”Potret” Adaptabilitas Pelancong, Oleh-oleh Khas Negeri Jiran (2/5)

oleh -161 x dibaca
Brigjen Pol. Dr. M. Awal Chairuddin - Prof. Dr. Haedar Akib

Oleh:

 Brigjen Pol. Dr. M. Awal Chairuddin, Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia Jakarta, penulis buku ”Pejera Bhabinkamtibmas”.

 Prof. Dr. Haedar Akib, Anggota Senat Akademik Universitas Negeri Makassar, Dosen Program Pascasarjana Universitas Cahaya Prima (UNCAPI) Bone.

 

 

Judul oleh-oleh khas Negeri Jiran berupa “potret” adaptabilitas pelancong ini merupakan artikulasi pengalaman penulis hari kedua bersama pimpinan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) UNM “pusing-pusing” (jalan-jalan) setelah mengikuti Simposium Antar Bangsa dan melaksanakan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Internasional di Kuala Lumpur Malaysia. Kelihatannya teman-teman sebagai pelancong tidak hanya mencari cokelat Beryl’s atau Tongkal Ali, teh tarik instan, dodol durian, atau gantungan kunci Menara Kembar Petronas sebagai buah tangan tetapi juga mempertimbangkan harga, kemasan, kehalalan, kemudahan dibawa ke dalam pesawat, hingga daya tahan produk (oleh-oleh) selama perjalanan pulang. Di kawasan seperti Central Market, Bukit Bintang, Sungei Wang Plaza, atau toko bebas pajak, teman-teman kelihatannya cepat beradaptasi pada kebiasaan lokal dengan membandingkan harga antar toko, bertanya dengan campuran bahasa Indonesia–Melayu–Inggris sederhana, memanfaatkan pembayaran digital, serta memilih paket bundling karena dianggap lebih praktis dan ekonomis. Teman-teman juga menyesuaikan oleh-oleh dengan penerima di rumahnya, seperti makanan ringan untuk keluarga, suvenir kecil untuk teman kantor, dan produk khas premium untuk orang yang dihormati, atau pasangan tercinta. Perilaku ini menunjukkan bahwa membeli oleh-oleh bukan sekadar aktivitas konsumtif, melainkan pula proses adaptasi budaya, ekonomi, dan sosial, di mana teman-teman belajar membaca lingkungan baru, menyesuaikan preferensi dengan kondisi lokal, sekaligus menjaga makna sosial dari “membawa pulang sesuatu” sebagai tanda ingatan, penghargaan, dan kedekatan emosional.

***

Oleh-oleh memang selalu memiliki tempat istimewa dalam setiap perjalanan karena tidak sekadar berwujud barang yang dibeli di akhir kunjungan tetapi juga sebagai tanda bagi orang pernah singgah di suatu tempat. Dalam konteks Negeri Jiran, khususnya Malaysia sebagai negara yang dekat secara geografis, historis, budaya, dan emosional dengan Indonesia, oleh-oleh memiliki makna yang lebih luas sebagai cermin pelancong dalam beradaptasi terhadap lingkungan baru, memahami kebiasaan setempat, memilih produk yang sesuai, dan membawa pulang pengalaman yang bernilai.

Bagi sebagian orang termasuk pembaca! perjalanan ke Negeri Jiran mungkin terasa akrab karena ada kedekatan bahasa, makanan, agama, dan budaya Melayu yang tidak terlalu jauh dari Indonesia. Namun, kedekatan itu tidak berarti semuanya sama. Setiap negara memiliki tata cara, selera, aturan, kebiasaan, dan identitas lokal yang berbeda. Di sinilah pentingnya adaptabilitas pelancong (wisatawan). Kemampuan pelancong beradaptasi menentukan makna perjalanannya sebagai aktivitas konsumtif untuk dikreasi menjadi ”potret pembelajaran yang berkesan” dalam memperkaya cara pandang (way of seeing) dan cara berpikir (way of thinking) tentang sesuatu objek, seperti pendapat Gareth Morgan (2006) dalam bukunya Images of Organization, SAGE Publications.

