Sangdara dalam Festival Lampu’ Toae, Merawat Ruang Budaya Pesisir Kajuara

oleh -144 x dibaca

KAJUARA, TRIBUNBONEONLINE.COM– Festival Lampu’ Toae ditetapkan sebagai Zona 6 Gau’ Maraja 2026, membawa perayaan seni dan kebudayaan Bone ke Kajuara. Lebih dari sekadar agenda pertunjukan, festival ini diarahkan menjadi ruang untuk mempertemukan seni, tradisi, pengetahuan lokal, serta kehidupan masyarakat yang tumbuh di kawasan pesisir.

Persiapan festival dimatangkan melalui rapat koordinasi di Kantor Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone, Selasa (11/8/2026). Kegiatan tersebut melibatkan unsur pemerintah, komunitas budaya, dan lembaga pendidikan.

Festival dilaksanakan oleh pemerhati seni dan budaya Bone, Sangdara, di bawah kepemimpinan Wiwi Wahyuni, S.Tr.Ab. Dengan melibatkan Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone, Pemerintah Kecamatan Kajuara, Pemerintah Desa Angkue, serta Yayasan Pendidikan Lontara Hijau Foundation.

BACA JUGA:  KUA Ponre Meriahkan HJB Ke-695, Kompak Berpakaian Baju Adat Layani Masyarakat 

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone, Hj. Andi Murni Al, S.E., M.Hum., mengatakan Festival Lampu’ Toae diharapkan tidak berhenti sebagai pertunjukan, tetapi menjadi ruang kebudayaan yang tumbuh bersama masyarakat.

“Festival ini bukan sekadar menghadirkan pertunjukan. Yang ingin kita bangun adalah ruang kebudayaan yang tumbuh bersama masyarakat. Kajuara memiliki kekayaan budaya sekaligus pengetahuan yang lahir dari hubungan masyarakat dengan lingkungan dan ruang pesisirnya.” ucap Hj. Andi Murni Al, S.E., M.Hum., Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone

Bagi Sangdara, keterlibatan dalam Zona 6 menjadi kesempatan menghadirkan ekspresi budaya Kajuara sekaligus mengangkat pengetahuan masyarakat yang lahir dari lingkungan tempat mereka hidup.

BACA JUGA:  Pentingnya Kebersihan Lingkungan Murid UPT SDI 5 /81 Samaelo Laksanakan Kerja Bakti

Kehidupan pesisir membentuk pengetahuan tentang laut, musim, angin, sumber daya alam, hingga cara masyarakat beradaptasi dengan lingkungannya. Pengetahuan semacam ini diwariskan melalui praktik dan pengalaman, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan masyarakat.

Ketua Sangdara, Wiwi Wahyuni, S.Tr.Ab. mengatakan festival diharapkan menjadi ruang perjumpaan antara masyarakat dan pelaku budaya.

“Kami ingin Festival Lampu’ Toae lahir dari masyarakat Kajuara. Bukan hanya untuk ditonton, tetapi menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperlihatkan apa yang mereka miliki dan apa yang mereka wariskan.” ungkap Wiwi Wahyuni, S.Tr.Ab., ketua Sangdara

Kolaborasi dengan Yayasan Pendidikan Lontara Hijau Foundation turut memperluas festival pada aspek pendidikan dan literasi. Pengetahuan lokal, tradisi, bahasa, serta pengalaman masyarakat dapat menjadi bagian dari proses pewarisan kebudayaan antargenerasi.

BACA JUGA:  Penyuluhan Bahaya Rokok Manfaat Limbah Bako Rokok dan Buah Pare oleh Tim Bio-Insecticide

Penetapan Kajuara sebagai Zona 6 memperluas ruang perayaan Gau’ Maraja dari pusat kota hingga desa dan kawasan pesisir. Di ruang inilah kebudayaan tidak hanya dipertunjukkan, tetapi dapat dibaca melalui hubungan masyarakat dengan tempat tinggal, lingkungan, dan pengetahuan yang diwariskan.

Festival Lampu’ Toae pada akhirnya bukan hanya tentang menghadirkan seni ke panggung Gau’ Maraja, tetapi tentang membawa cerita Kajuara, budayanya, masyarakatnya, dan pengetahuan yang tumbuh dari lingkungan pesisir menjadi bagian dari wajah kebudayaan Bone.  (Julfiadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.