CERMIN HUSNIAH TALENRANG

oleh -71 x dibaca
Andi Ade Lepu

Oleh: Andi Ade Lepu 

Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik

Secara pribadi, saya tidak mengenal Husniah Talenrang. Seperti mungkin kebanyakan dari kita, saya hanya tahu sosoknya dari bacaan-bacaan media yang banyak tentangnya. Algoritma yang menuntun kerap mengantarkan saya untuk membaca beritanya. Jadinya saya cukup paham lika liku peristiwa yang menderanya secara cukup kronologis. Banyak sisi dan beragam pesan di sana.

Kita sudah tahu semua. Semua diawali dengan isu perselingkuhan, kemudian DPRD membentuk Pansus, rekomendasi pemakzulan, dan terakhir kemarin kita mendengar telah berstatus tersangka korupsi. Ujungnya adalah dinonaktifkan sebagai kepala daerah.

Saya memulai tulisan ini dengan penekanan bahwa tak ada irisan apa pun yang memungkinkan saya saling mengenal dengannya. Kenapa dan untuk apa? Karena saya bermaksud membuat peristiwa Talenrang ini sebagai cermin di antara kita semua se-obyektif mungkin. Kita yang saya maksud adalah anggota DPRD yang memansuskannya, korupsi, nitizen, dan siapapun di antara kita yang pro atau kontra dengan kasusnya.

Pertama-tama adalah drama panjang Husniah Talenrang ini sebaiknya kita akhiri saja dengan tepuk tangan. Tepuk tangan untuk kemunafikan kolektif kita. Kita semua telah sibuk menghakimi Bupati Gowa karena diduga kuat berselingkuh dengan seorang lelaki berjuluk Ombas, mantan konsultannya saat Pilkada. Kita men-share surat “Lampa Minjo Naung Kodong Suamiku”, kita ketawakan tiket pesawatnya, kita ilustrasikan roman imajinatif Malino, kita tonton live Pansus DPRD layaknya sebuah sinetron sabun. Seolah-olah kita adalah anggota Dewan Kehormatan Moral Negeri.

Padahal mari kita coba jujur. Boleh jadi anggota DPRD yang terhormat itu tidak sedang menegakkan moral, tapi sedang menegakkan ego dendam. Kenapa Pansus Hak Angket untuk kasus asusila bisa secepat kilat? Rapat sampai malam, saksi dipanggil, surat cinta jadi barang bukti negara, dan berbagai testimoni yang harusnya dilakukan secara tertutup?

BACA JUGA:  Makna Perjalanan Hidup dari Tanah La Sinrang ke Tanah Suci

Ironinya, kita belum pernah mendengar adanya Pansus korupsi pengadaan seragam sekolah, titipan anggaran, perjalanan dinas nihil manfaat, atau mark-up proyek jalan? Kalaupun ada, palingan hanya RDP, ngopi, haha-hehe lalu setelah itu selesai. Michel Foucault berkata, kekuasaan suka menghukum tubuh dan seksualitas, karena itu adalah tontonan paling murah untuk menutupi dosa yang lebih mahal. Kita bisa melontarkan serangan menohok bahwa anggota DPRD itu boleh jadi sedang membangun citra demi menutupi dosa-dosa yang lebih mahal dari sekadar selangkangan.

Saya dan siapa pun orang Bugis Makassar sepakat bahwa zina atau perselingkuhan adalah aib besar yang perlu kita tolak. Tapi penolakan yang kita lakukan tetap haruslah berefek keluar dan juga ke dalam diri sendiri, lalu menutupinya serapat mungkin. Bukan mengobralnya bagai percakapan liur infotainment. Kemana spirit siri’ na pacce yang kita sebut sebagai nilai-nilai dasar kehormatan kita semua?

DPRD paham betul. Menghakimi selangkangan orang lain itu jauh lebih aman daripada mengaudit anggaran perjalanan dinas dan selangkangan pokok-pokok pikiran mereka sendiri. Karena kalau yang kedua dibuka, jangan-jangan semua ikut telanjang. Kita semua tahu, di gedung dewan itu, syahwatnya juga ada dua jenis: syahwat ke lawan jenis, dan syahwat ke bancakan proyek. Bedanya, yang pertama viral, yang kedua cair. Silakan searching berbagai kasus-kasus yang sering melanda anggota DPRD. Baik soal perzinahan maupun korupsi anggaran. Lebih telanjang dari yang kita duga.

