KAHU, TRIBUNBONEONLINE.COM–Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) kembali melanjutkan rangkaian kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di SMP Negeri 1 Kahu melalui pelatihan pembuatan Eco-Reaktor sebagai media fermentasi aerob dalam proses produksi Eco Lindi. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan program lingkungan sekolah khususnya dalam mendukung SMP Negeri 1 Kahu sebagai salah satu kandidat Sekolah Adiwiyata tingkat Nasional.
Pelatihan ini merupakan PKM yang didanai langsung BLU PNUP Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi yang berfokus pada pemanfaatan bahan organik dan anorganik khususnya program MBG di sekolah yang kegiatannya sejalan dengan Asta Cita Poin 2 dan Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 12 yakni konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab; Poin 4 yakni Pendidikan Berkualitas; dan Poin 13 yani Penanganan Perubahan Iklim.
Kegiatan ini akan memanfaatkan galon bekas sekali pakai sebagai bahan utama pembuatan Eco-Reaktor. Galon plastik yang selama ini berpotensi menjadi limbah anorganik baru di masyarakat disulap menjadi alat sederhana, murah, dan aplikatif untuk mengolah sisa makanan MBG menjadi produk yang lebih bernilai.
Eco-Reaktor tersebut nantinya digunakan untuk menampung dan memfermentasi sisa-sisa makanan MBG, seperti sisa sayur, nasi, kulit buah, dan bahan organik Melalui proses fermentasi aerob, bahan-bahan organik tersebut dapat terdekomposisi menjadi Eco Lindi yang selanjutnya diarahkan pada konsep biocycle atau ekonomi sirkular. Hasil akhirnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dan pupuk padat untuk mendukung pertumbuhan tanaman hijau termasuk sayur-mayur yang telah dibudidayakan sebagai komoditas hijau di lingkungan SMP Negeri 1 Kahu.
Kegiatan ini disambut antusias oleh pihak sekolah karena dinilai sangat relevan dengan agenda besar Sekolah Adiwiyata. Sebelum pelatihan dimulai, Tim Pengabdian PNUP memberikan penjelasan mengenai pentingnya pengelolaan sampah organik berbasis sekolah, prinsip kerja Eco-Reaktor serta manfaat Eco Lindi dalam mendukung pertanian ramah lingkungan.

Ketua Tim Pengabdian PNUP, Dr. Andi Muhamad Iqbal Akbar Asfar, S.T., M.T., yang akrab disapa Andi Iqbal, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan memperkenalkan teknologi sederhana, tetapi membangun pula kesadaran ekologis di lingkungan sekolah.
“Sisa makanan tidak seharusnya langsung dibuang dan menjadi beban lingkungan. Melalui Eco-Reaktor, bahan organik seperti sisa sayur, nasi, dan kulit buah dapat masuk ke dalam siklus baru yang lebih bermanfaat. Inilah yang kami dorong sebagai bagian dari biocycle, yaitu mengubah limbah menjadi produk bernilai, seperti POC dan pupuk padat untuk tanaman sekolah,” jelas Andi Iqbal.
Sebagai putra daerah, Andi Iqbal juga menegaskan bahwa Kabupaten Bone menjadi salah satu wilayah prioritas dalam pelaksanaan pengabdian yang selama ini ia lakukan. Menurutnya, potensi pertanian, sumber daya alam lokal, serta semangat masyarakat dan sekolah di Bone harus terus diperkuat melalui pendekatan teknologi tepat guna yang mudah diterapkan.
“Pengabdian kepada masyarakat harus benar-benar hadir menjawab kebutuhan masyarakat. Di Bone, khususnya di sektor pertanian dan lingkungan, banyak potensi lokal yang dapat dikembangkan. Tugas perguruan tinggi adalah mendampingi, memberi solusi, dan memastikan teknologi yang diperkenalkan dapat dipahami serta digunakan secara berkelanjutan,” tambahnya.

Kepala SMP Negeri 1 Kahu, Andi Hasriani Asfar, S.S., S.Pd., M.M., turut mengawal langsung pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menyampaikan dukungan penuh terhadap program pembuatan Eco-Reaktor karena sejalan dengan visi sekolah dalam memperkuat budaya peduli lingkungan.
Salah satu rencana tindak lanjut dari kegiatan ini adalah penempatan Eco-Reaktor di depan setiap kelas dengan sistem In-Situ maupun Ex-Situ. Sehingga, siswa dapat memilah dan mengumpulkan sisa makanan MBG secara langsung, kemudian menjadikannya sebagai bahan baku pembuatan Eco Lindi. Langkah ini diharapkan dapat membentuk kebiasaan baru di lingkungan sekolah, yaitu mengelola sampah dari sumbernya.
“Kami sangat mendukung program ini karena selaras dengan gerakan Adiwiyata di SMP Negeri 1 Kahu. Jika Eco-Reaktor ditempatkan di depan kelas, siswa akan belajar secara langsung bahwa sisa makanan bukan sekadar sampah, tetapi dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang berguna bagi tanaman dan lingkungan sekolah,” ujar Andi Hasriani Asfar.

Pelatihan pembuatan Eco-Reaktor ini melibatkan guru-guru yang tergabung dalam Kelompok Guru Inovasi serta siswa-siswi SMP Negeri 1 Kahu. Keterlibatan guru dan siswa secara bersama-sama menjadi strategi penting agar program tidak berhenti pada pelatihan semata, tetapi dapat terus diterapkan sebagai kebiasaan sekolah.
Guru-guru sebagai mitra kegiatan berperan dalam mengawal keberlanjutan program, sementara siswa dilibatkan agar memiliki pengalaman langsung dalam membuat, menggunakan, dan memahami manfaat Eco-Reaktor. Melalui pendekatan holistik tersebut, kegiatan ini diharapkan mampu menstimulasi siswa untuk mempraktikkan pengelolaan sampah organik di rumah masing-masing.
Tim Pengabdian PNUP menilai bahwa pembuatan Eco-Reaktor dari galon bekas merupakan bentuk inovasi sederhana yang memiliki dampak ganda. Di satu sisi, kegiatan ini membantu mengurangi limbah plastik sekali pakai. Di sisi lain, Eco-Reaktor menjadi alat edukatif untuk mengolah sampah organik menjadi Eco Lindi yang dapat mendukung kebutuhan pupuk tanaman sekolah.
Dengan adanya program ini, SMP Negeri 1 Kahu tidak hanya memperkuat kesiapan menuju Sekolah Adiwiyata tingkat Nasional, tetapi juga membangun model pembelajaran lingkungan yang berbasis praktik nyata. Kolaborasi antara PNUP, kepala sekolah, Kelompok Guru Inovasi, dan siswa-siswi diharapkan menjadi contoh bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari sekolah, dilakukan dengan teknologi sederhana, dan menghasilkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.







