Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bone Ubah Limbah Kotoran Sapi dan Sekam Padi Menjadi Pupuk Organik Bernilai Ekonomis

oleh -31 x dibaca

WATAMPONE, TRIBUNBONEONLINE.COM–Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bone yang tergabung dalam Tim PKM BioCycle melaksanakan kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan memanfaatkan limbah organik berupa kotoran ternak sapi dan sekam padi menjadi pupuk organik Bokashi padat dan pupuk organik cair (POC) melalui metode vermikomposting yaitu metode pengomposan bahan organik menggunakan cacing tanah. Kegiatan ini dilaksanakan bersama mitra di Desa Maggenrang, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone sebagai bentuk inovasi pengelolaan limbah peternakan dan pertanian yang ramah lingkungan sekaligus bernilai ekonomis.

Pemanfaatan limbah organik ini berangkat dari potensi lokal Desa Maggenrang yang memiliki ketersediaan kotoran sapi dan sekam padi dengan jumlah yang cukup melimpah. Sebelumnya masyarakat Desa Maggenrang telah melakukan berbagai upaya untuk mengelola limbah kotoran sapi dan sekam padi. Sebagian limbah dimanfaatkan secara langsung sebagai pupuk kandang tanpa melalui proses pengolahan yang memadai, sementara sebagian lainnya hanya ditumpuk di sekitar kandang atau dibakar bersama limbah pertanian. Namun, Upaya yang telah dilakukan masih kurang efektif karena proses penguraian berlangsung lama, kualitas pupuk yang dihasilkan tidak seragam, serta berpotensi menimbulkan bau dan pencemaran lingkungan. Selain itu, pemanfaatan limbah secara konvensional belum mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang optimal bagi masyarakat. Kondisi inilah yang mendorong Tim PKM-PM BioCycle untuk memperkenalkan metode vermikomposting sebagai alternatif pengelolaan limbah yang lebih efektif, ramah lingkungan dan berkelanjutan.

BACA JUGA:  Tinggalkan Warisan Gemilang, SMAN 13 Bone Dibawah Kepemimpinan Drs. Hamzah, MM Tunjukkan Taji

David Mahasiswa UNIM Bone, Melalui metode vermikomposting, limbah organik berupa kotoran sapi dan sekam padi diolah dengan bantuan cacing tanah sehingga proses dekomposisi berlangsung lebih cepat dan menghasilkan pupuk organik yang lebih stabil serta kaya unsur hara. Sebelum dimanfaatkan sebagai media vermikomposting, campuran kotoran sapi dan sekam padi yang telah diolah menjadi arang sekam terlebih dahulu difermentasi untuk menurunkan kadar amonia, mengurangi keberadaan mikroorganisme patogen, serta menciptakan kondisi yang sesuai bagi pertumbuhan cacing. Setelah proses fermentasi selesai, media digunakan sebagai tempat budidaya cacing kemudian limbah organik rumah tangga ikut dimasukkan sebagai makanan cacing tanah hingga menghasilkan kascing (vermicompost) yang kemudian diolah menjadi pupuk organik bokashi padat yang dapat menyuburkan tanah serta memperbaiki unsur hara. Selain itu, dari proses pengolahan tersebut juga dihasilkan pupuk organik cair (POC) yang dapat diaplikasikan melalui penyemprotan pada daun maupun penyiraman ke area perakaran tanaman. Kedua produk ini berperan dalam meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah serta mendukung pertumbuhan tanaman secara berkelanjutan.

BACA JUGA:  SMKN 5 Bone Juara II Di Pameran Pertanian Program YESS PPIU Sulsel

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pengolahan limbah tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat desa melalui edukasi dan pendampingan. Tim PKM BioCycle memperkenalkan tahapan pembuatan pupuk organik mulai dari persiapan bahan baku, proses fermentasi, pengelolaan media vermikomposting menggunakan galon air mineral bekas yang juga merupakan limbah rumah tangga, hingga pemanenan pupuk padat dan cair. Dengan adanya pelatihan pembuatan pupuk organik, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan limbah yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi produk yang berguna, bernilai ekonomi serta mendukung kebutuhan pertanian lokal. 

BACA JUGA:  Rektor UNIM Bone Buka PKKMB, Begini yang Diharapkan

Selain membantu mengurangi penumpukan limbah organik, penggunaan pupuk bokashi padat dan POC hasil vermikomposting juga menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Pupuk organik dinilai lebih aman bagi tanah dan tanaman dalam jangka panjang karena mampu membantu menjaga kesuburan tanah, meningkatkan aktivitas mikroorganisme dan mendukung sistem budidaya pertanian yang lebih berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bone berharap inovasi pengolahan limbah organik dapat menjadi solusi nyata bagi masyarakat Desa. Limbah kotoran sapi dan sekam padi yang sebelumnya dianggap kurang bernilai kini dapat diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi sektor pertanian sekaligus membuka peluang usaha berbasis potensi lokal.

Kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ini terlaksana atas dukungan pendanaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdikti Saintek). Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat peran mahasiswa dalam menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya dalam bidang pengelolaan lingkungan dan pengembangan pertanian berkelanjutan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.