Oleh : Prof. Haedar Akib, Ketua Jurusan Ilmu Administrasi (JIA) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H), Anggota Senat Akademik Universitas Negeri Makassar
Pendidikan Muhammadiyah di Perguruan Tinggi: Antara Islam Berkemajuan dan Tantangan Membebaskan Pikiran
Oleh: Ahmad faiz Pendidikan Muhammadiyah sejak awal tidak dibangun sekadar untuk memindahkan pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Pendidikan Muhammadiyah lahir dari
Reaktualisasi Peran Aktor di Tengah Kelangkaan Komoditas Komando, Antara Harapan dan Kenyataan
Oleh: Andi Abdul Waris Halid, Kandidat Doktor Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H) Universitas Negeri Makassar (UNM), Anggota Dewan
Pembelajaran Daring: Dari Garing menjadi Darling
Oleh: Arisnawawi, S.Sos., M.Si (Dosen Sosiologi, Universitas Negeri Makassar) Pemandangan di sudut-sudut kota Makassar belakangan ini menyajikan instalasi visual yang muram sekaligus
Kelangkaan BBM dan Krisis Kesantunan: Ketika Keluhan Berubah Menjadi Konflik
Penulis : Dr. Muh. Safar, M.Pd., C.Ed., Dosen Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Bone Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bukan sekadar persoalan
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Dilema Pemenuhan MBG: Antara Kapasitas Pemenuhan Penerima Manfaat dan Kualitas Keamanan Pangan
Oleh: Dr. Drs. Andi Djalante Mappasessu, MM., M.Si (Penulis Adalah : Putera Sulewatang Amali serta Pemerhati Sosiologi Hukum, Pemerintahan dan Sosial-Budaya) Program
Potret Digital Leader Yang Menjaga Kepercayaan Publik
Oleh: Nurul Aliah, S.sos., M.AP., Dosen Jurusan Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof. Haedar Akib,
ANALISIS TREN DEGRADASI MORAL REMAJA DAN KORELASINYA DENGAN MUTU PENDIDIKAN KARAKTER ERA DGITAL DI KABUAPTEN BONE
Oleh : Hasan Basri, S.Si., M.Si (Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN BONE ) Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam kehidupan remaja di Kabupaten Bone. Kehadiran telepon pintar, media sosial, internet, dan berbagai platform digital memberikan kemudahan bagi remaja untuk memperoleh informasi, berkomunikasi, belajar, dan mengekspresikan diri. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, era digital juga menghadirkan tantangan baru terhadap pembentukan moral dan karakter generasi muda. Remaja merupakan kelompok yang berada pada fase pencarian identitas. Pada masa ini, mereka sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, teman sebaya, sekolah, masyarakat, dan media yang dikonsumsi setiap hari. Jika lingkungan memberikan contoh positif, perkembangan karakter remaja dapat berlangsung secara baik. Sebaliknya, jika remaja terus-menerus memperoleh contoh negatif tanpa pendampingan yang memadai, terdapat risiko munculnya perilaku yang bertentangan dengan nilai moral dan sosial. Persoalan moral remaja tidak dapat hanya dilihat dari perilaku yang tampak di dunia nyata. Saat ini, ruang digital telah menjadi bagian dari kehidupan sosial remaja. Bentuk-bentuk perilaku seperti penghinaan, penyebaran informasi pribadi, komentar kasar, perundungan daring (cyberbullying), penyebaran berita palsu, dan penggunaan media sosial tanpa mempertimbangkan dampak terhadap orang lain merupakan tantangan baru dalam pendidikan karakter. Berdasar Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pendidikan di Kabupaten Bone masih menghadapi tantangan dalam hal keberlanjutan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Pada 2024, rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Bone tercatat 7,55 tahun, sementara harapan lama sekolah mencapai sekitar 13 tahun. Pada jenjang pendidikan menengah, Angka Partisipasi Murni (APM) SMA tercatat 58,24 persen, sedangkan Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA sebesar 76,68 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan