Coaching Clinic LPPM Universitas Andi Sudirman Membuka Jalan Dosen Menuju Jurnal Bereputasi

oleh -61 x dibaca

WATAMPONE, TRIBUNBONEONLINE.COM–Meningkatkan jumlah sekaligus mutu publikasi ilmiah dosen menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat kualitas akademik perguruan tinggi. Menjawab kebutuhan tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andi Sudirman menggelar Coaching Clinic bertema “Akselerasi Publikasi Ilmiah: Strategi Jitu Menembus Jurnal Internasional Bereputasi”, Sabtu, 5 September 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Universitas Andi Sudirman tersebut dibuka langsung oleh Rektor Universitas Andi Sudirman, Dr. H. M. Yasin, SH., MH. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Yusriadi, SH., M.Si. sebagai narasumber yang dinilai memiliki kompetensi dan pengalaman dalam bidang penulisan karya ilmiah serta publikasi pada jurnal internasional.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Andi Sudirman mengapresiasi pelaksanaan Coaching Clinic tersebut. Menurutnya, kehadiran narasumber yang kompeten diharapkan dapat membantu para dosen menghadapi berbagai kendala dalam menghasilkan dan mempercepat publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi.

“Betapa urgennya jurnal ini. Tidak hanya dituntut untuk pemenuhan indikator kinerja utama institusi, tetapi juga dituntut untuk menunjang pengembangan karier akademik dan fungsional dosen,” ujar Dr. H. M. Yasin.

Menurutnya, peningkatan publikasi ilmiah tidak semata-mata berkaitan dengan pencapaian indikator institusi. Lebih dari itu, publikasi menjadi bagian penting dalam perjalanan akademik dosen, termasuk dalam pengembangan karier dan peningkatan kontribusi keilmuan di tingkat global.

Mengangkat tema “Akselerasi Penulisan Ilmiah: Strategi Jitu Menembus Jurnal Internasional Bereputasi”, kegiatan ini menjadi ruang bagi para dosen untuk memahami lebih jauh tantangan yang selama ini kerap menjadi penghambat publikasi.

Rektor mengungkapkan sejumlah persoalan yang umumnya dihadapi penulis dan peneliti ketika hendak menembus jurnal internasional bereputasi. Salah satunya adalah belum tersedianya panduan penulisan yang benar-benar dapat menjadi pedoman bagi penulis.

Hal-hal teknis seperti tata cara pengetikan, ukuran huruf, spasi, penggunaan catatan kaki hingga format kertas, menurutnya, perlu dipahami secara baik. Ketidaksesuaian dengan pedoman jurnal dapat menjadi salah satu alasan sebuah artikel ditolak sebelum masuk ke proses penilaian substansi yang lebih jauh.

Persoalan berikutnya adalah penggunaan bahasa Inggris akademik. Menurut Rektor, masih terdapat penulis yang menggunakan bahasa Inggris yang bersifat lokal, bukan bahasa Inggris akademik yang lazim digunakan dalam komunikasi ilmiah global.

“Seolah-olah bahasa kita pakai, ya bahasa Inggrisnya lokal, bukan bahasa Inggris global. Sehingga sangat sulit dipahami oleh reviewer internasional dan gampang juga ditolak,” jelasnya.

Persoalan biaya dan ketidakpastian waktu publikasi juga menjadi tantangan tersendiri. Penulis perlu mempertimbangkan biaya publikasi yang relatif tinggi sekaligus memahami bahwa proses penerbitan jurnal internasional dapat berlangsung dalam waktu yang tidak singkat.

BACA JUGA:  Murid SD Negeri 261 Tarasu Taklukkan Gunung Tertinggi Kedua di Indonesia 

Tidak kalah penting, Rektor mengingatkan para dosen agar berhati-hati terhadap jurnal predator. Tawaran publikasi dalam waktu sangat singkat dengan biaya tertentu, menurutnya, perlu dicermati agar penulis tidak terjebak pada penerbit yang tidak kredibel.

“Kalau ada yang menjanjikan, misalnya tiga bulan sudah terbit dan bayarnya sangat mahal, kita harus hati-hati,” tegasnya.

Selain persoalan teknis, tantangan lain yang perlu mendapat perhatian adalah aspek substansi penelitian. Salah satunya berkaitan dengan kebaruan atau novelty.

Artikel yang mengangkat topik yang sudah terlalu banyak diteliti dan hanya mengulang penelitian sebelumnya berpotensi dinilai tidak memberikan kontribusi ilmiah yang cukup bagi pembaca global.

