Madrasah Bermazhab Ecoteologi

oleh -106 x dibaca
Andi Asdar

 Oleh : Andi Asdar

 Kamad MIN 4 Bone

Seperti biasanya,suasana di Madrasah Ibtidaiyah pagi itu terasa begitu

religius. Ratusan murid-muridnya berkumpul di Aula Madrasah untuk melaksanakan shalat dhuha berjamaah, dilanjutkan dengan pembacaan surah-surah pendek dan zikir bersama. Suara lantunan ayat-ayat suci menggema, menciptakan ketenangan yang menyejukkan hati. Begitu khusyuk bahkan mampu menembus relung-relung kalbu. Madrasah pagi itu seperti punya aura yang dalam menyelami samudra kebatinan.

Namun, pemandangan berjarak beberapa meter dari tempat shalat

menceritakan kisah yang sama sekali berbeda. Di sudut madrasah, tong sampah besar meluap. Isinya bukan hanya wadah plastik sekali pakai dan pembungkus makanan ringan, melainkan juga sisa-sisa makanan nasi separuh porsi, potongpotongan tempe, dan sisa-sisa sayur yang dibuang begitu saja tanpa perasaan mubazir. Pada saat yang sama, fasilitas tempat-tempat wudhu di depan tiap pintu madrasah juga kerap kali air terbuang sia-sia. Keran-keran kerap dibiarkan menetes atau bahkan dibuka lebar-lebar tanpa kesadaran bahwa meteran air madrasah kian membengkak tagihannya dari bulan ke bulan.

Skenario di atas bukanlah rekaan, melainkan potret pada umumnya nyata

yang dihadapi oleh banyak lembaga pendidikan kita hari ini. Pemandangan tersebut tentunya memicu dua pertanyaan mendasar,

1. Mengapa kurikulum yang kaya akan nilai-nilai spiritual belum berbanding lurus dengan kesadaran menjaga lingkungan?

2. Mengapa hafalan tentang kebersihan sebagai bagian dari iman tidak sertamerta menghentikan tindakan membuang sampah sembarangan?

Pendidikan keagamaan sering kali hanya berfokus pada dimensi ritual

individu seperti keabsahan shalat, tata cara wudhu, atau hafalan teks dibanding interpretasi dari konteks-konteks yang diketahui. Tentu saja hal ini berdampak pada pemahaman bahwa kebersihan sebagian dari iman hanya sebagai jargon kognitif semata. Kesadaran murid terlihat membuang sampah sembarangan sebagai tindakan yang menyalahi norma sosial belaka, bukan sebagai bentuk pelanggaran atau dosa.Kebanyakan murid madrasah hanya memperhatikan pendekatan kognitif,

BACA JUGA:  Reinterpretasi Alquran Sebagai Kitab Sosial; Meneguhkan Spirit Keislaman dalam Kehidupan Berbangsa

bukan perilaku. Nilai-nilai lingkungan hidup sering ditransfer lewat metode ceramah,

hafalan, dan ujian tertulis. Murid-murid tahu teori pengolahan limbah atau dalil

menjaga alam, tetapi tidak terbangun kepedulian emosional dan perilakunya. Tanpa

pembiasaan yang konsisten, pengetahuan tidak pernah menjelma menjadi refleksi

dari karakter.

Perubahan perilaku membutuhkan dorongan sistemis dan terstruktur. Ketika

kurikulum mengajarkan pemilahan sampah, namun di lingkungan madrasah hanya

tersedia satu jenis tempat sampah campuran, terjadi dis-koneksi yang timpang

antara teori-teori yang diajarkan dengan realitas yang tampak jelas di lapangan. Jika

kebutuhan-kebutuhan ini tidak terpenuhi, tentu saja berdampaknya pada warga

madrasah itu sendiri, yang pastinya menimbulkan kontradiksi bahwa upaya menjaga

lingkungan menjadi sulit bahkan sia-sia dikarenakan ekosistem fisik madrasah tidak

mendukung program-programnya sendiri.

Pada dasarnya pembentukan perilaku dan budaya madrasah sangat

dipengaruhi oleh kurikulum yang tak mesti ditampakkan oleh madrasah itu (hidden

curriculum), yaitu perilaku nyata yang dicontohkan oleh mulai dari pimpinan, guru-

guru, dan seluruh staf dalam interaksi sehari-hari. Jika semua tenaga pendidik atau

pengelola madrasah belum konsisten mempraktikkan gaya hidup yang ramah

lingkungan misalnya masih menggunakan kemasan plastik sekali pakai di kantin

atau menyisakan makanan, murid-murid akan merekam pesan implisit bahwa

menjaga lingkungan bukanlah menjadi program prioritas.

Ada berbagai masalah di setiap madrasah-madrasah yang tentunya terlalu

kompleks untuk dipaparkan akhir-akhir ini, namun yang kita bahas saat ini bukanlah

sekadar masalah umum tentang tata tertib madrasah atau kurangnya tempat

sampah. Akan tetapi hari ini adalah gejala-gejala dari krisis ekologi dan teologi yang

jauh lebih berdampak parah dan masif. Kita dihadapkan pada kenyataan bahwa

kondisi madrasah-madrasah kita saat ini adalah hubungan manusia dengan

BACA JUGA:  Tribun Bone dan Gempuran Media Daring

ekosistemnya, dan hubungan manusia dengan pencipta-Nya sudah tidak

mencerminkan yang semestinya.

