Di Tengah Kemarau dan Turunnya Debit Air, Perumda Wae Manurung Berjuang Menjaga Aliran untuk Warga Bone

oleh -110 x dibaca

BONE, TRIBUNBONEONLINE.COM– Di tengah panas yang sempat memecah tanah dan mengeringkan harapan, air pernah menjadi sesuatu yang begitu langka bagi sebagian warga Kabupaten Bone. Keran-keran yang biasanya mengalir tanpa jeda, perlahan kehilangan daya hidupnya. Di beberapa titik, bahkan nyaris berhenti total.

Direktur Perusahaan Umum Daerah Air Minum Wae Manurung, Muh. Bachtiar Sairing, S.Sos, masih mengingat jelas masa-masa itu. Awal tahun 2026 menjadi periode yang cukup berat. Selama dua hingga tiga bulan, debit air turun drastis akibat musim kemarau berkepanjangan.

“Puncaknya sangat terasa. Di Cinnong, Kecamatan Ulaweng, hampir tidak ada produksi air. Di Barebbo juga turun drastis. Begitu juga di Panyili yang nyaris mengalami kondisi serupa,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Pemkab Bone Gandeng Tribun Timur untuk Transparansi dan Literasi Publik

Situasi itu bukan sekadar angka dalam laporan teknis. Ia menjelma menjadi keresahan sehari-hari warga harus menunggu, menampung, bahkan mencari alternatif air untuk kebutuhan dasar. Air yang selama ini dianggap biasa, mendadak menjadi sangat berharga.

Namun, alam perlahan menunjukkan sisi lainnya. Hujan mulai turun dalam beberapa pekan terakhir, membawa perubahan yang cukup signifikan. Debit air mulai pulih, meski belum sepenuhnya kembali seperti sediakala.

Di balik membaiknya kondisi tersebut, ada kerja sunyi yang tak banyak terlihat. Tim Perumda rutin melakukan pengecekan jaringan, terutama pipa induk. Dari upaya itu, ditemukan dua titik kebocoran yang selama ini tersembunyi, namun berdampak besar pada distribusi air.

“Di luar memang tidak terlihat. Tapi berkat laporan warga yang mendengar suara aliran air di dalam tanah, kami telusuri dan akhirnya menemukan sumber masalahnya,” jelas Bachtiar.

BACA JUGA:  Bocah 11 Tahun Tewas Terbawa Arus Air Laut

Perbaikan itu menjadi titik balik. Air yang sebelumnya tidak sampai ke wilayah hilir kota Watampone, kini mulai kembali mengalir. Bahkan, indikator sederhana di kantor pipa kontrol yang kembali mengeluarkan air menjadi tanda bahwa kondisi mulai membaik.

Meski demikian, Bachtiar menegaskan bahwa persoalan air tidak semata-mata soal teknis. Ada faktor lingkungan yang sangat menentukan. Di Cinnong, misalnya, sumber air sangat bergantung pada mata air alami. Sayangnya, kawasan tersebut kini minim tutupan hutan.

“Semua ditanami jagung. Tidak ada lagi pohon yang bisa menyimpan air. Jadi saat hujan, air langsung mengalir begitu saja tanpa resapan,” ujarnya.

BACA JUGA:  Wujud Pelayanan Prima, Polantas Bone Bantu Dorong Motor Mogok

Fenomena serupa juga terjadi di Wollangi, Kecamatan Palakka. Selain penurunan debit alami, aktivitas tambang liar turut memperparah kondisi. Jika sebelumnya debit air bisa mencapai 100 liter per detik, kini hanya berkisar 30 hingga 40 liter per detik.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa air bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga soal bagaimana manusia menjaga sumbernya. Tanpa upaya pelestarian, musim hujan pun tak akan cukup mengembalikan keseimbangan yang telah hilang.

Kini, ketika air mulai kembali mengalir dan harapan perlahan tumbuh, ada satu pesan yang mengemuka: menjaga alam berarti menjaga masa depan. Sebab di setiap tetes air, tersimpan kehidupan yang tak tergantikan. (Ag)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.