Memaknai Kemerdekaan Indonesia ke-81: Refleksi Go In dan Go Out

oleh -52 x dibaca
Dr. Muhammad Asriady

Oleh: Dr. H. Muhammad Asriady, S.Th.I., M.Th.I.

(Divisi Humas Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Dosen Pascasarjana IAIN Bone)

Merdeka! Satu kata sederhana yang melintasi sejarah, memantik keberanian jutaan jiwa di masa lalu. Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari kenyamanan, melainkan ditebus dengan darah, air mata, dan pengorbanan dahsyat para pahlawan yang memproklamasikan kedaulatan bangsa pada 17 Agustus 1945.

Secara filosofis, paham kebangsaan lahir dari ikatan batin yang mendalam. Sebagaimana dicetuskan oleh filsuf Prancis, Ernest Renan, pada tahun 1882 di Universitas Sorbonne, bangsa adalah sekelompok manusia yang dipersatukan oleh “keinginan untuk hidup bersama” (le désir de vivre ensemble) atas dasar persamaan sejarah dan budaya.

BACA JUGA:  Kelelahan Massal: Mengapa Istirahat Kini Terasa Seperti Berdosa?

Namun, memasuki usia ke-81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, kita perlu mengajukan pertanyaan reflektif ke dalam diri masing-masing: Apakah kita telah benar-benar merdeka, dan apa kontribusi nyata kita untuk bangsa ini?

Memaknai kemerdekaan saat ini tidak lagi cukup dengan pekikan sloganis, formalitas upacara, atau sekadar mendengarkan teks proklamasi. Tantangan abad ini menuntut keberanian baru melalui dua pijakan utama yang diresapi dari pesan Anregurutta Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA dengan Go In dan Go Out.

Go In: Kenali Diri dan Tahu Diri

Perjuangan era modern dimulai dari kedalaman jiwa. Go In adalah proses introspeksi untuk mengenali potensi, kelemahan, serta batas kapasitas diri.

BACA JUGA:  Pembelajaran Siklus Kehidupan dalam Pengelolaan Limbah Domestik: Materi Ujian Promosi Doktor Kartika Karim Kasim

Tahu diri berarti memahami peran dan tanggung jawab moral yang diemban. Individu yang telah tuntas dengan dirinya sendiri tidak akan menjadi beban sosial, melainkan tumbuh menjadi fondasi yang kokoh dan berdaya guna bagi agama, masyarakat, dan negara.

Go Out: Mengenal Indonesia dan Keberagamannya

Setelah menguatkan kapasitas internal, langkah berikutnya adalah bergerak ke luar (Go Out). Ini adalah proses membuka mata dan hati untuk melihat Indonesia secara utuh—mencakup potensi kekayaannya hingga persoalan ketimpangan sosial yang masih ada.

Gerakan Go Out menuntut kearifan sikap:

Menyamakan yang sama: Bersatu di bawah payung kemanusiaan, rasa cinta tanah air, dan cita-cita keadilan sosial.

Membedakan yang berbeda: Bertoleransi serta menghargai keunikan latar belakang, budaya, dan pandangan secara objektif dan dewasa.

BACA JUGA:  Ayo Tinggalkan Legacy Baik: Menata Masa Depan DAS Walennae di Kabupaten Bone

Mensyukuri keragaman: Memandang perbedaan bukan sebagai penyekat, melainkan sebagai fondasi kekuatan dan kekayaan bangsa.

Kemerdekaan Sejati Hari Ini

Merayakan 81 tahun Indonesia merdeka adalah momentum untuk mengokohkan jiwa dan raga dalam menjaga kedaulatan. Kemerdekaan sejati tercapai ketika setiap individu mampu mandiri (berdikari) sekaligus bergotong royong mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

Musuh kita hari ini bukan lagi penjajah bersenjata, melainkan rasa malas, ketidakpedulian, dan kebodohan. Mari jadikan momen 17 Agustus 2026 ini sebagai bukti nyata bahwa perjuangan para leluhur tidak pernah sia-sia.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA. MERDEKA!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.