Pendidikan Muhammadiyah di Perguruan Tinggi: Antara Islam Berkemajuan dan Tantangan Membebaskan Pikiran

oleh -160 x dibaca
Ahmad Faiz

Oleh: Ahmad faiz

Pendidikan Muhammadiyah sejak awal tidak dibangun sekadar untuk memindahkan pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Pendidikan Muhammadiyah lahir dari kesadaran bahwa ilmu harus melahirkan perubahan. Karena itu, ketika pendidikan Muhammadiyah memasuki ruang perguruan tinggi, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya seberapa banyak kampus Muhammadiyah menghasilkan sarjana, tetapi lebih jauh: seberapa jauh pendidikan tersebut mampu melahirkan manusia berilmu yang memiliki keberanian moral, daya kritis, dan kepedulian terhadap persoalan umat, bangsa, dan kemanusiaan?

Pertanyaan ini relevan karena pendidikan tinggi Muhammadiyah memiliki identitas yang tidak sama dengan perguruan tinggi pada umumnya. Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) ditempatkan sebagai bagian penting dari identitas PTMA. Dokumen resmi Majelis Diktilitbang bahkan menyebut AIK sebagai basis spiritual, moral, dan intelektual sekaligus bagian dari misi pendidikan Muhammadiyah.

Namun, justru karena identitas tersebut begitu kuat, PTMA perlu terus melakukan refleksi. Jangan sampai Islam Berkemajuan hanya menjadi slogan yang terpampang di dinding kampus, sementara proses pendidikannya belum sepenuhnya melahirkan keberanian untuk berpikir maju.

Ketika AIK Hanya Menjadi Mata Kuliah

AIK memiliki posisi strategis dalam pendidikan Muhammadiyah. Akan tetapi, persoalan yang perlu dikritisi adalah bagaimana AIK dihidupkan dalam keseluruhan ekosistem pendidikan.

Dokumen Majelis Diktilitbang Muhammadiyah sendiri pernah mengkritik praktik pembelajaran AIK yang terlalu menekankan pengetahuan faktual, sehingga berisiko menjadi schooling daripada learning dan enlightening. Dokumen tersebut juga menegaskan bahwa tujuan AIK bukan sekadar membuat mahasiswa “memiliki agama”, tetapi membentuk manusia yang mampu menghayati nilai agama dan menjadi Muslim yang berkemajuan.

Maka, pertanyaan kritisnya adalah:

Apakah mahasiswa belajar Islam hanya untuk menjawab soal ujian, atau untuk membaca realitas dengan perspektif Islam yang mencerahkan?

BACA JUGA:  Menakar Kesiapan Venue Jelang Porprov

Jika mahasiswa mampu menghafal sejarah Muhammadiyah tetapi tidak peka terhadap ketidakadilan sosial, maka ada sesuatu yang perlu dievaluasi.

Jika mahasiswa mampu menjelaskan konsep akhlak tetapi tidak memiliki kepedulian terhadap masyarakat, maka pendidikan belum selesai pada ruang kelas.

Dan jika mahasiswa mampu memperoleh nilai tinggi dalam mata kuliah AIK tetapi takut bertanya, takut berdiskusi, dan takut menguji sebuah gagasan, maka kita perlu bertanya kembali tentang makna pendidikan yang sebenarnya.

Islam Berkemajuan Tidak Boleh Takut pada Pertanyaan

Muhammadiyah memiliki tradisi tajdid dan pembaruan. Karena itu, pendidikan Muhammadiyah semestinya memiliki keberanian intelektual untuk membuka ruang dialog.

Islam yang berkemajuan tidak seharusnya melahirkan mahasiswa yang hanya pandai mengulang jawaban, tetapi mahasiswa yang mampu mengajukan pertanyaan.

Pertanyaan bukan ancaman bagi pendidikan. Justru pertanyaan adalah awal dari ilmu pengetahuan.

Mahasiswa harus diberi ruang untuk bertanya:

Mengapa kemiskinan masih terjadi?

Mengapa kualitas pendidikan belum merata?

Mengapa ilmu pengetahuan terkadang tidak sampai kepada masyarakat?

Mengapa sebagian persoalan sosial terus berulang?

Dan yang paling penting:

Apa kontribusi ilmu yang kita pelajari untuk menyelesaikan persoalan tersebut?

Pendidikan yang sehat bukan pendidikan yang menghapus perbedaan pemikiran, melainkan pendidikan yang mengajarkan bagaimana perbedaan pemikiran diuji melalui argumentasi, data, etika, dan ilmu pengetahuan.

Kampus Muhammadiyah Tidak Cukup Hanya Unggul Secara Akademik

PTMA memiliki mandat yang luas. Majelis Diktilitbang Muhammadiyah mencantumkan pembinaan ideologi Muhammadiyah, pengembangan AIK, pengelolaan catur dharma, peningkatan kualitas perguruan tinggi, serta penelitian dan pengembangan sebagai bagian dari tugasnya.

Artinya, ukuran keberhasilan pendidikan Muhammadiyah tidak semestinya berhenti pada akreditasi, jumlah lulusan, gedung yang megah, atau banyaknya program studi.

Semua itu penting, tetapi belum cukup.