BACA JUGA:  AKHIRI KEGELAPAN, JEMPUT FAJAR KHILAFAH RASYIDAH

Oleh-oleh khas Negeri Jiran merupakan pintu masuk/ akses untuk membaca kemampuan pelancong menyesuaikan diri. Pilihan terhadap makanan, kain, kerajinan, parfum, produk halal, cokelat, teh, kopi, atau cenderamata mencerminkan caranya memahami ruang sosial yang dikunjungi. Pelancong yang adaptif tidak hanya bertanya oleh-oleh “apa yang terkenal?”, tetapi juga “apa maknanya?”, “mengapa produk ini disukai?”, “bagaimana cara membawanya pulang secara bijak?”.

Oleh-oleh khas Negeri Jiran sebagai wujud kreasi dan adaptasi nilai budaya merupakan produk yang merepresentasikan identitas lokal, pengalaman perjalanan, dan selera budaya masyarakat setempat. Bentuknya sangat beragam, mulai dari makanan ringan hingga produk kreatif berbasis budaya Melayu modern. Dalam perspektif adaptabilitas pelancong, oleh-oleh tidak hanya dipahami sebagai barang belanjaan, melainkan pula sebagai media adaptasi budaya.

Adaptabilitas pelancong berarti kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara terbuka, santun, dan cerdas. Saat berada di Negeri Jiran Malaysia, pelancong tidak hanya berpindah tempat secara fisik, tetapi juga memasuki ruang sosial yang memiliki aturan dan kebiasaan tersendiri. Cara berbicara kepada pedagang, cara menawar, cara memilih makanan halal, cara membaca label produk, cara menghormati antrean, hingga cara memahami mata uang lokal merupakan bagian dari proses adaptasi.

Ketika membeli oleh-oleh, pelancong yang adaptif memperhatikan banyak hal/ aspek, memilih barang yang murah sambil mempertimbangkan kualitas, keaslian, manfaat, keamanan, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan penerima, serta belajar mengenali produk yang benar-benar khas namun mudah ditemukan di mana saja. Teh tarik instan bukan hanya minuman kemasan, tetapi juga mewakili budaya minum masyarakat Malaysia. Cokelat atau biskuit tertentu mungkin menjadi favorit bagi pelancong karena mudah dibawa, tetapi produk lokal seperti kain, kerajinan, atau rempah memiliki nilai budaya yang lebih kuat.

Oleh-oleh merupakan sarana komunikasi antara pengalaman pribadi dengan orang-orang di rumah. Ketika membawa pulang produk dari Negeri Jiran, sebenarnya membawa cerita tentang tempat yang dikunjungi, makanan yang dicoba, suasana pasar, keramahan pedagang, atau perbedaan kecil yang ditemui.”Oleh-oleh sebagai bahasa perjalanan” karena menceritakan apa yang dilihat, dirasakan, dan dipahami oleh pelancong selama berada di negeri orang.

Adaptabilitas pelancong penting karena perjalanan bukan hanya soal berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan pula kemampuan memahami, menghayati, dan menghargai perbedaan, serta menentukan kualitas perjalanan. Pelancong yang tidak adaptif sering kali hanya melihat perjalanan sebagai kegiatan belanja dan dokumentasi. Datang, mengambil foto, membeli barang lalu pulang tanpa memahami makna tempat yang dikunjungi. Sebaliknya, pelancong yang adaptif menjadikan perjalanan sebagai ruang belajar.

