Khanza, John Holt, dan Gabriela Mistral: Memberi yang Terbaik bagi Anak

oleh -157 x dibaca
Hafid Abbas

Oleh :Hafid Abbas – Guru Besar Universitas Negeri Jakarta

Ada kalanya pelajaran paling berharga tentang pendidikan tidak ditemukan di ruang seminar, jurnal ilmiah, atau ruang kuliah. Ia hadir dalam keseharian, saat seorang anak bermain, bertanya, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Dari sanalah sering kali tampak bagaimana potensi manusia tumbuh secara alami ketika diberi ruang, kepercayaan, dan kasih sayang.

Pengamatan terhadap seorang anak bernama Khanza yang kelihatannya baru berusia 8- 9 tahun memberikan gambaran menarik tentang proses tersebut. Pada usia usia dininya itu, ia menunjukkan kombinasi yang jarang ditemukan sekaligus: rasa ingin tahu yang kuat, kemampuan menghubungkan berbagai konsep, kreativitas, dan ketekunan dalam menekuni sesuatu yang menarik perhatiannya.

Pada hari itu, Khanza tampak sangat sibuk dengan telepon genggamnya. Sekilas, kegiatan itu terlihat seperti permainan biasa. Namun setelah diamati lebih jauh, ternyata ia sedang menyusun bendera seluruh negara di dunia. Yang menarik, bendera-bendera tersebut tidak disusun secara acak. Ia menggunakannya untuk membangun sistem tata letak berdasarkan huruf awal nama negara: Australia untuk A, Brunei untuk B, Canada untuk C, dan seterusnya. Aktivitas sederhana itu memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar hafalan nama negara. Di sana terdapat kemampuan mengelompokkan, menghubungkan, dan membangun pola. Khanza tidak hanya mengingat informasi, tetapi mengolahnya menjadi struktur baru yang memiliki makna menurut logikanya sendiri.

Dalam perspektif psikologi perkembangan, kemampuan semacam ini menarik untuk dicermati. Jean Piaget (1951) menjelaskan bahwa perkembangan kognitif anak berlangsung melalui tahapan tertentu. Kemampuan menghubungkan berbagai simbol dan konsep abstrak biasanya berkembang secara bertahap seiring bertambahnya usia.

Namun dalam praktiknya, tidak sedikit anak yang menunjukkan kemampuan tersebut lebih awal ketika mereka berada dalam lingkungan yang kaya stimulasi dan memberi ruang eksplorasi.

Hal yang sama terlihat ketika Khanza bereksperimen membuat minuman sehat berupa infused water. Dengan penuh semangat ia memadukan potongan buah, daun seledri, dan berbagai bahan lain yang menurut pemahamannya bermanfaat bagi kesehatan. Bagi sebagian orang dewasa, aktivitas itu mungkin tampak sederhana. Namun sesungguhnya di baliknya terdapat proses berpikir ilmiah yang penting: mengamati, mencoba, menggabungkan variabel, dan menarik kesimpulan.

BACA JUGA:  Ayo Tinggalkan Legacy Baik: Menata Masa Depan DAS Walennae di Kabupaten Bone

Inilah yang oleh para ahli pendidikan disebut sebagai scientific curiosity—dorongan

alami untuk memahami dunia melalui pengamatan dan percobaan. Kemampuan tersebut

merupakan fondasi penting bagi lahirnya inovasi, kreativitas, dan kecakapan memecahkan masalah pada masa depan.

Yang menarik, rasa ingin tahu semacam itu sesungguhnya dimiliki hampir semua anak.

Mereka lahir dengan kecenderungan untuk bertanya, menyentuh, membongkar, menyusun, menangis atau tertawa ketika mencoba memahami lingkungan di sekitarnya.

Pertanyaan pentingnya adalah: mengapa sebagian anak mampu mempertahankan rasa ingin tahu itu, sementara sebagian lainnya perlahan kehilangan semangat belajar?

Pertanyaan tersebut pernah menjadi perhatian utama John Holt, seorang guru sekolah dasar dan pemikir pendidikan Amerika Serikat. Dalam bukunya How Children Fail (1950), Holt mengemukakan gagasan yang hingga kini masih relevan. Menurutnya, banyak anak gagal di sekolah bukan karena mereka kurang cerdas, melainkan karena sistem pendidikan sering kali membuat mereka takut melakukan kesalahan.

Holt mengamati bahwa anak-anak pada dasarnya memiliki keinginan kuat untuk belajar.

Namun ketika pembelajaran terlalu berpusat pada nilai, ujian, dan hukuman atas kesalahan, mereka mulai belajar untuk mencari jawaban yang aman, bukan jawaban yang kreatif. Mereka menjadi lebih sibuk menghindari kegagalan daripada mengejar pemahaman.

Pandangan Holt memberi perspektif penting terhadap pengamatan atas anak-anak seperti Khanza. Ketika seorang anak diberi kesempatan untuk mengeksplorasi minatnya sendiri, ia tidak belajar karena terpaksa. Ia belajar karena ingin tahu. Dorongan intrinsik inilah yang menjadi energi terbesar (greatest joy) dalam proses pembelajaran.

