Sepakbola: Atraksi Wisata Perekat Kebersamaan Masyarakat Dunia  

oleh -114 x dibaca
Prof. Dr. Arifuddin Usman, M.Kes - Prof. Dr. Haedar Akib

Oleh:

Prof. Dr. Arifuddin Usman, M.Kes., Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Makassar (UNM).

Prof. Dr. Haedar Akib, Anggota Senat UNM, Dosen Program Pascasarjana Universitas Puangrimaggalatung (UNIPRIMA) Sengkang.

Tulisan ini terinspirasi dari apresiasi dan teriakan penonton, “Toami Ramang” dan “Pelei tendanganna” (Bahasa Makassar), ketika menyaksikan Pa’ Desa melakukan tendangan perdana ke arah gawang sebagai simbol dibukanya pertandingan sepak bola antar-kampung di lapangan legendaris Desa Minasa Te’ne, kini menjadi Kecamatan Minasa Te’ne, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) beberapa dekade silam. Ketika itu, penulis (Haedar Akib) yang turut menonton tahu bahwa Pa’ Desa merupakan pensiunan tentara yang telah lanjut usia (toa) sehingga tendangannya tidak cukup kuat dan arah bola menyimpang dari sasaran atau “meleset dari gawang” (pele). Ilustrasi tersebut sekaligus merefleksikan kebesaran nama dua legenda sepak bola pada zamannya, yakni Andi Ramang (24 April 1924–26 September 1987), ikon sepakbola Indonesia dan pemain PSM, dan Pelé nama panggilan dari Edson Arantes do Nascimento Pelé (23 Oktober 1940–29 Desember 2022), legenda sepakbola dunia asal Brasil.

Sepakbola bukan sekadar pertandingan antara dua kesebelasan yang berupaya mencetak gol, melainkan telah berkembang menjadi atraksi wisata global yang menggerakkan emosi, mobilitas, ekonomi, budaya, dan diplomasi masyarakat dunia. Di stadion, masyarakat hadir bukan hanya untuk menyaksikan keterampilan mengolah bola, tetapi juga untuk merasakan atmosfer kebersamaan yang tercermin dalam nyanyian suporter, warna bendera, kekayaan kuliner lokal, keteraturan dan keramahan kota tuan rumah, hingga pengalaman berinteraksi dengan orang asing yang seketika terasa dekat karena mendukung permainan yang sama. Sepakbola memiliki kekuatan sebagai bahasa universal karena tanpa memerlukan penerjemah, satu gol mampu menyatukan jutaan orang untuk bersorak dan merayakan kegembiraan dalam irama yang sama.

***

Sepakbola telah berkembang jauh melampaui batas sebagai permainan yang mempertemukan dua kesebelasan untuk memperebutkan kemenangan. Dalam perspektif kontemporer, sepak bola merupakan atraksi wisata olahraga (sport tourism) global sekaligus perekat kebersamaan masyarakat dunia karena mampu mendorong mobilitas manusia lintas daerah, negara, bahkan benua. Setiap penyelenggaraan turnamen besar tidak hanya menghadirkan pertandingan, tetapi juga menciptakan ekosistem pariwisata melalui transportasi, akomodasi, restoran, tur kota, festival budaya, hingga ruang publik yang dipenuhi aktivitas menonton bersama. Dengan demikian, sepakbola tidak sekadar menggerakkan bola di lapangan, tetapi juga menggerakkan ekonomi, budaya, dan interaksi sosial pada skala global.

BACA JUGA:  SKANDAL OPLOSAN GAS MELON: DARI MODUS OPERANDI HINGGA DAMPAKNYA BAGI MASYARAKAT

Piala Dunia FIFA 2026 menjadi contoh nyata transformasi tersebut. Turnamen ini merupakan edisi pertama yang diikuti 48 negara dan diselenggarakan bersama oleh Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat dengan 104 pertandingan di 16 kota tuan rumah. Skala penyelenggaraan yang semakin besar menunjukkan bahwa sepakbola telah menjadi bagian penting dari industri pariwisata global yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sekaligus diplomasi antarbangsa. Demikian pula pada Olimpiade Paris 2024, sepakbola tidak hanya berorientasi pada perolehan medali, tetapi juga menjadi sarana yang mempertemukan generasi muda berbagai negara dalam semangat persahabatan dan sportivitas, sekaligus memperluas dampak sosial dan ekonomi ke berbagai wilayah penyelenggara.