Dan kita di pemirsa paling bawah ini, yang sering disebut nitizen maha benar? Kita paling kencang teriak memberondong Husniah dengan kata-kata menohok yang kita tuliskan di kolom komentar. Padahal coba cek HP kita masing-masing. Berapa banyak di antara kita yang selingkuh tipis-tipis di DM? Selingkuh dari bukan pasangan lewat chat, selingkuh dari jam kerja, selingkuh dari laporan keuangan tempat kerja. Sepertinya kita benci Husniah bukan karena dia diduga selingkuh. Kita benci karena dia ketahuan. Dia melakukan apa yang diam-diam kita ingin lakukan tapi tidak punya peluang untuk memakai kekuasaan demi cinta terlarang.

BACA JUGA:  Kolaborasi Generasi X dan Y untuk Meningkatkan Kinerja Pendidikan dalam Membentuk Peserta Didik yang Berkarakter dan Kompeten

Bedanya dia Bupati, jadi ada Pansus. Kita rakyat jelata, bebas saja karena lingkaran yang mengenal kita palingan cuma di grup WhatsApp keluarga.

Lalu, Bagaimana dengan Korupsinya?

Korupsi di negeri ini hanya soal kesempatan, peluang, dan juga nasib baik atau buruk. Nasibmu baik jika kamu tidak tertangkap. Nasibmu buruk jika sebaliknya. Wajar jika kita ketawa ketika pas dia jadi tersangka korupsi setelah kasus selingkuhnya meledak.

“Tuh kan, benar?!” Kita yang kontra langsung angkat suara besar. Padahal tahukah kita filosofi korupsi di Indonesia itu sangat jarang kejahatan individual, lebih banyak gotong-royong secara berjamaah. Husniah dituduh korupsi, memeras, atau melakukan pungli, tapi siapa yang membuka ruang negosiasi? Siapa pengusahanya dan kenapa setor? Betulkah diperas atau jangan-jangan merekalah yang mendesak. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Seperti halnya perselingkuhan yang hanya orang gila yang setuju, demikian pula dengan korupsi. Kita semua menolaknya dan marah dengannya. Tapi siapa yang menciptakan sistem yang begini buruk? Siapa yang membuat aturan yang selalu dibuat celah untuk dimainkan? Dan kenapa negeri ini telah membudayakan korupsi? Dari kepala desa hingga presiden? Dari tenaga honor rendahan sampai pejabat eselon satu? Dan kepada nitizen pasaran, siapa kita yang dengan senyum sumringah menyodorkan uang rokok ke pak desa cuma untuk urus KTP? Siapa pula kita yang memilih Caleg atau calon kepala daerah karena disodori uang seratus ribu? Sadarkah kita bahwa itu adalah gerbang korupsi?

BACA JUGA:  Masjid Songkok Recca, Simbol Peradaban Masyarakat Bone Sepanjang Masa

Kita semua adalah rantai makanan korupsi yang sama. Kita menjadi bagian dari sebuah ekosistem yang rusak. Kita ada di sebuah lingkaran setan sistem buruk, pemerintahan yang tak becus, dan politisi yang hanya berpikir dengan perut. Husniah Talenrang tidak jatuh karena dia lebih bejat dari kita. Dia jatuh karena dia bejat dengan cara yang sama seperti kita, tapi dia melakukannya sambil duduk di kursi Bupati.

DPRD memakzulkannya bukan karena mereka lebih bersih. Tapi karena untuk sekali ini, mereka dapat kesempatan terlihat bersih dengan memanfaatkan kekotoran orang lain.

Dan kita menghujatnya bukan karena kita lebih suci. Tapi karena menghujat orang yang sedang jatuh adalah satu-satunya cara kita merasa masih seperti orang baik. Kita menyedihkan, kita pengecut, kita hipokrit.

Pada akhirnya, di Kabupaten Gowa, atau juga di Indonesia yang luas ini, tidak ada yang benar-benar termakzulkan secara moral. Yang ada bisa jadi hanya syahwat yang berganti pemain. Karena pada dasarnya kita semua potensial menjadi Husniah atau pun Ombas. Bergantung bagaimana kita mengambil pelajaran dari kejadian yang menghentak kita itu.

Hari ini, kitab itu bernama Husniah Talenrang. Mari membacanya dan mengambil hikmah sebanyak mungkin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.