“Universitas Kehidupan” bagi Pembelajar Sepanjang Hayat 

oleh -450 x dibaca
Prof. Rifdan dan Prof. Haedar Akib

Oleh:

 Prof. Haedar Akib, Guru Besar Universitas Negeri Makassar

 Prof. Rifdan, Guru Besar Ilmu Administrasi Publik Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) UNM

 

Keahlian dan inovasi berdampak merupakan bekal yang sejatinya dibawa oleh alumni setelah kembali ke masyarakat atau masuk ke Universitas Kehidupan (University of Life). Demikian pesan moral yang disampaikan oleh Prof. Dr. Farida Patittingi, SH., MHum., Plt., Rektor Universitas Negeri Makassar kepada wisudawan, 13 Januari 2026 lalu. Frasa ini terkesan puitis tetapi praktis karena menunjuk pada gagasan bahwa hidup melalui pengalaman, pergaulan sosial, kerja, kegagalan, keberhasilan, persoalan nyata pada universitas kehidupan merupakan ruang bagi pembelajar sepanjang hayat, termasuk mahasiswa setelah lulus dari institusi pendidikan formal. University of Life (Inggris) yang dikenalkan pertama kali oleh Cornelius Conway Felton (Profesor Yunani di Harvard University) dalam pidatonya pada 20 Juli 1854 tidak mengenal wisuda final, tidak ada semester pendek, dan tidak ada “mati kuliah” karena kehidupan nyata punya cara menguji apa yang dipahami, diyakini, dan benar-benar dilakukan. Universitas kehidupan merupakan metafora pendidikan sepanjang hayat (long life education) dimana masyarakat dan pengalaman sehari-hari sebagai kampus, sedangkan kita (manusia) menjadi “peserta didik” (pembelajar) sekaligus “pendidik” satu sama lain.

Pelajaran berharga yang dapat mengarahkan perubahan perilaku (change of behaviour) – sebagai esensi tujuan pendidikan – tidak hanya datang dari ruang kuliah formal, melainkan pula dari situasi nyata, seperti mengelola konflik, memegang amanah, menepati janji, “tidak berbohong,” mengambil keputusan di bawah tekanan, bekerja sama dengan orang berbeda keyakinan, bertanggung jawab atas konsekuensi tindakan. Di kampus universitas kehidupan, masyarakat adalah ruang kelas, persoalan sehari-hari adalah studi kasus, dan keputusan kecil yang diambil berulang-ulang adalah ujian yang menentukan kualitas diri sekaligus kualitas peradaban. Pada konteks ini “kreativitas dan inovasi berdampak” merupakan salah satu mata kuliah wajib, sebab inovasi bukan sekadar kemampuan menciptakan hal baru, melainkan seni mengubah keadaan menjadi lebih baik secara nyata, terukur, dan bermakna bagi banyak orang.

 ***

No inovation without creativity, demikian kata Elaine Dundon (2002: 16) dalam bukunya berjudul The Seeds of Innovation. Kreativitas dan inovasi berdampak sebagai mata kuliah wajib bagi masyarakat berarti menjadikan inovasi sebagai kebiasaan kolektif, cara berpikir, “cara berzikir” (tapi bukan Bid’ah), cara bekerja, dan cara hidup di manapun kita bekerja/ berada. Mewujudkan inovasi berdampak bukan hanya tugas peneliti, startup, atau pemerintah semata, melainkan menjadi tanggung jawab bersama (semua orang), guru, petani, pekerja kantoran, pelaku UMKM (usaha mikro, kecil, menengah), mahasiswa, ibu rumah tangga, komunitas warga, remaja yang sedang mencari jati diri, termasuk pembaca! karena orang berhadapan dengan masalah dan setiap masalah ada solusinya dan berpeluang untuk perbaikan. Tanpa budaya inovasi, kita sering menormalkan ketidakberesan dan menamai ketidakadilan sebagai “sudah dari dulu,” pelayanan buruk sebagai “memang begitu,” birokrasi lambat sebagai “takdir,” kemacetan sebagai “harga kota,” sampah sebagai “urusan nanti,” atau ketertinggalan sebagai “nasib daerah,” bencana alam sebagai “fenomena alam”. Universitas kehidupan mengajarkan bahwa banyak hal yang tidak bisa diubah, tetapi yang bisa diperbaiki seringkali jauh lebih banyak daripada yang diduga asal kita mau belajar dan berbuat dengan syarat moral bahwa inovasi harus berdampak positif (baik).