Khanza menikmati kegiatan menulis, menggambar, dan menciptakan berbagai karya yang lahir dari imajinasinya. Beberapa karyanya bahkan telah memperoleh penghargaan dan diabadikan di Perpustakaan Nasional (2025). Namun pencapaian tersebut bukanlah hal terpenting. Yang lebih penting adalah tumbuhnya kecintaan terhadap proses belajar itu sendiri.

BACA JUGA:  KEBERSIHAN DAN ALAM SEMESTA ADALAH TITIPAN ILAHI

Di sinilah letak pelajaran penting bagi dunia pendidikan. Fokus utama seharusnya bukan semata-mata menghasilkan anak yang memperoleh nilai tinggi, melainkan membantu mereka mempertahankan rasa ingin tahu yang telah mereka miliki sejak lahir.

Pemikiran serupa dapat ditemukan dalam renungan Gabriela Mistral, penyair asal Chile yang menerima Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1945. Selain dikenal sebagai sastrawan besar, Mistral juga merupakan seorang pendidik yang sangat mencintai dunia anak.

Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah puisi berjudul His Name Is Today. Puisi tersebut mengandung pesan mendalam tentang pentingnya memberikan perhatian terbaik kepada anak-anak pada saat ini juga, bukan nanti.

Mistral menulis:

“Many things we need can wait. The child cannot. Right now is the time his bones are

being formed, his blood is being made and his senses are being developed. To him we cannot answer ‘Tomorrow’. His name is today.”

“Banyak hal yang kita perlukan dapat menunggu. Anak tidak dapat menunggu. Saat inilah tulangnya sedang dibentuk, darahnya sedang diciptakan, dan pancainderanya sedang berkembang. Kepadanya kita tidak dapat berkata ‘besok’. Namanya adalah hari ini.”

Puisi tersebut mengingatkan bahwa masa kanak-kanak bukanlah ruang tunggu menuju masa depan. Masa kanak-kanak adalah kehidupan itu sendiri. Setiap hari yang dijalani seorang anak merupakan masa yang menentukan pembentukan karakter, kepercayaan diri, kecerdasan, dan kemanusiaannya.

Karena itu, pendidikan terbaik bukanlah pendidikan yang semata-mata berorientasi pada hasil akhir. Pendidikan terbaik adalah yang menghargai proses tumbuh seorang anak hari demi hari.

Pemikiran Mistral menemukan gaung yang kuat dalam filosofi Maria Montessori.

Montessori pernah mengatakan: “Free the child’s potential, and you will transform him into the world.” “Bebaskan potensi anak, maka engkau akan membantu mengubah dunia.”

BACA JUGA:  Ayo Tinggalkan Legacy Baik: Menata Masa Depan DAS Walennae di Kabupaten Bone

Kalimat itu mengandung makna yang sangat mendalam. Montessori tidak berbicara tentang menciptakan anak yang sempurna, karena tidak ada satu pun orang yang sempurna. Ia berbicara tentang membebaskan potensi yang sudah ada dalam diri setiap anak. Ketika anak diberi kesempatan untuk berpikir, bertanya, mencoba, berkarya, dan bahkan melakukan kesalahan, mereka akan berkembang menjadi pribadi yang utuh.

Pengamatan terhadap Khanza menunjukkan bahwa potensi luar biasa sering kali tumbuh dari aktivitas yang tampak sederhana. Sebuah susunan bendera, eksperimen membuat minuman sehat, gambar yang dibuat dengan penuh imajinasi, atau pertanyaanpertanyaan yang muncul tanpa henti sesungguhnya merupakan tanda bahwa proses belajar sedang berlangsung secara alami.

Tugas orang dewasa bukanlah mengendalikan seluruh proses itu, melainkan menyediakan lingkungan yang aman, bebas kekerasan psikologis dan fisik (soft and physical violences) kaya pengalaman, dan penuh cinta dan pelukan kasih sayang. Sebab, sebagaimana diyakini John Holt, Gabriela Mistral, dan Maria Montessori, anak-anak berkembang paling baik ketika mereka merasa dihargai, dipercaya, dan selalu berada dalam pelukan cinta dan kasih saying. Pada akhirnya, memberi yang terbaik kepada anak bukan berarti memberikan segala sesuatu yang mahal atau mewah atau apa pun yang diinginkan. Memberi yang terbaik berarti menyediakan waktu untuk mendengarkan mereka, memberi ruang untuk bertumbuh, dan menghadirkan cinta yang memungkinkan potensi mereka berkembang sepenuhnya.

Karena masa depan sesungguhnya sedang tumbuh hari ini, dalam diri setiap anak yang sedang belajar memahami dunianya. Dan seperti diingatkan Gabriela Mistral, namanya bukan besok. Namanya adalah hari ini.

Semoga Khanza dan anak-anak lain di seluruh dunia pada waktunya kelak bagai Burung

Elang akan berani terbang tinggi mmenembus cakarawala dan ketebalan awan meski ia sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.