pelestarian budaya sekaligus perhatian terhadap kehidupan masyarakat pesisir, termasuk pentingnya menjaga ketahanan pangan dan ketersediaan hasil laut bagi masyarakat.

Persembahan budaya itu juga menghadirkan Putri Laut Tangkulara sebagai simbol keindahan, kekuatan, dan kekayaan laut. Kehadirannya berpadu dengan gerak tarian kolosal yang menggambarkan gelombang laut, semangat melaut, serta harapan yang terus tumbuh bagi keluarga dan masyarakat.

BACA JUGA:  Tampil Memukau di Karnaval Budaya HJB, PSB Bone Sangdara Diapresiasi

Di tengah kemeriahan karnaval, mahasiswa Universitas Andi Sudirman tampil bukan sekadar sebagai peserta. Mereka menjadi bagian dari upaya menghadirkan kembali nilai-nilai tradisi melalui seni pertunjukan. Kolaborasi antara Pemerintah Kecamatan Tanete Riattang Timur dan Sanggar Seni Budaya Yayasan Andi Sudirman tersebut mempertemukan tiga unsur penting: tradisi, seni, dan kehidupan masyarakat pesisir.

Pembina Yayasan Universitas Andi Sudirman, Andi Harni, S.ST., M.H., menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kecamatan Tanete Riattang Timur yang telah menggandeng Universitas Andi Sudirman untuk ambil bagian dalam Karnaval Budaya Gau Maraja 2026. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kecamatan Tanete Riattang Timur yang telah menggandeng Kampus Universitas Andi Sudirman untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan event nasional kebudayaan, yakni Karnaval Budaya Gau Maraja tahun 2026 yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan RI di Kabupaten Bone,” ujarnya.

BACA JUGA:  Keluarga Besar UPT SDI 6/75 Corawali Sambut Hari Jadi Bone Ke-695 Dengan Semangat Kebudayaan

Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengalaman dalam mengikuti sebuah event kebudayaan, tetapi juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang kesenian. “Kehadiran mahasiswa Universitas Andi Sudirman tidak hanya memberikan pengalaman, namun juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyalurkan bakat dan kemampuannya di bidang kesenian,” katanya.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah kecamatan dan perguruan tinggi tersebut dapat terus berlanjut dalam berbagai kegiatan mendatang. “Kita berharap kolaborasi seperti ini terus berlanjut. Kami dari Universitas Andi Sudirman selalu siap mengambil bagian untuk memperkuat pemerintah kecamatan dalam berbagai event ke depan,” tuturnya.

Karnaval Budaya Gau Maraja akhirnya bukan hanya menjadi panggung untuk menampilkan kesenian. Melalui Maloro Lopi, masyarakat diajak melihat kembali kehidupan pesisir sebagai bagian penting dari identitas dan kebudayaan daerah. Sebab, Maloro Lopi bukan sekadar mendorong perahu menuju laut. Ia adalah kisah tentang doa yang dipanjatkan, tangan yang bergotong royong, dan harapan yang terus berlayar. (Ag)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.