PENTINGNYA MELESTARIKAN PESAN-PESAN LELUHUR DI TENGAH ARUS INFORMASI MODERN 

oleh -48 x dibaca
Arman

Oleh : Arman Tenaga Kependidikan UPT SD Negeri 42 Waetuwo, S.A.P

Ketua Forum Operator Sekolah Kec.Tanete Riattang Timur

Di tengah derasnya arus informasi pada era digital saat ini, masyarakat dihadapkan pada berbagai macam kabar yang datang silih berganti, baik yang benar maupun yang belum tentu kebenarannya. Dalam situasi seperti ini, kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur menjadi sangat relevan untuk dijadikan pegangan hidup. Salah satu pesan bijak yang sarat makna adalah ungkapan Bugis: “Unga Tabakkae Risubue Narekko Momponi Matanna Essoe Pajani Baunna”, yang berarti “Kembang yang mekar di waktu subuh, jika matahari sudah terbit, hilanglah baunya (harumnya).”

Ungkapan ini mengandung pesan mendalam bahwa tidak semua yang tampak indah atau terdengar menarik di awal akan bertahan atau benar adanya. Dalam konteks kehidupan modern, pesan ini mengajarkan kita untuk tidak mudah percaya terhadap kabar atau berita yang belum jelas kebenarannya, terutama berita yang bersifat negatif. Apa yang terlihat atau terdengar pertama kali belum tentu mencerminkan kenyataan yang sesungguhnya.

BACA JUGA:  BANK SYARIAH (7):  MENJAWAB TANTANGAN PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT

Sayangnya, di era sekarang, nilai-nilai luhur seperti ini mulai tergerus oleh perkembangan zaman. Generasi muda semakin jarang mengenal, apalagi memahami makna dari pesan-pesan leluhur. Padahal, nilai-nilai tersebut merupakan hasil pengalaman panjang yang telah teruji oleh waktu dan relevan dalam berbagai situasi kehidupan, termasuk dalam menghadapi tantangan informasi di era digital.

Melestarikan pesan-pesan leluhur bukan sekadar menjaga warisan budaya, tetapi juga membangun karakter masyarakat yang bijak, kritis, dan tidak mudah terprovokasi. Dalam dunia pendidikan, misalnya, nilai-nilai ini dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran sebagai bagian dari pendidikan karakter. Guru dan orang tua memiliki peran penting dalam menanamkan kembali pesan-pesan tersebut kepada anak-anak sejak dini.

BACA JUGA:  ASURANSI SYARIAH SEBAGAI PILIHAN PERLINDUNGAN RISIKO YANG BERKEADILAN DAN TERBUKA

Selain itu, media massa dan platform digital juga dapat menjadi sarana efektif untuk menghidupkan kembali kearifan lokal. Melalui tulisan, cerita, maupun konten kreatif, pesan-pesan leluhur dapat disampaikan dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami oleh generasi masa kini.

Dengan demikian, melestarikan pesan-pesan leluhur seperti ungkapan Bugis di atas bukanlah hal yang kuno, melainkan sebuah kebutuhan. Di tengah maraknya informasi yang belum tentu benar, kearifan lokal menjadi kompas moral yang mampu menuntun masyarakat agar tetap bijak dalam menyikapi setiap informasi.

Sudah saatnya kita tidak hanya bangga dengan warisan budaya, tetapi juga menghidupkannya kembali dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, di balik setiap pesan leluhur, tersimpan nilai-nilai kehidupan yang tak lekang oleh waktu.

BACA JUGA:  Jusuf Kalla, Hassan Wirajuda, dan Yudhoyono: Arsitek Penyelesaian Kasus HAM Masa Lalu di Timor Leste melalui KKP

Arman lahir di Waetuwo, Bone, pada tanggal 23 Mei. Pendidikan formalnya ditempuh hingga tingkat perguruan tinggi, dengan menyelesaikan studi Strata 1 di Fakultas Ilmu

Administrasi Negara melalui Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi di Universitas

Negeri Makassar pada tahun 2023. Sebelumnya, pada tahun 2022, Arman juga menyelesaikan pendidikan nonformal di Sekolah Budaya Bugis Lamellong (SBBL) yang dikelola oleh Yayasan Sulapa Eppa’e. Saat ini, Arman mengabdikan diri sebagai tenaga kependidikan di SD Negeri 42 Waetuwo. Ia juga dipercaya sebagai Ketua Forum Operator Sekolah Kecamatan Tanete Riattang Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.