Dalam konteks Negeri Jiran, adaptabilitas pelancong semakin penting karena terdapat kedekatan budaya yang sering membuatnya merasa “sudah tahu”. Bahasa Melayu yang mirip dengan bahasa Indonesia, makanan yang hampir serupa, serta nuansa sosial yang dekat kadang membuat pelancong mengabaikan perbedaan. Padahal, perbedaan tetap ada, baik dalam istilah bahasa, tata krama, harga, sistem transportasi, aturan publik, maupun kebiasaan masyarakat. Pelancong yang adaptif lebih berhati-hati, tidak mudah menyamakan semuanya, dan tetap menghormati kekhasan lokal.

BACA JUGA:  Artificial Intelligence dan Masa Depan Pendidikan : Siapa yang harus Beradaptasi?

Adaptabilitas menentukan kebijaksanaan dalam berbelanja oleh-oleh. Banyak pelancong membeli secara impulsif karena tergoda diskon, kemasan menarik, atau rekomendasi media sosial. Akibatnya, barang yang dibeli kurang bermanfaat, tidak sesuai selera penerima, atau bahkan bermasalah saat dibawa pulang karena aturan bagasi dan bea cukai. Pelancong yang adaptif akan belajar menyesuaikan pilihan oleh-oleh sesuai kondisi perjalanan, kapasitas koper, anggaran, aturan penerbangan, kebutuhan keluarga atau kolega. Selain itu, adaptabilitas berdampak pada relasi sosial. Ketika pelancong berkomunikasi secara santun kepada pedagang, menghargai budaya antre, memahami cara transaksi, dan tidak merendahkan produk lokal, maka kehadirannya menciptakan kesan positif karena pelancong bukan hanya konsumen tetapi juga ”duta kecil” atau diaspora dari negaranya. Cara orang berperilaku di pasar, toko, bandara, hotel, dan tempat wisata akan mencerminkan citra sosial masyarakat asalnya.

Oleh-oleh merupakan alat diplomasi budaya sederhana karena ketika orang membawa pulang makanan atau produk khas Negeri Jiran, lalu menceritakan pengalaman positifnya kepada keluarga dan sahabat, maka orang tersebut sedang membangun jembatan pemahaman antarbangsa. Barang kecil itu membuka percakapan tentang budaya, rasa, kebiasaan, dan nilai kehidupan masyarakat lain. Pada skala kecil, oleh-oleh membantu memperluas wawasan sosial, sedangkan dalam skala yang lebih luas memperkuat hubungan emosional antara negara serumpun.

Adaptabilitas penting dalam menghadapi perubahan zaman karena saat ini pelancong tidak hanya mengandalkan peta fisikal, melainkan pula menggunakan peta digital, ulasan pelanggan, aplikasi transportasi, pembayaran elektronik, media sosial, dan jasa pengiriman. Oleh karena itu, pelancong yang adaptif adalah mereka yang mampu memadukan pengalaman langsung dengan kecerdasan digital, tidak mudah tertipu promosi, mampu membandingkan harga, membaca ulasan, dan menjamin produk yang dibeli benar-benar sesuai.

***

Untuk menjadi pelancong yang adaptif dalam memilih oleh-oleh khas Negeri Jiran dapat dimulai dari sikap terbuka dan adaptif. Pelancong mencoba memahami setiap tempat yang memiliki cerita dan nilai, serta tidak hanya mencari barang yang viral tetapi juga mencermati produk yang mencerminkan budaya lokal. Bertanya kepada warga setempat, memperhatikan kebiasaan masyarakat, dan mengunjungi pasar tradisional menjadi pengalaman yang lebih otentik dibanding hanya berbelanja di pusat perbelanjaan modern. Langkah berikutnya adalah melakukan persiapan sebelum berangkat.

