DRAMATURGI ANDI AZWAN

oleh -44 x dibaca
Andi Ade Lepu

Penulis : Andi Ade Lepu (Pemerhati Masalah-Masalah Sosial)

Kita sudah mengenal sosok ini: Andi Azwan, pembela Jokowi paling konsisten. Di persidangan dr. Tifa kemarin terungkap namanya ternyata tidak pakai ‘andi’. Di KTP hanya tertulis Azwan, tanpa embel-embel.

Jadinya banyak dari kita heran, kenapa dia mengenalkan diri di publik selama ini sebagai Andi Azwan? Nama yang di masyarakat Bugis Makassar dikenal sebagai anak keturunan bangsawan? Terdengar kabar dia pernah mengaku keturunan bangsawan asal Bone (Kajuara) sekampung dan satu trah dengan Jend. M. Yusuf, mantan Menhamkan/Pangab era Suharto.

Menariknya, jika Azwan ini memasang nama andi setelah selama ini tak kita kenal asal usulnya, justru orang yang diakuinya keluarga, Jendral Yusuf; malah tak pernah memasang gelar andi di namanya. Beliau mencopotnya demi melepaskan diri dari isme feodal yang tak disukainya. Tak salah lagi, Azwan ini adalah antitesa Jendral Yusuf.

Sebenarnya, di era Indonesia kini, seseorang bisa menyematkan apa saja di depan nama. Tak ada UU yang mengaturnya. Mau pakai mas, tengku, pangeran, sultan, lalu, dan seterusnya termasuk andi. Bebas saja. Di kampung saya ada seorang yang sama sekali tak punya garis keturunan arung (bangsawan) tapi dengan santai memberi nama anak-anaknya seolah berdarah sangat biru. Walau tak sedikit warga yang mencibir, tapi beberapa lainnya cuek saja. ‘Gak penting, begitu mungkin benak warga kampung. Walau kamu arung, lanjut mereka, jika duit tak punya kamu juga tak laku, bukan siapa-siapa.

BACA JUGA:  Esensi Hari Pahlawan 10 November 2025 Sebagai Penguatan Eksistensi Pemuda Gen Z

Sebagai seorang yang apa boleh buat bernasib memiliki nama andi, saya kadang masygul juga mendengarnya. Tapi buru-buru saya menerimanya sebagai sebuah nasihat introspektif.

Lalu, kenapa kita membahas soal ini? Karena ini adalah seorang Andi Azwan, pendukung garis keras Jokowi yang juga memiliki beberapa nama serta nasab yang sering dipertanyakan orang. Tak jelas dan penuh polemik. Kita terus bertanya dalam nada bingung, kenapa mereka ini seolah diselimuti halimun misterius? Mereka ini siapa, kenapa, atau apa?

Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu menengok beberapa teori dalam psikologi. Pertama, Teori Dramaturgi dari Erving Goffman. Ini teorit yang paling dekat dengan topik yang sedang kita bahas. Menurut Goffman, hidup ini seperti panggung teater. Pemainnya banyak, perannya berbeda-beda. Orang memalsukan identitas karena dia sedang memainkan peran yang dianggap lebih menguntungkannya di panggung tertentu. Bisa jadi, Azwan relevan dengan teori ini, yakni dia sedang memainkan peran dramaturgi demi mengambil keuntungan panggung. Keuntungan yang dimaksud termasuk, boleh jadi, adalah menyembunyikan sesuatu yang potensial mendegradasi identitas sebenarnya.

Teori ini juga mencakup orang-orang yang sering memalsukan gelar, ijazah, atau dokumen identitas lainnya. Motifnya jelas, mengelabui panggung publik demi citra tertentu. Bahasa lurusnya, mereka membohongi publik. Citra palsu itu tidak terbatas pada pemalsuan identitas, ia juga mencakup kebohongan atau kepalsuan lain seperti cara berpakaian, muka polos, padahal sebenarnya menyembunyikan syahwat berkuasa seluas lautan.

BACA JUGA:  Relevankah Adaptive Governance sebagai Kunci Pengembangan Destinasi Wisata?

Teori kedua adalah Teori Identitas Sosial dari Tajfel dan Turner. Yakni orang memalsukan identitas karena ingin merasa menjadi bagian dari kelompok yang populer atau dominan. “Kalau saya mengaku alumni kampus tertentu, atau suku tertentu, saya akan lebih mudah diterima..” kira-kira begitu pikirnya.

Teori ini menyebut pemalsuan terjadi karena kebutuhan untuk belong dan meningkatkan harga diri lewat kelompok. Azwan, dan mungkin juga Jokowi – Gibran; jika terbukti memalsukan ijazah dan gelar suku, bisa masuk dalam kategori ini.

Ketiga, Teori Pembelajaran Sosial oleh Albert Bandura. Teori ini menjelaskan bahwa pemalsuan yang terjadi adalah hasil dari pelajaran pemalsuan yang terjadi di sekitar. Pemalsu awalnya melihat teman, keluarga, atau influencer kreator berhasil dapat untung dari identitas palsu dan tidak ketahuan. Bisa jadi Azwan, jika relevan dengan teori ini, terlalu sering melihat pemalsuan yang terjadi di circle pergaulannya lalu kemudian dianggap wajar. Semua juga palsu, begitu mungkin pikir Azwan.

Ada lagi satu teori yang disebut Self-Discrepancy dan Gangguan Kepribadian. Menurut Higgins, ada poin-poin yang bertabrakan dalam kepribadian penderita. Dari siapa saya (actual self), seharusnya saya menjadi apa (ideal self), dan siapa saya menurut orang lain (ought self).

BACA JUGA:  ASURANSI SYARIAH: MENYONGSONG MASA DEPAN PERLINDUNGAN KEUANGAN BERBASIS NILAI

Kalau jarak kesenjangan tiga level itu terlalu jauh, orang biasanya akan menutupinya dengan identitas palsu untuk mengurangi rasa malu dan perasaan cemas. Dalam kasus Azwan, jika teori ini benar, bisa jadi dia melakukan pemalsuan karena poin-poin itu saling bertabrakan dan menciptakan pribadi megalomania dalam dirinya. Dalam level ekstrim, penderita seperti ini potensial menjadi sakit jiwa, depresi, atau bahkan gila.

Teori-teori di atas kita tulis sekadar membuat kemungkinan-kemungkinan yang sedang dialami oleh Azwan, seorang yang tiba-tiba melejit terkenal karena membela secara sangat militan Jokowi dan Gibran. Dua tokoh republik kita bapak anak yang sedang dililit tudingan pemalsuan dan manipulasi dokumen. Kita bisa menghubungkan keduanya dalam analisa gendre yang sama, bahwa ada sebuah persoalan otentisitas yang sedang terjadi. Persoalan yang sebenarnya telah lama dialami oleh bangsa Indonesia. Kita sebagai pemirsa di alas piramida menunggu dengan dada berdebar akhir dari kisah yang melelahkan ini.

Akhirnya, mari kita menulis ulang pepatah Belanda yang sering disebut oleh mendiang Prof. JE Sahetapy: “meskipun kebohongan itu berlari secepat kilat, satu waktu kebenaran akan mengalahkannya.

Al is de leugen nog zo snel, de waarheid achterhaalt haar wel..

Wallahu a’lam bishshawab..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.