Karena itu, dosen dituntut untuk mampu menemukan celah penelitian (research gap), menawarkan kebaruan, serta menjelaskan kontribusi penelitian secara jelas dan meyakinkan. Kualitas referensi juga menjadi perhatian. Penggunaan sumber lokal yang dominan tanpa dukungan referensi internasional yang memadai dapat membuat artikel kurang kuat dalam membangun diskursus akademik global.

Narasumber, Dr. Yusriadi, SH., M.Si., akademisi, peneliti, dan penyunting independen yang memiliki pengalaman luas dalam ekosistem publikasi ilmiah internasional dalam pemaparannya menggambarkan bahwa publikasi ilmiah yang kuat tidak lahir semata-mata dari kemampuan menulis, tetapi dari riset yang mampu menghubungkan persoalan akademik dengan kebutuhan masyarakat.

Berafiliasi dengan Universitas Cahaya Prima, Indonesia, Yusriadi dikenal aktif melakukan penelitian di bidang administrasi publik, governance, kebijakan publik, kapasitas kelembagaan, ketahanan pangan pedesaan, resiliensi sosial, tata kelola digital, inovasi sektor publik, hingga adaptasi perubahan iklim.

Pengalaman tersebut juga membawanya terlibat dalam berbagai aktivitas akademik internasional. Ia tercatat memiliki pengalaman sebagai editor pada penerbit Springer serta menjadi mitra bestari atau reviewer independen untuk sejumlah jurnal internasional yang diterbitkan oleh Elsevier, Springer, SAGE, Emerald, Frontiers, dan MDPI.

Selain itu, ia juga terlibat sebagai reviewer atau evaluator hibah penelitian pada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Rekam jejak bibliometriknya menunjukkan aktivitas publikasi dan sitasi yang cukup kuat. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan, Yusriadi memiliki 132 dokumen Scopus, 1.076 sitasi, dan h-index 20. Sementara pada Google Scholar tercatat 5.106 sitasi dengan h-index 39.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam memberikan perspektif praktis kepada para dosen Universitas Andi Sudirman mengenai bagaimana sebuah artikel dinilai sebelum akhirnya diputuskan untuk diterima atau ditolak oleh jurnal internasional.

Salah satu pesan utama dalam coaching clinic tersebut adalah pentingnya mengubah cara pandang dalam menulis artikel ilmiah.

BACA JUGA:  UPT SMP Negeri 1 Palakka Raih Prestasi Gemilang pada Ajang Sective Vol VII

Menurut Dr. Yusriadi, banyak peneliti pemula masih membawa pola penulisan laporan penelitian ketika menyusun artikel jurnal. Setiap bagian ditulis secara berurutan, tetapi belum tentu memiliki benang merah argumentasi yang kuat.

Padahal, editor dan reviewer jurnal bereputasi tidak sekadar melihat apakah sebuah artikel memiliki pendahuluan, tinjauan pustaka, metode, hasil, dan pembahasan. Mereka ingin melihat argumentasi ilmiah yang utuh.

Karena itu, manuskrip ilmiah harus mampu menjawab enam pertanyaan mendasar: apakah masalah penelitian penting, apakah terdapat research gap yang nyata, apakah penelitian memiliki kebaruan, apakah metode mampu menjawab pertanyaan penelitian, apakah kesimpulan didukung oleh bukti, dan apa kontribusi artikel tersebut terhadap literatur.

Dengan demikian, artikel yang kuat harus memiliki rantai argumentasi yang jelas: Problem → Gap → Question → Method → Evidence → Explanation → Contribution. Rangkaian tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh bagian manuskrip.

Pada bagian lain, peserta coaching clinic diajak membedah fungsi masing-masing bagian dalam manuskrip ilmiah. Abstrak, misalnya, tidak boleh hanya menjadi ringkasan umum penelitian. Abstrak harus mampu menjadi miniatur artikel yang memuat persoalan, metode, temuan utama, serta implikasi penelitian.

Sementara pendahuluan perlu dibangun dengan logika yang mengarahkan pembaca dari fenomena yang lebih luas menuju persoalan spesifik, pengetahuan yang telah tersedia, research gap, hingga pertanyaan penelitian.

Hal serupa berlaku pada tinjauan literatur. Menurut Yusriadi, penulis perlu menghindari apa yang disebut sebagai “citation dumping”, yakni sekadar menumpuk banyak sitasi tanpa menunjukkan hubungan dan perdebatan antargagasan. Literatur harus digunakan untuk membangun argumentasi, memetakan perdebatan ilmiah, sekaligus menemukan ruang yang belum terjawab.