BACA JUGA:  KUNJUNGAN PRESIDEN KE CINA, POLITIK LUAR NEGERI KIAN TERSANDERA

Kreativitas dan inovasi tidak otomatis bernilai baik karena sejarah membuktikan bahwa “hal baru” bisa menjadi pemicu perubahan dan kemajuan, tetapi juga bisa menjadi cara baru untuk mempercepat kerusakan, seperti bom yang disalahgunakan dan kreativitas (eksploitasi) berlebihan terhadap hutan alami sehingga merusak paru-paru dunia. Teknologi digital mempermudah akses layanan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi, tetapi dapat pula melahirkan kecanduan, polarisasi, penipuan, dan eksploitasi data. Oleh karena itu, kreativitas dan inovasi berdampak sejatinya disertai kompas etika, dengan menjawab pertanyaan dampaknya untuk siapa? siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan? apa konsekuensi jangka panjangnya? apa biaya sosial dan ekologisnya? Pada universitas kehidupan, inovasi berdampak adalah novelty yang memihak pada kehidupan bersama bukan sekadar efisiensi atau keuntungan.

Inovasi berdampak berbeda dengan inovasi biasa dilihat dari beberapa hal, antara lain, berawal dari masalah aktual, bukan dari keinginan membuat sesuatu yang keren (pencitraan). Namun, masalahnya kadang dirasakan oleh banyak orang sehingga menguras waktu, biaya, energi, berulang, bahkan menimbulkan kerugian atau ketidaknyamanan. Inovasi berdampak paham pengguna yang mengalami masalah, bagaimana kondisinya, apa keterbatasannya, dan apa yang benar-benar dibutuhkan. Kemudian, menghasilkan solusi yang layak digunakan karena sederhana, terjangkau, mudah dipahami, dan dapat diterapkan dalam konteks lokal. Terukur dampaknya karena solusi yang ditawarkan efisien, mengurangi biaya, mempercepat proses, meningkatkan kualitas, menurunkan risiko, memperluas akses, atau memperbaiki pengalaman hidup. Demikian pula, inovasi berdampak sifatnya berkelanjutan dan tidak hanya berjalan satu kali karena euforia, tetapi memiliki mekanisme pemeliharaan, pembiayaan, dan adaptasi.

Inovasi berdampak lahir dari keberanian menjawab pertanyaan kreatif, kenapa begini? dan bagaimana kalau begitu? karena inovasi dapat ditunjukkan melalui tindakan kecil dan dalam lingkup sederhana. Seorang dosen mengubah metode mengajar dari ceramah menjadi proyek kecil berbasis masalah sehingga mahasiswa lebih aktif. Ketua RT (rukun tetangga) merapikan sistem iuran dan pelaporan sehingga transparan dan mengurangi konflik. Pelaku UMKM mengubah kemasan dan cara promosi sehingga produk lokal lebih dipercaya dan mengglobal. Tenaga kesehatan menyederhanakan alur layanan sehingga antrean pasien berkurang, seperti Kecekatan ”SINONA” Melayani Pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit – Tribun Bone Online (Haedar Akib & Andi Selvi Kartini Wonsu, Kamis 19 Desember 2024). Petani mengatur pola tanam atau irigasi sederhana untuk menghemat air. Semua itu bukan “disrupsi Silicon Valley di Amerika” tetapi dampaknya nyata bagi kehidupan.

BACA JUGA:  Kepercayaan Masyarakat Terhadap Ekonomi Syariah di Daerah: Faktor Penentu dan Tantangan

Inovasi berdampak pada universitas kehidupan seringkali dimulai dari hal kecil yang konsisten, meskipun kadang terjebak pada mentalitas “kalau tidak besar, tidak usah.” Inovasi berdampak mengajarkan cara berpikir kumulatif dengan memperbaiki proses sedikit demi sedikit, mengurangi pemborosan perlahan-lahan, dan meningkatkan kualitas secara bertahap. Di dalamnya ada satu nilai yang wajib yaitu disiplin karena ide tanpa disiplin adalah hiburan, sementara disiplin tanpa ide adalah rutinitas. Inovasi berdampak merupakan sinergi keduanya dimana ide dikerjakan dengan disiplin hingga benar-benar memberi manfaat.

Inovasi berdampak mencakup inovasi sosial sebagai bentuk perubahan cara masyarakat berinteraksi dan bekerjasama. Inovasi ini seringkali lebih jelimet karena berhadapan dengan kebiasaan, nilai-nilai, dan politik lokal. Tetapi, dampaknya besar seperti memperkuat gotong royong, meningkatkan partisipasi warga, mengurangi konflik, memperluas akses pendidikan dan kesehatan, dan mendorong inklusi. Inovasi sosial dapat terlihat ketika sebuah komunitas membangun bank sampah yang benar-benar berjalan (bukan sekadar seremoni), ketika warga membuat sistem pelaporan keamanan lingkungan yang efektif, atau ketika kelompok pemuda membuat program magang atau pendampingan belajar untuk anak-anak yang kesulitan atau berkebutuhan khusus. Dengan kata lain, inovasi sosial menegaskan bahwa “mata kuliah wajib” pada universitas kehidupan bukan hanya tentang sains dan teknologi, tetapi tentang manusia dan kreativitas dan inovasinya yang bernilai (berdampak) pada perwujudan pilar pendidikan dunia yaitu belajar untuk tahu (learning to know), belajar untuk bekerja (learning to do), belajar untuk menjadi (learning to be), dan belajar untuk hidup bersama (learning to life together).