Ecoteologi (literasi ekologi dan teologi) bukan sekadar pengetahuan tentang

alam raya dan pencipta-Nya, atau mempelajari jenis-jenis makhluk hidup dan

lingkungannnya, melainkan kemampuan untuk memahami sistem kehidupan bumi

yang kita huni dan seluruh alam raya, menyadari dampak aktivitas manusia terhadap

sistem tersebut, dan bertindak secara bijak untuk menjaga keberlanjutannya.Di lingkungan madrasah, ecoteologi memiliki bobot strategis yang sangat

berdampak. Ia menjadi jembatan penghubung antara nilai-nilai keagamaan (teologi)

dengan tindakan nyata (ekologi).

Madrasah haruslah memiliki kekayaan dogma-dogma spiritual yang

mendasar seperti konsep khalifah fil ‘ardh (pemimpin/pengelola di bumi), laa tufsiduu

fil ‘ardh (larangan merusak bumi), hingga thaharah (bersuci/kebersihan). Tanpa

dogma-dogma ecoteologi yang lugas, doktrin tersebut berisiko berhenti sebagai

konsep-konsep yang abstrak semata atau mungkin sekedar bahan-bahan hafalan

ujian saja.

Dogma-dogma tentang ecoteologi sangatlah besar dampaknya untuk

membantu murid-murid madrasah untuk memahami mengapa membuang sampah

plastik merusak ekosistem dan bagaimana prinsip Islam diterapkan dalam konteks

krisis lingkungan global.

Ecoteologi secara konsisten mendidik seluruh warga madrasah untuk melihat

hubungan sebab-akibat dari setiap tindakan-tindakan harian mereka. Setiap murid

tidak hanya menahan individu dari merusak lingkungan karena takut

aturan/hukuman, tetapi karena kesadaran etik yang kokoh dan spiritual yang

mendalam bahwa menzalimi alam adalah bentuk cerminan krisisnya iman dan

ketakwaan mereka kepada yang menciptakan-Nya.

Salah satu keunggulan madrasah adalah integrasi ilmu umum dan ilmu

agama sehingga tidak ada dikotomi ilmu yang terkikis. Peran ecoteologi di

madrasah menjadi laboratorium yang hidup nyata terhadap integrasi ilmu dan adab.

Saat murid-murid madrasah mempelajari tentang siklus air di mata pelajaran IPA,

secara tidak langsung mereka akan mengaitkannya dengan pentingnya efisiensi air

wudhu dalam fiqih. Ketika belajar dampak emisi karbon, mereka mengaitkannya

BACA JUGA:  Refleksi Fajar 1448 Hijriah: Menata Jiwa, Mengasah Perangai, Menjemput Keberkahan

dengan amanah menjaga keseimbangan (mizan) alam.

Ketika pendidikan hanya berfokus pada capaian akademis dan kebiasaan

ritualistis semata tanpa mengaitkannya dengan keberlangsungan ekosistem, kita

sedang melahirkan cara berpikir dan bertindak yang sangat keliru, cara pandang

yang menganggap alam semesta hanyalah obyek pemenuhan kebutuhan manusia.

Pada kondisi inilah madrasah memiliki keunggulannya yang patut diterapkan.

Madrasah tidak hanya memiliki berbagai perangkat sains laboratorium untuk

meneliti dan memahami fenomena alam, tetapi juga memiliki dasar-dasar teologi

islam yang sangat kuat yang tentu saja sering kali didengungkan oleh Prof.

Nasaruddin Umar di berbagai ceramahnya. Integrasi antara ayat-ayat qauliyah(wahyu tertulis) dan ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda alam) adalah modal utama yang belum tersentuh secara optimal. Yang sangat diperlukan dan seharusnya kita pahami bahwa mengembangkan

ecoteologi di madrasah bukan berarti menambah beban mata pelajaran baru, akan tetapi madrasah bertanggung jawab membangun ulang cara pandang (mindset) seluruh warga madrasah.

Sudah sepantasnyalah madrasah-madrasah harus berada di garda terdepan

untuk seluruh lapisan masyarakat. Murid-murid dan guru-guru yang fasih keilmuan tentang ecoteologi, mampu menjadi episentrum untuk menggerakkan aksi nyata demi keberlangsungan seluruh alam ini tetap kondusif, peduli dan bersahabat kepada seluruh mahluk dan alam raya ini. Aksi nyata itu, sebagai contoh pengelolaan sampah mandiri agar tidak mencemari lingkungan, pembuatan resapan air (biopori) untuk memberi hak tumbuh-tumbuhan untuk tetap hidup lebih baik, penanaman pohon, hingga kantin sehat bebas plastik. Ini tentu menjadikan madrasah sebagai pusat perubahan (agent of change) bagi masyarakat sekitarnya untuk bumi dan seluruh alam raya ini.

Pada akhirnya, ecoteologi akan menyadarkan semua manusia akan paham

keberadaannya, tidak lagi egois dengan dirinya, cintanya akan terus tumbuh terhadap semua mahluk lainnya, dan kepedulinnya sebagai khalifa di dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.