Sisa MBG Masuk Biopori, SMP Negeri 1 Kahu Perkuat Langkah Menuju Adiwiyata

oleh -109 x dibaca

KAHU, TRIBUNBONEONLINE.COM–Upaya SMP Negeri 1 Kahu dalam memperkuat diri sebagai sekolah Adiwiyata terus mendapat dukungan melalui kolaborasi bersama Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) maupun dari Universitas Muhammadiyah Bone. Setelah sebelumnya melaksanakan sosialisasi pemanfaatan sisa makanan MBG menjadi Eco Lindi serta pelatihan pembuatan Eco-Reaktor dari galon bekas, rangkaian kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat kini dilanjutkan dengan Pelatihan Pembuatan Biopori sebagai strategi tambahan dalam memaksimalkan pengolahan limbah organik di lingkungan sekolah.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini diketuai oleh Dr. Andi Muhamad Iqbal Akbar Asfar, S.T., M.T bersama Dr M Yasser, S.Si., M.Si., Dr Muallim Syharir, M.T., dan Dr Setyo Erna Widiyanti, M.Eng beserta Dr Andi Muh Irfan Taufan Asfar, M.T., M.Pd dan didanai oleh BLU-PNUP Kemdiktisaintek. Program ini dirancang untuk memperkuat praktik pengelolaan lingkungan sekolah secara berkelanjutan, khususnya dalam mengolah sisa-sisa makanan, dedaunan dan bahan organik lainnya agar tidak menjadi sampah melainkan berubah menjadi sumber nutrisi bagi tanah dan tanaman.

Biopori merupakan teknologi sederhana berupa lubang resapan vertikal yang dibuat di dalam tanah. Lubang ini berfungsi meningkatkan daya serap air, mengurangi genangan, memperbaiki sirkulasi udara tanah, serta menjadi ruang dekomposisi alami bagi sampah organik. Melalui biopori, sisa makanan, daun kering dan bahan organik lain dapat terurai dengan bantuan mikroorganisme tanah, cacing dan aktivitas biologi alami sehingga menghasilkan kompos yang bermanfaat bagi kesuburan tanah.

Biopori dinilai sangat relevan karena sekolah ini sedang mengembangkan berbagai program lingkungan, termasuk penghijauan sekolah, penanaman sayur-mayur, pengelolaan sisa makanan MBG, serta pemanfaatan sampah organik menjadi produk yang lebih bernilai. Kehadiran biopori menjadi pelengkap dari Eco-Reaktor dan Eco Lindi yang telah diperkenalkan sebelumnya.

Andi Iqbal menjelaskan bahwa biopori bukan sekadar lubang resapan, tetapi juga sarana pendidikan lingkungan yang mudah dipahami dan dipraktikkan oleh siswa.

“Biopori adalah teknologi sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Melalui lubang resapan ini, siswa dapat belajar bahwa tanah memiliki kemampuan alami untuk memulihkan dirinya apabila kita memberi ruang bagi air, udara, mikroorganisme dan bahan organik untuk bekerja. Sisa makanan MBG, daun kering dan limbah organik sekolah tidak perlu lagi dianggap sebagai sampah, tetapi dapat menjadi sumber kehidupan baru bagi tanama,” ujar Dr. Andi.

Ia menambahkan bahwa pelatihan biopori ini selaras dengan konsep ekonomi sirkular yang sedang diperkenalkan di SMP Negeri 1 Kahu. Sampah organik yang sebelumnya berpotensi menimbulkan bau, menumpuk dan terbuang percuma dapat masuk kembali ke dalam siklus alam sebagai kompos, pupuk dan penyubur tana.

BACA JUGA:  Babinsa Hadiri Rapat Musdes dalam Rangka RKPDes Desa Cempaniga 

“Tujuan utama kegiatan ini adalah membangun kebiasaan ekologis. Anak-anak perlu melihat langsung bahwa limbah organik dapat kembali ke tanah, memperbaiki kesuburan dan mendukung tanaman hijau di sekolah. Inilah makna sederhana dari biocycle, yaitu mengembalikan bahan organik ke siklus yang bermanfaat, bukan membiarkannya menjadi beban lingkungan,” tambahnya.

Kepala SMP Negeri 1 Kahu, Andi Hasriani A, S.S., S.Pd., M.M., menyampaikan apresiasi atas pendampingan berkelanjutan yang dilakukan oleh PNUP termasuk pula dari UNIM Bone. Menurutnya, rangkaian kegiatan pengabdian ini memberi kontribusi nyata terhadap kesiapan sekolah dalam menjalankan program Adiwiyata.

“Kami sangat bersyukur karena kegiatan ini tidak hanya datang sekali, tetapi berkelanjutan dan saling terhubung. Setelah Eco Lindi dan Eco-Reaktor, kini kami dilatih membuat biopori. Ini sangat mendukung program Adiwiyata SMP Negeri 1 Kahu karena sekolah tidak hanya diajak menjaga kebersihan, tetapi juga belajar mengolah limbah secara ilmiah, praktis dan bermanfaat,” ungkap Andi Hasriani.

Ia juga menegaskan bahwa biopori akan menjadi bagian dari gerakan lingkungan sekolah, terutama pada area penghijauan, taman kelas, kebun sayur dan titik-titik yang membutuhkan peningkatan resapan air. Sehingga, biopori tidak hanya menjadi media pengolahan sampah organik, tetapi juga mendukung konservasi air dan kesuburan tanah sekolah.

Sementara itu, Andi Nurdiana, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Kelompok Inovasi SMP Negeri 1 Kahu, menyampaikan bahwa keterlibatan guru dan siswa dalam pelatihan ini menjadi kunci keberlanjutan program. Menurutnya, biopori mudah dibuat, mudah dirawat dan dapat menjadi proyek pembelajaran lintas mata pelajaran.

“Sebagai Kelompok Inovasi, kami melihat biopori ini sangat tepat diterapkan di sekolah. Guru dapat menjadikannya sebagai media pembelajaran, siswa dapat mempraktikkannya secara langsung dan hasilnya dapat dirasakan oleh lingkungan sekolah. Kami siap mendukung agar biopori tidak hanya dibuat pada saat pelatihan, tetapi terus dikembangkan di berbagai titik strategis SMP Negeri 1 Kahu,” jelas Andi Nurdiana.

Pelatihan pembuatan biopori dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan guru inovasi. Peserta diperkenalkan pada fungsi biopori, pemilihan lokasi, teknik pembuatan lubang, cara memasukkan limbah organik, serta metode perawatan agar proses dekomposisi berjalan optimal. Pendekatan praktik langsung ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap program lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan ini, SMP Negeri 1 Kahu semakin memperkuat identitasnya sebagai sekolah yang tidak hanya bersih dan hijau, tetapi juga mampu mengembangkan sistem pengelolaan sampah organik secara terpadu. Eco-Reaktor, Eco Lindi dan biopori menjadi tiga pendekatan yang saling melengkapi dalam membangun budaya peduli lingkungan di sekolah.

PNUP berharap kegiatan ini dapat menjadi model pengabdian yang berdampak, mudah direplikasi, dan berkelanjutan. Dengan dukungan kepala sekolah, Kelompok Inovasi, guru, dan siswa, SMP Negeri 1 Kahu diharapkan semakin siap menjadi sekolah Adiwiyata yang tidak hanya memenuhi indikator administratif, tetapi juga menunjukkan praktik nyata pengelolaan lingkungan berbasis edukasi, inovasi dan partisipasi warga sekolah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.