Di era digital, inovasi berdampak disertai literasi teknologi informasi dan komunikasi karena masyarakat menghadapi arus informasi yang deras, berita, opini, iklan, propaganda, hoaks. Tanpa literasi, inovasi bisa terseret menjadi “tren sesaat” atau “solusi palsu.” Universitas kehidupan mengajarkan skeptisisme sehat, memeriksa sumber, membedakan data dan opini, memahami sebab-akibat, dan tidak mudah terpancing emosi. Inovasi berdampak memerlukan pengambilan keputusan berbasis bukti yang tidak selalu berupa statistik rumit, melainkan dapat berupa pengamatan sistematis, catatan sederhana, umpan balik pengguna, dan perbandingan sebelum-sesudah diterapkan.

***

Jawaban pertanyaan bagaimana “mengajarkan” mata kuliah inovasi berdampak kepada masyarakat adalah bukan melalui ceramah panjang tentang definisi inovasi, melainkan dengan pendekatan pembelajaran yang hidup, seperti proyek berbasis masalah di komunitas. Misalnya, setiap RT/RW memilih satu masalah prioritas, seperti sampah, keamanan, literasi anak, atau layanan administrasi. Lalu warga menyusun tim kecil, mengumpulkan data sederhana, merancang solusi, mencoba selama sebulan, mengevaluasi, dan menuliskan pelajarannya. Dari situ muncul portofolio inovasi warga. Cara ini membuat inovasi menjadi pengalaman, bukan slogan. Selain itu, dibuat “klinik inovasi” pada tingkat desa/kelurahan, berupa ruang konsultasi bagi warga yang punya ide, difasilitasi oleh orang yang paham desain program, manajemen proyek dan evaluasi. Pada institusi pendidikan, inovasi berdampak bisa dipupuk lewat kegiatan multi-kewirausahaan, proyek STEM (Science, Technology, Engineering and Math) yang relevan, dan pembelajaran kolaboratif lintas mata pelajaran (transdisiplin).

BACA JUGA:  Outlook Demokrasi Indonesia: Catatan Kritis dari Masyarakat Sipil

Agar kreativitas dan inovasi berdampak menjadi budaya masyarakat pada universitas kehidupan maka perlu ekosistem yang mendukung yaitu individu yang punya literasi inovasi, komunitas yang berkolaborasi, dan institusi yang memberi ruang. Individu dilatih agar tidak takut mencoba dan tidak malu gagal, serta membangun komunitas agar ide tidak berhenti di kepala satu orang, tetapi menjadi gerakan kecil tapi indah (small is beautiful, judul buku Ernst Friedrich Schumacher, 1973). Institusi publik membuat aturan yang memudahkan eksperimen, bukan mematikan inisiatif karena fenomenanya di banyak tempat, inovasi mati bukan karena orang tidak punya ide, tetapi karena ide “diteror” oleh birokrasi, seperti kasus mobil SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), stigma atau budaya saling menjatuhkan. Universitas kehidupan mengingatkan bahwa inovasi butuh lingkungan yang aman untuk mencoba karena orang mau berinovasi kalau tidak dihukum karena gagal dengan itikad baik. Namun, inovasi berdampak juga tidak identik dengan “terus membuat hal baru” karena kadang inovasi terbaik adalah memperbaiki yang lama. Dalam masyarakat, banyak masalah terjadi karena proses yang sebenarnya sederhana dibuat rumit, informasi tidak jelas, alur layanan tidak transparan, peran tidak tegas, koordinasi minim, atau sistem insentif salah. Inovasi berdampak sering berupa “inovasi proses” dengan membuat alur kerja lebih mudah, lebih murah, lebih cepat, lebih adil, dan lebih bermakna. Contoh nyata digitalisasi layanan meskipun digitalisasi itu belum tentu merupakan inovasi berdampak jika hanya memindahkan (perilaku) birokrasi ke layar. Inovasi berdampak berarti memperbaiki pengalaman pengguna, mengurangi langkah yang tidak perlu, memperjelas informasi, meningkatkan akuntabilitas, dan memudahkan akses bagi semua.

***

Akhirnya, universitas kehidupan berbasis inovasi berdampak mengarah pada satu tujuan besar untuk membentuk masyarakat pembelajar sepanjang hayat, yaitu masyarakat yang tidak alergi terhadap perubahan karena punya kebiasaan belajar, tidak mudah putus asa karena terbiasa mencoba, tidak mudah terpecah karena terbiasa berkolaborasi, dan tidak gampang dimanipulasi karena terbiasa berpikir kritis. Keahlian dan inovasi berdampak sebagai bekal bagi pembelajar sepanjang hayat bukan mata pelajaran musiman pada universitas kehidupan, melainkan sebagai cara hidup dan kebiasaan untuk memperbaiki, memudahkan, menyehatkan, membahagiakan, dan memanusiakan manusia. Semoga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.