Kita juga perlu bertanya:

BACA JUGA:  Menanti Tegaknya Kembali Marwah Bone: Ironi Hampir 5 Tahun Mangkraknya Renovasi Bola Soba

Apa yang diteliti oleh kampus?

Untuk siapa penelitian itu dilakukan?

Apa dampaknya bagi masyarakat?

Apakah mahasiswa benar-benar dilatih menjadi problem solver atau hanya dilatih menjadi penyelesai tugas?

Sebab perguruan tinggi bukan sekadar tempat memproduksi ijazah. Ia adalah ruang produksi pengetahuan.

Dan pengetahuan yang tidak pernah berjumpa dengan persoalan masyarakat berpotensi menjadi pengetahuan yang terkurung di dalam menara akademik.

Mahasiswa Bukan Objek Pendidikan

Ada persoalan lain yang harus dibicarakan: posisi mahasiswa.

Dokumen kebijakan AIK Muhammadiyah secara eksplisit mendorong mahasiswa untuk ditempatkan sebagai subjek didik, aktor, dan mitra dosen dalam proses pembelajaran. Bahkan mahasiswa juga disebut memiliki ruang untuk memberikan penilaian terhadap proses dan hasil pembelajaran.

Gagasan ini sangat penting.

Sebab pendidikan yang menempatkan mahasiswa hanya sebagai objek akan menciptakan relasi satu arah:

dosen berbicara, mahasiswa mendengar;

dosen menjelaskan, mahasiswa mencatat;

dosen memberikan tugas, mahasiswa mengerjakan;

dosen memberikan nilai, mahasiswa menerima.

Padahal pendidikan tinggi seharusnya lebih dari itu.

Kelas harus menjadi ruang dialog.

Dosen bukan sekadar penyampai materi, tetapi fasilitator intelektual. Mahasiswa bukan sekadar penerima informasi, tetapi subjek yang memiliki pengalaman, pertanyaan, argumentasi, dan kemampuan untuk mengembangkan pengetahuan.

Kampus yang ingin maju harus berani mengubah budaya “dosen selalu benar” menjadi budaya “argumentasi harus dapat dipertanggungjawabkan.”

Jangan Sampai Kemajuan Hanya Menjadi Identitas

Muhammadiyah memiliki gagasan Islam Berkemajuan. PTMA juga diarahkan untuk mengintegrasikan iman dengan kemajuan serta menghasilkan pemikiran alternatif yang dapat menjadi solusi.

Namun, istilah “berkemajuan” harus terus diuji melalui praktik.

Sebab kemajuan bukan sekadar penggunaan teknologi.

Kemajuan bukan sekadar digitalisasi perkuliahan.

Kemajuan bukan sekadar bertambahnya gedung dan fasilitas.

Kemajuan juga berarti bertambahnya kualitas berpikir, meningkatnya integritas, berkembangnya penelitian, tumbuhnya keberanian intelektual, dan semakin kuatnya keberpihakan ilmu kepada kemanusiaan.

BACA JUGA:  DARI PANCASILA KE PANGAN: WUJUDKAN KEADILAN YANG MEMBUMI

Jika teknologi kampus semakin maju tetapi budaya diskusinya semakin mati, maka kita perlu bertanya: maju dalam aspek apa?

Jika fasilitas semakin lengkap tetapi mahasiswa semakin takut menyampaikan kritik akademik, maka kemajuan tersebut perlu terus direfleksikan.

Jika AIK semakin banyak diajarkan tetapi nilai kemanusiaan tidak semakin kuat dalam perilaku sivitas akademika, maka pendidikan perlu melakukan evaluasi.

Pendidikan Muhammadiyah Harus Menjadi Pendidikan yang Mencerahkan

Pada akhirnya, tantangan pendidikan Muhammadiyah bukan sekadar mempertahankan identitas, tetapi memastikan bahwa identitas tersebut benar-benar hidup dalam praktik pendidikan.

Muhammadiyah memiliki modal sejarah yang kuat dalam bidang pendidikan. Karena itu, pendidikan Muhammadiyah di perguruan tinggi harus terus bergerak dari transfer pengetahuan menuju transformasi kesadaran.

Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi orang yang berilmu.

Ia harus menjadi manusia yang mampu menggunakan ilmu.

Tidak cukup menjadi manusia yang religius.

Ia harus mampu menerjemahkan nilai agama menjadi tindakan kemanusiaan.

Tidak cukup menjadi manusia yang kritis.

Ia juga harus mampu menjadikan kritik sebagai jalan menuju perbaikan.

Dan tidak cukup berbicara tentang Islam Berkemajuan.

Islam Berkemajuan harus terlihat dalam cara kampus berpikir, mengajar, meneliti, berdialog, mengabdi, dan memperlakukan manusia.

Karena pada akhirnya, pertanyaan paling penting bagi pendidikan Muhammadiyah bukanlah:

“Seberapa banyak lulusan yang berhasil kita cetak?”

Melainkan:

“Manusia seperti apa yang berhasil kita bentuk?”

Jika pendidikan Muhammadiyah mampu melahirkan manusia yang berilmu, beriman, kritis, terbuka terhadap dialog, memiliki integritas, serta mampu menjadikan ilmu sebagai jalan pembebasan dan kemaslahatan, maka pendidikan tidak hanya sedang mencetak sarjana.

Ia sedang menyiapkan manusia untuk membangun peradaban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.