Pada bagian hasil, peneliti dituntut menyajikan temuan secara objektif sesuai dengan pertanyaan penelitian. Sedangkan pembahasan harus mampu menjawab pertanyaan yang lebih penting: “So what?”

Artinya, pembahasan tidak cukup berhenti pada pola finding → citation. Penulis perlu membawa temuan menuju interpretasi, mekanisme, perbandingan dengan penelitian sebelumnya, dan akhirnya menunjukkan kontribusinya terhadap pengembangan pengetahuan.

Selain membahas anatomi manuskrip, coaching clinic juga memberikan bekal praktis mengenai strategi memilih jurnal internasional. Bagi peneliti pemula, menurut Yusriadi, publikasi pada jurnal terindeks Scopus tidak harus selalu identik dengan biaya publikasi yang mahal. Penulis perlu memahami model bisnis jurnal dan membedakan antara jurnal open access dengan jurnal subscription maupun hybrid.

Strategi lain yang disampaikan adalah melakukan pemantauan secara berkala terhadap daftar jurnal yang terindeks Scopus. Peneliti perlu memastikan bahwa jurnal yang dituju masih berada dalam cakupan indeks dan sesuai dengan bidang keilmuan artikelnya. Yusriadi juga mendorong peserta agar tidak hanya terpaku pada jurnal-jurnal yang sudah sangat populer. Jurnal yang relatif baru terindeks Scopus dapat menjadi salah satu alternatif, sepanjang memiliki reputasi, cakupan bidang yang sesuai, dan proses editorial yang kredibel.

BACA JUGA:  UPT SDN 19 Toro Gelar Kegiatan P5 Bertema Kearifan Lokal Murid Antusias Belajar Membuat Kue Tradisional

Dalam memilih jurnal, peneliti juga perlu mempertimbangkan sejumlah indikator praktis, seperti kesesuaian scope, kecepatan first decision, kebijakan biaya publikasi, serta peluang kesesuaian artikel dengan fokus jurnal.

Sebelum mengirimkan naskah secara penuh, penulis bahkan dapat melakukan pre-submission inquiry kepada editor untuk mengetahui apakah topik dan pendekatan penelitian yang ditawarkan sesuai dengan cakupan jurnal.

Kegiatan Coaching Clinic yang digelar LPPM Universitas Andi Sudirman tersebut pada akhirnya tidak hanya diarahkan untuk mengejar bertambahnya jumlah publikasi. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya akademik yang menempatkan publikasi sebagai sarana untuk menyebarluaskan pengetahuan, memperkuat reputasi institusi, serta memberikan kontribusi terhadap penyelesaian persoalan masyarakat.

Rekam jejak penelitian Dr. Yusriadi turut memperlihatkan bagaimana riset dapat diarahkan pada isu-isu yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Sejumlah penelitian kompetitif yang pernah dipimpinnya antara lain berkaitan dengan kemandirian pangan desa, penanggulangan stunting, agroforestry dan modal sosial, adaptasi ketahanan pangan terhadap perubahan iklim, hingga tata kelola pertanian regeneratif.

Karya ilmiahnya juga telah dipublikasikan dalam berbagai jurnal internasional, di antaranya Social Sciences & Humanities Open, Frontiers in Sustainable Food Systems, Discover Applied Sciences, serta Scientific Reports yang merupakan bagian dari Nature Portfolio.

Di luar artikel jurnal, Yusriadi juga menghasilkan sejumlah buku dan monograf, termasuk Agroforestry dan Social Capital dalam Pengembangan Ketahanan Pangan Desa, Metodologi Penelitian Sosial: Dari Teori ke Praktek, Community Empowerment Through Governance, Circular Economy, and Social Innovation, Pengentasan Kemiskinan: Program Keluarga Harapan dan Sociopreneur, serta Reformasi Birokrasi dalam Pelayanan Publik.

Melalui coaching clinic ini, LPPM Universitas Andi Sudirman berharap para dosen tidak hanya semakin produktif dalam menghasilkan manuskrip, tetapi juga semakin matang dalam merancang penelitian, membangun argumentasi ilmiah, memilih jurnal yang tepat, dan menghadirkan karya yang memiliki kontribusi nyata.

Sebab, menembus jurnal internasional bereputasi bukan semata persoalan mengirim artikel dan menunggu keputusan editor. Di balik sebuah artikel yang berhasil diterima, terdapat proses panjang untuk menemukan persoalan yang penting, mengidentifikasi celah pengetahuan, membangun metode yang tepat, menyajikan bukti yang kuat, serta menjelaskan apa yang benar-benar baru dari penelitian tersebut bagi dunia ilmu pengetahuan. (Ag)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.