Oleh : Zainal Ibrahim, S.Pd, MM, Wakil Kepala SMPN 3 Awangpone
KEHADIRAN kecerdasan buatan (AI) di dunia pendidikan membawa banyak perubahan. AI dapat membantu guru mencari bahan ajar, membuat soal, menyusun ide pembelajaran, dan memberikan informasi lebih cepat. Dengan demikian, guru dapat menghemat waktu dan lebih fokus membimbing serta mendampingi peserta didik.
Namun, AI juga menimbulkan kekhawatiran jika digunakan secara berlebihan. Peserta didik bisa menjadi terlalu bergantung pada teknologi dan mengurangi kemampuan berpikir kritis serta kreativitas. Begitu pula guru tidak seharusnya menyerahkan seluruh proses pembelajaran kepada AI, karena pendidikan bukan hanya tentang menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, sikap, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Di sisi lain, penggunaan AI menuntut guru untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan digital. Guru perlu memahami cara menggunakan AI dengan benar, termasuk memeriksa kebenaran informasi yang dihasilkan. Dengan kemampuan tersebut, guru tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengarahkan peserta didik agar menggunakan AI secara cerdas dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak perlu ditakuti. Yang terpenting adalah bagaimana AI digunakan untuk memperkuat peran guru, bukan menggantikannya. Sentuhan manusia, keteladanan, kepedulian, dan hubungan emosional antara guru dan peserta didik tetap menjadi bagian penting yang tidak dapat sepenuhnya diberikan oleh mesin.
Karena itu, AI sebaiknya dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti guru. Guru tetap memiliki peran penting sebagai pendidik, pembimbing, teladan, dan penggerak semangat belajar. Jika digunakan secara bijak, AI justru dapat menjadi mitra guru untuk menciptakan pembelajaran yang lebih menarik, efektif, dan bermakna.







