KKN Mengabdi, UNIM Bone Menginspirasi: Dari Desa untuk Indonesia

oleh -395 x dibaca
Dr. Muh. Safar, M.Pd

Oleh: Dr. Muh. Safar, S.Pd., M.Pd.

Ketua Panitia Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan VI Tahun 2026 Universitas Muhammadiyah Bone

Perguruan tinggi sejatinya tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghadirkan solusi bagi masyarakat. Ilmu pengetahuan akan kehilangan maknanya apabila berhenti di ruang kuliah, laboratorium, atau perpustakaan. Ia harus menjelma menjadi tindakan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat. Dalam konteks itulah Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi salah satu instrumen paling strategis untuk menghadirkan kampus yang benar-benar berdampak.

Di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar teori. Mereka membutuhkan pendamping, mitra berpikir, sekaligus penggerak perubahan. KKN menjembatani kebutuhan tersebut. Mahasiswa hadir bukan sebagai “penyelesai semua persoalan”, melainkan sebagai bagian dari ekosistem pemberdayaan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan realitas kehidupan.

Pada tahun 2026, Universitas Muhammadiyah Bone kembali menegaskan komitmen tersebut melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Angkatan VI yang melibatkan 573 mahasiswa. Jumlah ini bukan sekadar statistik akademik, melainkan representasi semangat pengabdian generasi muda yang siap belajar bersama masyarakat sekaligus menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Sebanyak 422 mahasiswa mengikuti KKN Reguler yang dilaksanakan pada 3 Agustus hingga 11 September 2026. Mereka akan mengabdi di 10 kecamatan dan 40 desa di Kabupaten Bone, serta didukung oleh satu Posko Kampus sebagai pusat koordinasi. Di desa-desa itulah mahasiswa akan berinteraksi dengan masyarakat, mengembangkan berbagai program pendidikan, pemberdayaan ekonomi, literasi digital, kesehatan, hingga penguatan potensi lokal sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.

BACA JUGA:  TANTANGAN KERJA-KERJA SOSIALISASI PENDIDIKAN PEMILIH DALAM PENYELENGGARAAN PEMILU DAN PEMILUKADA 

Lebih awal, sebanyak 150 mahasiswa akan mengikuti KKN Muhammadiyah-’Aisyiyah (MAs) yang berlangsung pada 27 Juli sampai 1 September 2026 di Malang. Program ini memiliki makna yang sangat penting karena mempertemukan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah di Indonesia dalam satu ruang pengabdian. Mereka tidak hanya membawa identitas kampus masing-masing, tetapi juga memperkuat semangat kolaborasi sebagai bagian dari gerakan dakwah pencerahan Muhammadiyah yang berorientasi pada kemaslahatan umat.

Sementara itu, Universitas Muhammadiyah Bone juga mengirimkan satu mahasiswi terbaik, Ersa FM Santiago dari Program Studi Teknologi Pendidikan, untuk mengikuti KKN Internasional di Malaysia pada Oktober 2026. Jumlah pesertanya memang hanya satu orang, tetapi maknanya jauh lebih besar daripada angka tersebut. Kehadirannya menjadi simbol bahwa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bone memiliki kapasitas untuk membawa nilai-nilai keilmuan, pengabdian, dan budaya Indonesia ke ruang global.

Ketiga skema tersebut menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat kini tidak lagi dipahami secara sempit sebagai kegiatan yang terbatas pada wilayah tertentu. Pengabdian berkembang dari level lokal, bergerak ke tingkat nasional, hingga menjangkau arena internasional. Inilah wajah baru perguruan tinggi yang mampu berpikir global tanpa kehilangan akar lokalnya.

Namun, substansi KKN sesungguhnya tidak terletak pada luasnya wilayah pengabdian ataupun banyaknya peserta yang diberangkatkan. Esensi KKN adalah transformasi.

