Menebar Cinta, Menguatkan Inklusi: Ratusan Guru Madrasah Ikuti Bimtek di MTsN 4 Bone

oleh -45 x dibaca

LIBURENG, TRIBUNBONEONLINE.COM–Antusiasme guru madrasah dan Raudhatul Athfal (RA) untuk meningkatkan kompetensi dan memperkuat pemahaman tentang pembelajaran yang humanis terlihat dalam pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kurikulum Berbasis Cinta dan Pendidikan Inklusi yang digelar di kompleks Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 4 Bone,

Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari yaitu rabu – kamis (23 – 24 september 2026) ini diselenggarakan oleh Pengurus Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) Raya dari empat kecamatan, yakni Libureng, Patimpeng, Kahu, dan Bonto Cani. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 300 guru madrasah dan RA

Besarnya jumlah peserta membuat panitia memanfaatkan dua lokasi pembelajaran. Selain kompleks MTsN 4 Bone, panitia juga menggunakan gedung milik Pemerintah Desa Pitumpidangnge yang berada tepat di sebelah lingkungan madrasah.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. H. Ali Yafid, S.Ag., M.Pd.I, Rabu (23/9/2026). Turut hadir Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bone Dr. H. Ahmad Yani, S.Ag.,M.Ag yang didamping oleh Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Bone, Rahman, S.Pd.,M.A.

BACA JUGA:  BLUD Puskesmas Barebbo Gelar Skrining Kesehatan untuk Murid MI Arrahman Pajekko

Dalam laporannya selaku panitia pelaksana, Kepala MTsN 4 Bone, Andi Ridwan, S.Pd.I.,M.M menyampaikan bahwa tingginya jumlah peserta menunjukkan besarnya antusiasme guru madrasah terhadap kegiatan pengembangan kompetensi tersebut.

Menurutnya, pada awalnya panitia menetapkan target sebanyak 200 peserta. Namun, antusiasme pendaftar terus meningkat hingga mencapai lebih dari 300 orang bahkan sebelum batas akhir pendaftaran. “Karena jumlah pendaftar telah melampaui target yang ditetapkan, panitia akhirnya menutup pendaftaran lebih awal. Para peserta kemudian dibagi ke dalam tiga ruang belajar agar proses bimtek dapat berlangsung secara efektif,” jelasnya.

Sementara itu, dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bone mengajak para guru untuk tidak sekadar memahami konsep Kurikulum Berbasis Cinta, tetapi juga menerapkannya dalam proses pembelajaran dan interaksi sehari-hari di madrasah.

BACA JUGA:  Dilantik Pengurus MUI Ajangale

Ia menekankan bahwa cinta merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang nyaman, humanis, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik.

Untuk menggambarkan pentingnya suasana yang dilandasi cinta, ia menganalogikan dengan kehidupan burung walet. Menurutnya, burung walet tidak akan menetap di suatu tempat apabila kondisi lingkungan tersebut tidak memberikan rasa nyaman.

Pesan tersebut sejalan dengan penekanan yang disampaikan Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, H. Ali Yafid, dalam arahannya Ia mengajak para guru untuk menumbuhkan cinta sebagai landasan dalam menjalankan aktivitas, terutama cinta kepada Allah SWT sebagai sumber utama nilai-nilai kebaikan.

“Kalau Anda sudah tulus cinta kepada Allah, maka tentu cinta kepada lingkungan akan ikut, cinta kepada sesama, cinta kepada ilmu, semua akan ikut,” ujarnya.

BACA JUGA:  Pengurus PWRI Kecamatan Bengo Periode 2025–2030 Resmi Dilantik di Aula SMPN 2 Lappariaja

Menurutnya, nilai-nilai cinta tersebut penting diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjalankan tugas sebagai guru. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penyampaian pengetahuan, tetapi juga membangun karakter, kepedulian, dan hubungan yang positif antara guru dan peserta didik.

Bimtek ini menghadirkan narasumber dari Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Kementerian Agama Kabupaten Bone serta Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan (BDK) Makassar.

Selama dua hari pelaksanaan, para peserta diharapkan mendapatkan penguatan wawasan dan pengetahuan terkait Kurikulum Berbasis Cinta dan Pendidikan Inklusi sebagai bekal dalam melaksanakan tugas profesionalnya di madrasah.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pemahaman secara teoritis, tetapi dapat diterapkan dalam praktik pembelajaran sehingga madrasah mampu menghadirkan lingkungan pendidikan yang ramah, inklusif, penuh kasih sayang, dan menghargai setiap peserta didik. (AhYan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.