di Bone bukan hanya mengenai tersedia atau tidaknya sekolah, tetapi juga mengenai kemampuan sistem pendidikan mempertahankan peserta didik agar terus belajar sampai jenjang yang lebih tinggi. Kondisi tersebut menjadi penting ketika dikaitkan dengan pendidikan karakter. Pendidikan yang bermutu seharusnya tidak hanya menghasilkan peserta didik yang mampu memperoleh nilai akademik tinggi, tetapi juga individu yang memiliki integritas, tanggung jawab, empati, disiplin, dan kemampuan mengendalikan diri. Dengan demikian, pembahasan mengenai dugaan degradasi moral remaja di Kabupaten Bone seharusnya menjadi evaluasi terhadap sejauh mana pendidikan karakter diterapkan dalam kehidupan peserta didik untuk mampu membekali remaja menghadapi perubahan lingkungan sosial di era digital. Degradasi Moral Remaja: Antara Fenomena dan Persepsi Sosial Istilah “degradasi moral” perlu digunakan secara hati-hati. Tidak tepat jika seluruh perubahan perilaku remaja langsung dianggap sebagai kemerosotan moral. Setiap generasi memiliki karakteristik sosial dan budaya yang berbeda. Remaja masa kini hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, terutama karena perkembangan internet dan media sosial. Namun demikian, terdapat persoalan yang patut mendapatkan perhatian. Remaja sekarang memperoleh informasi dalam jumlah yang sangat besar dan dalam waktu yang sangat cepat. Mereka dapat memperoleh pengetahuan positif melalui internet, tetapi pada saat yang sama juga berhadapan dengan konten kekerasan, ujaran kebencian, pornografi, budaya konsumtif, perjudian daring, serta berbagai bentuk perilaku negatif. Tantangannya adalah kemampuan remaja dalam menyaring informasi dan mengendalikan perilaku. Dalam perspektif pendidikan karakter, persoalan tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tentang baik dan buruk saja belum cukup. Thomas Lickona menjelaskan bahwa karakter yang baik memiliki tiga komponen utama, yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral action. Moral knowing berkaitan dengan pengetahuan seseorang mengenai nilai moral; moral feeling berkaitan dengan perasaan atau dorongan batin untuk mencintai kebaikan; sedangkan moral action berkaitan dengan kemampuan mewujudkan nilai tersebut dalam tindakan nyata. Teori Lickona tersebut sangat relevan untuk membaca kondisi remaja. Seorang siswa mungkin mengetahui bahwa menyontek adalah tindakan yang salah, tetapi tetap menyontek ketika menghadapi ujian. Seorang remaja mungkin memahami bahwa menghina teman merupakan perilaku yang tidak baik, tetapi tetap melakukan perundungan di media sosial. Artinya, terdapat jarak antara pengetahuan moral dan tindakan moral. Pendidikan karakter tidak boleh berhenti pada penyampaian nasihat mengenai sopan santun, kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan. Nilai-nilai tersebut harus menjadi kebiasaan yang hidup dalam lingkungan sekolah dan masyarakat. Penelitian dan kajian mengenai Lickona juga menegaskan bahwa ketiga unsur karakter tersebut harus dibangun secara terintegrasi. Korelasi dengan Mutu Pendidikan Karakter Menurut hemat penulis, terdapat hubungan yang cukup kuat secara konseptual antara mutu pendidikan karakter dengan kecenderungan perilaku moral remaja. Namun, hubungan tersebut tidak dapat dipahami sebagai hubungan sebab-akibat tunggal. Degradasi moral tidak otomatis berarti pendidikan karakter di sekolah gagal, karena perilaku remaja dipengaruhi oleh banyak faktor.
La Tenri Tappu To Appaliweng Petta MatinroE Ri Rompegading : Ketika Seorang Raja Bone ke-23 (1775–1812 M) Menapaki Jalan Tasawuf
Oleh : Dr.Drs. Andi Djalante Mappasessu,MM.,M.Si (Penulis Adalah Putera Sulewatang Amali ; serta Pemerhati Sosiologi Hukum, Pemerintahan, dan Sosial-Budaya) Sejarah Kerajaan Bone
- 1
- 2
- …
- 37
- Berikutnya
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.











