Oleh : Dr. Muh. Safar, S.Pd. M.Pd.,C.Ed.
Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana UNIM Bone
____________________________________
Bahasa Indonesia adalah salah satu dari sedikit bahasa di dunia yang memiliki status resmi di suatu negara dan berfungsi sebagai perekat identitas nasional. Namun, perkembangan globalisasi dan perubahan teknologi yang sangat cepat, khususnya dengan hadirnya revolusi industri 5.0 menghadirkan tantangan baru bagi bahasa Indonesia. Teknologi yang semakin canggih membawa pengaruh besar terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang digunakan sehari-hari, baik melalui budaya populer, internet, maupun media sosial. Dalam konteks ini muncul pertanyaan, bagaimana posisi dan peran bahasa Indonesia dalam spektrum globalisasi dan revolusi industri 5.0?
Globalisasi membawa arus lintas budaya yang deras tidak terkecuali di Indonesia. Bahasa Inggris, misalnya, telah menjadi bahasa internasional yang dominan dan sering dianggap sebagai “bahasa global”. Banyak aspek kehidupan terutama di sektor bisnis, akademik, dan teknologi kini menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi utama. Munculnya istilah-istilah asing dalam percakapan sehari-hari bahkan di kalangan masyarakat Indonesia tidak dapat dihindari. Fenomena ini memperlihatkan pengaruh globalisasi terhadap bahasa yang digunakan dalam masyarakat Indonesia.
Salah satu contoh konkrit adalah penggunaan istilah teknologi, seperti startup, coding, e-commerce, dan cybersecurity yang lebih sering disebut dalam bahasa Inggris. Penggunaan istilah-istilah ini cenderung tidak diterjemahkan karena dianggap lebih mudah dan lebih tepat mengacu pada konsep tertentu. Dalam beberapa tahun terakhir, bahasa Indonesia juga banyak menerima serapan dari bahasa asing lainnya, seperti bahasa Korea, Jepang, dan Cina, seiring dengan populernya budaya pop dari negara-negara tersebut. Namun, fenomena serapan bahasa ini juga memiliki dampak negatif. Bahasa Indonesia bisa mengalami “penurunan” dari segi kebakuan karena semakin banyak istilah asing yang diserap tanpa adanya adaptasi yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Pengaruh bahasa asing yang berlebihan dapat menyebabkan bahasa Indonesia kehilangan identitasnya jika tidak dikelola dengan baik. Untuk menghadapi tantangan ini diperlukan usaha aktif dari pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk terus mempromosikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar terutama di ruang-ruang formal seperti pendidikan dan pemerintahan.
Revolusi industri 5.0 adalah fase terbaru dari perkembangan teknologi yang berfokus pada penggabungan antara teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Revolusi ini membawa inovasi-inovasi yang lebih manusiawi dengan fokus pada personalisasi, keberlanjutan, dan keseimbangan antara manusia dan mesin. Teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), robotika, dan Internet of Things (IoT) digunakan untuk memperbaiki kualitas hidup manusia, bukan hanya untuk meningkatkan efisiensi produksi.
Dalam konteks bahasa Indonesia, revolusi industri 5.0 menawarkan peluang baru. Teknologi kecerdasan buatan, misalnya, dapat digunakan untuk membuat alat terjemahan yang lebih akurat untuk membantu pembelajaran bahasa dan mengembangkan platform yang mampu memahami dan menggunakan bahasa Indonesia dengan lebih baik. Dengan adanya teknologi ini masyarakat Indonesia dapat lebih mudah mengakses informasi dalam bahasa sendiri serta menjaga keberlangsungan bahasa Indonesia dalam dunia digital.
Namun, di sisi lain, revolusi industri 5.0 juga dapat membawa tantangan. Artificial Intelligence (AI) sering kali dirancang menggunakan bahasa Inggris sebagai standar utama. Hal ini dapat menimbulkan hambatan dalam pengembangan teknologi berbasis bahasa Indonesia. Sebagai contoh, chatbot atau asisten virtual yang menggunakan bahasa Indonesia sering kali masih mengalami kendala dalam memahami dialek, konteks, dan nuansa bahasa yang rumit. Oleh karena itu, perlu ada investasi yang serius dalam pengembangan teknologi bahasa agar bahasa Indonesia bisa bersaing dengan bahasa-bahasa lain di dunia teknologi.