Pelancong mencari informasi dasar mengenai produk khas, kisaran harga, lokasi belanja yang terpercaya, aturan bagasi, serta ketentuan membawa makanan atau produk tertentu ke negara asal. Persiapan ini membantu pelancong menghindari pembelian yang terburu-buru. Kemudian berdasarkan rencana, oleh-oleh dipilih secara lebih hemat, aman, dan bermakna. Pelancong juga menyesuaikan oleh-oleh dengan penerima. Untuk keluarga, makanan ringan atau produk konsumsi mungkin lebih tepat. Untuk kolega, cenderamata kecil atau produk khas yang praktis menjadi pilihan. Sedangkan untuk orang tua, produk kesehatan ringan, ”minyak gosok”, kain, atau makanan yang familiar (rendah kolestrok atau kadar gula) mungkin lebih sesuai. Dengan demikian, adaptabilitas juga terlihat dari kemampuan memahami kebutuhan orang lain, bukan sekadar membeli berdasarkan selera pribadi.

BACA JUGA:  PUTUSAN MK DAN PEMURNIAN FUNGSI POLRI

Pelancong memperhatikan nilai etika dalam berbelanja, karena ketika menawar harga di tempat tertentu tetap sopan dan wajar, tidak memaksa pedagang menurunkan harga secara berlebihan, dan tidak pula merendahkan dengan membandingkan harga di negara asal. Sikap hormat kepada pedagang merupakan bagian dari budaya perjalanan, karena pelancong yang baik pandai membeli dan menjaga martabat dalam bertransaksi. Kemasan dan kualitas produk juga menjadi perhatiannya. Oleh-oleh yang baik bukan hanya menarik dilihat tetapi juga aman dibawa. Makanan atau minuman diperiksa tanggal kedaluwarsanya, label halal, komposisi, dan kondisi kemasannya. Demikian pula, produk cair seperti parfum atau kosmetik disesuaikan dengan aturan penerbangan, termasuk barang pecah belah dikemas dengan aman. Pelancong yang adaptif memahami bahwa oleh-oleh bukan hanya tentang membeli tetapi juga menjamin dapat sampai ke tangan penerimanya.

Di era digital, adaptabilitas merupakan kemampuan menggunakan teknologi secara bijak. Pelancong memanfaatkan ulasan dalam jaringan (daring), peta lokasi, pembayaran digital, dan rekomendasi komunitas. Namun, teknologi tidak menggantikan kepekaan langsung karena tidak semua yang viral berkualitas dan tidak semua yang sederhana tidak bernilai. Kadang-kadang, oleh-oleh terbaik justru ditemukan di toko kecil, pasar lokal, atau dari rekomendasi warga setempat. Lebih jauh, pelancong menjadikan oleh-oleh sebagai bagian dari pengalaman reflektif karena setelah pulang sambil membagikan barangnya sekaligus ceritakan maknanya, mengapa produk itu dipilih, apa yang menarik dari tempat membelinya, dan apa pembelajaran budaya yang diperoleh. Dengan kata lain, oleh-oleh tidak berhenti sebagai benda tetapi juga menjadi sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman.

***

Oleh-oleh khas Negeri Jiran mengajarkan adaptabilitas karena pelancong yang adaptif tidak hanya membawa pulang barang, tetapi juga pemahaman baru setelah belajar menghargai budaya lain dan mengapresiasi produk lokal. Oleh-oleh terbaik dari Negeri Jiran bukan hanya yang mahal, terkenal, atau banyak dibeli, melainkan yang memiliki makna, dipilih secara sadar, dan membawa cerita (kesan) baik tentang perjumpaan atau ”asimilasi budaya” karena dari sebungkus teh tarik, sepotong kain, sekotak cokelat, atau cenderamata kecil itulah pelancong belajar tentang adaptasi, penghargaan, dan kebijaksanaan dalam perjalanan. Oleh karena itu, adaptabilitas pelancong merupakan kunci agar perjalanannya tidak sekadar menjadi aktivitas konsumsi, tetapi juga sebagai proses pembelajaran yang membentuk jatidirinya. Oleh-oleh merupakan penanda (simbol) kesan orang, termasuk penulis atau pembaca pernah hadir, belajar, menyesuaikan diri dan membawa pulang sesuatu yang bernilai dari Negeri Jiran untuk keluarga dan teman. Semoga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.