Transformasi pertama terjadi pada masyarakat. Kehadiran mahasiswa diharapkan menjadi katalisator yang menggerakkan berbagai potensi desa. Mahasiswa dapat menjadi mitra bagi pemerintah desa, sekolah, kelompok tani, pelaku UMKM, organisasi kepemudaan, maupun komunitas perempuan dalam mengembangkan berbagai inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pengabdian bukan tentang menghadirkan program yang mewah, melainkan menghadirkan solusi yang relevan, sederhana, dan berkelanjutan.

BACA JUGA:  ZAKAT PERNIAGAAN: KUNCI KESEIMBANGAN BISNIS DAN KEBERKAHAN

Transformasi kedua justru terjadi pada diri mahasiswa. Mereka meninggalkan ruang kuliah untuk memasuki ruang kehidupan yang sesungguhnya. Di desa, mahasiswa belajar bahwa teori tidak selalu berjalan lurus dengan kenyataan. Mereka belajar mendengar sebelum berbicara, memahami sebelum menawarkan solusi, serta menghargai kearifan lokal sebagai sumber pengetahuan yang tidak kalah berharganya dengan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah.

Di sinilah karakter kepemimpinan dibentuk. Mahasiswa belajar bekerja sama, beradaptasi dengan budaya masyarakat, menyelesaikan persoalan melalui musyawarah, sekaligus mengembangkan empati sosial. Pengalaman seperti ini tidak mungkin diperoleh hanya melalui perkuliahan di kelas.

Oleh karena itu, mahasiswa yang mengikuti KKN harus meninggalkan paradigma “datang untuk mengajar” dan menggantinya dengan semangat “datang untuk belajar bersama”. Masyarakat bukan objek pengabdian, melainkan subjek pembangunan. Kampus dan masyarakat harus berjalan sebagai mitra yang saling menguatkan.

Sebagai Ketua Panitia KKN Angkatan VI Universitas Muhammadiyah Bone, saya meyakini bahwa keberhasilan KKN tidak ditentukan oleh banyaknya kegiatan seremonial, spanduk yang terpasang, ataupun tebalnya laporan akhir. Ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah sejauh mana kehadiran mahasiswa mampu meninggalkan nilai, menggerakkan partisipasi masyarakat, dan menumbuhkan optimisme bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah kecil.

BACA JUGA:  Dari Upah Murah ke Hidup Layak, Solusi Islam Untuk P3K Paruh Waktu

Tidak semua hasil pengabdian dapat dilihat dalam hitungan minggu. Sebagian manfaat baru akan tumbuh bertahun-tahun kemudian. Mungkin ada seorang anak desa yang bercita-cita melanjutkan pendidikan tinggi setelah bertemu mahasiswa KKN. Mungkin ada pelaku UMKM yang mulai memasarkan produknya secara digital setelah memperoleh pendampingan. Mungkin pula ada pemerintah desa yang melanjutkan program pemberdayaan yang pernah dirintis mahasiswa. Semua itu merupakan jejak pengabdian yang tidak selalu tercatat dalam laporan, tetapi hidup dalam perjalanan masyarakat.

Pada akhirnya, KKN bukan hanya tentang mahasiswa yang turun ke desa. KKN adalah tentang kampus yang turun tangan. Ketika ilmu pengetahuan berpadu dengan kepedulian, ketika kecerdasan akademik berjalan berdampingan dengan empati sosial, saat itulah perguruan tinggi menjalankan fungsi hakikinya sebagai agen perubahan.

Universitas Muhammadiyah Bone terus berkomitmen menghadirkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam kompetensi, tetapi juga memiliki jiwa pengabdian. Sebab kami meyakini bahwa kampus yang besar bukanlah kampus yang sekadar dikenal karena gedungnya, melainkan kampus yang dikenang karena manfaat yang ditinggalkannya.

Melalui KKN Angkatan VI Tahun 2026, kami mengirimkan ratusan mahasiswa untuk membawa ilmu, menebarkan inspirasi, dan belajar dari masyarakat. Dari desa-desa di Kabupaten Bone, dari kolaborasi nasional di Malang, hingga pengabdian lintas negara di Malaysia, kami ingin menegaskan satu pesan: pengabdian tidak mengenal batas wilayah, dan ilmu pengetahuan akan menemukan makna tertingginya ketika diabdikan untuk kemaslahatan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.