Bahasa Indonesia telah lama menjadi simbol identitas nasional dan kebanggaan masyarakat Indonesia. Bahasa ini menyatukan 282.477.584 jiwa (Setyabudi, 2024) yang terdiri dari beragam suku dan budaya di Nusantara. Di era digital dan globalisasi menjaga identitas nasional ini menjadi semakin penting. Penggunaan bahasa Indonesia di media sosial, platform digital, dan internet secara umum dapat memperkuat peran bahasa sebagai alat pemersatu bangsa. Salah satu teknologi yang bisa mempermudah pembelajaran bahasa adalah “Duolingo” atau “Babbel”, meskipun belum banyak mendukung bahasa Indonesia, menawarkan model pembelajaran interaktif yang dapat diadopsi oleh pengembang lokal untuk mengajarkan bahasa Indonesia secara lebih menyenangkan dan efektif. Kehadiran teknologi ini tidak hanya dapat membantu pelajar di Indonesia, tetapi juga para penutur asing yang tertarik untuk belajar bahasa Indonesia
Dalam konteks ini, bahasa Indonesia dapat menjadi medium untuk mengekspresikan budaya lokal dan nilai-nilai tradisional yang ada di Indonesia kepada dunia. Misalnya, penggunaan bahasa Indonesia dalam konten-konten yang ditayangkan di YouTube, Instagram, dan TikTok dapat membantu memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia internasional. Hal ini juga memungkinkan terjadinya “soft diplomacy”, yaitu promosi nilai-nilai budaya Indonesia ke kancah global melalui media digital. Namun, realitanya banyak konten digital yang lebih memilih untuk menggunakan bahasa Inggris agar lebih mudah diakses oleh audiens global. Keputusan ini sering diambil oleh pembuat konten yang ingin menjangkau audiens yang lebih luas. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah dan pemangku kepentingan dapat mendorong penggunaan bahasa Indonesia di ranah digital melalui kampanye dan dukungan terhadap para pembuat konten lokal. Misalnya, pemberian insentif atau penghargaan kepada mereka yang menggunakan bahasa Indonesia dalam kontennya dapat membantu memotivasi penggunaan bahasa nasional.
Salah satu kunci untuk menghadapi tantangan globalisasi dan revolusi industri 5.0 adalah melalui peningkatan literasi digital di kalangan masyarakat Indonesia. Literasi digital mencakup kemampuan untuk mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif di dunia digital. Literasi digital ini tidak hanya penting untuk mengakses informasi, tetapi juga dalam menghindari informasi yang tidak benar, serta mengenali informasi yang relevan dan berkualitas. Selain literasi digital, literasi bahasa Indonesia juga harus diperkuat. Pendidikan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah perlu disesuaikan dengan kebutuhan zaman agar siswa tidak hanya memahami tata bahasa dan kosa kata, tetapi juga memiliki kemampuan berbahasa yang relevan dengan perkembangan teknologi. Hal ini termasuk kemampuan menulis di media sosial, berkomunikasi melalui email, dan mengekspresikan pendapat dalam ruang-ruang digital.
Literasi bahasa Indonesia yang baik juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif di kalangan masyarakat. Kemampuan ini sangat penting dalam menghadapi revolusi industri 5.0, di mana kecerdasan buatan dan teknologi lain semakin menggantikan pekerjaan-pekerjaan rutin. Dengan literasi yang baik masyarakat Indonesia akan lebih siap untuk memanfaatkan teknologi secara produktif dan bijaksana. Untuk memastikan bahasa Indonesia tetap relevan dan dapat digunakan dalam dunia digital, pemerintah dan pemangku kepentingan perlu melakukan berbagai upaya pelestarian. Salah satunya adalah dengan mendukung pengembangan teknologi berbasis bahasa Indonesia, seperti platform terjemahan otomatis, chatbot dan sistem pencarian yang bisa memahami bahasa Indonesia dengan baik.
Selain itu, pengembangan kamus digital dan platform pembelajaran elektornik dalam bahasa Indonesia juga sangat penting. Kamus digital seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring sudah menjadi langkah yang baik, tetapi perlu ada pembaruan dan penambahan yang rutin agar bisa mengikuti perkembangan istilah-istilah baru. Pengembangan konten pembelajaran elektronik dalam bahasa Indonesia juga perlu ditingkatkan agar masyarakat Indonesia bisa belajar dengan mudah dan tidak bergantung pada konten berbahasa asing.
Masa depan bahasa Indonesia di era globalisasi dan revolusi industri 5.0 sangat bergantung pada upaya bersama dari berbagai pihak. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat sangat penting untuk menjaga keberlanjutan bahasa Indonesia. Dengan adanya teknologi yang semakin canggih, bahasa Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk berkembang dan beradaptasi, asal didukung dengan investasi dan kebijakan yang tepat. Bahasa Indonesia dapat berkembang menjadi salah satu bahasa penting dalam era digital jika didukung dengan infrastruktur yang memadai dan pengembangan teknologi berbasis bahasa Indonesia. Jika seluruh pihak bekerja sama untuk memajukan bahasa Indonesia di tengah globalisasi dan revolusi industri 5.0, bukan tidak mungkin bahasa Indonesia akan semakin kuat dan tetap relevan di masa depan.