Lebih dari itu, sepakbola menjadi perekat kebersamaan masyarakat dunia karena memiliki kesederhanaan yang inklusif. Permainan ini hanya membutuhkan satu bola, aturan yang mudah dipahami, dan ruang yang dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Kesederhanaan tersebut memungkinkan sepak bola dimainkan oleh siapa saja, mulai dari anak-anak di gang sempit, pelajar di lapangan sekolah, pekerja di sela aktivitas sehari-hari, hingga atlet profesional di stadion megah. Di balik perbedaan usia, profesi, status sosial, dan latar belakang budaya, mereka memainkan permainan yang sama sehingga tumbuh rasa memiliki dan identitas kolektif yang kuat.

Sepakbola juga menciptakan ruang perjumpaan lintas identitas di tengah dunia yang sering diwarnai konflik politik, perbedaan agama, kesenjangan ekonomi, dan menguatnya sentimen nasionalisme. Stadion menjadi ruang simbolik tempat manusia belajar menghargai perbedaan dan menemukan kesamaan. Rivalitas tetap hadir sebagai bagian dari kompetisi, tetapi pada titik terbaiknya sepak bola mengajarkan nilai-nilai universal, menang tanpa merendahkan, kalah tanpa kehilangan martabat, serta berbeda dukungan tanpa memutus persaudaraan. Hal ini sejalan dengan kampanye FIFA, Football Unites the World, yang menegaskan peran sepak bola sebagai medium inklusivitas, anti-diskriminasi, pendidikan, dan solidaritas global.

Pada akhirnya, sepakbola bukan sekadar olahraga yang menghasilkan skor dan trofi, melainkan pula atraksi wisata global, ruang sosial lintas budaya, sekaligus bahasa universal yang merekatkan masyarakat dunia. Namun, fungsi tersebut hanya dapat terwujud melalui tata kelola yang baik (good football governance/ GFG), sehingga sepak bola tetap menjadi ruang publik yang inklusif, aman, dan berkeadilan. Di tengah berbagai perbedaan yang membelah umat manusia, sepak bola mengajarkan bahwa kebersamaan dapat tumbuh dari sesuatu yang sederhana: satu bola, satu lapangan, dan jutaan harapan yang dibagikan bersama.

BACA JUGA:  PUTUSAN MK DAN PEMURNIAN FUNGSI POLRI

***

Sepakbola sebagai atraksi wisata global yang merekatkan masyarakat dunia tidak dapat dikelola secara parsial, melainkan memerlukan tata kelola yang inklusif dengan menempatkan masyarakat lokal sebagai subjek utama, bukan sekadar pelengkap kemeriahan turnamen. Kota dan negara tuan rumah perlu menjamin bahwa manfaat ekonomi, sosial, dan budaya dari penyelenggaraan event sepakbola terdistribusi secara luas. Kehadiran ajang besar seperti Piala Dunia maupun Olimpiade tidak hanya menggerakkan hotel, sponsor global, dan industri hiburan, tetapi juga menciptakan peluang bagi UMKM kuliner, pelaku ekonomi kreatif, pemandu wisata, seniman lokal, komunitas transportasi, hingga masyarakat yang tinggal di sekitar stadion. Mereka menjadi bagian penting dari rantai nilai (value chain) dan proses kreasi nilai (value creation) yang pada akhirnya bermuara pada kepentingan publik (value for public). Dalam konteks ini, sepakbola tidak hanya menjual pertandingan, tetapi juga memperkenalkan identitas lokal melalui kuliner khas, musik daerah, sejarah kota, arsitektur, ruang publik, serta budaya keramahan masyarakat.

Lebih jauh, sepakbola memperkuat pariwisata berbasis pengalaman (experience-based tourism). Wisatawan yang datang tidak hanya mencari tiket pertandingan atau hasil akhir sebuah laga, tetapi juga menginginkan cerita dan pengalaman yang membekas. Tur stadion, museum sepak bola, festival fan zone, agenda budaya sebelum pertandingan, pameran sejarah tim nasional, hingga ruang aman untuk berinteraksi dengan pendukung dari berbagai negara menjadi elemen penting yang membangun pengalaman tersebut. Oleh karena itu, orang yang datang menonton sepak bola sesungguhnya pulang dengan membawa lebih dari sekadar skor pertandingan karena mereka membawa pengalaman emosional, pemahaman budaya, dan kesan mendalam tentang manusia serta kehidupan sosial di kota tuan rumah.

Dalam perspektif ini, ruang publik yang inklusif menjadi prasyarat utama. Tidak semua orang memiliki kesempatan memasuki stadion, sehingga penyelenggara perlu menghadirkan alternatif ruang kebersamaan melalui kegiatan nonton bareng resmi, layar raksasa di ruang publik, festival keluarga, dan aktivitas komunitas. Ruang-ruang tersebut memungkinkan masyarakat tetap merasakan atmosfer turnamen tanpa hambatan ekonomi maupun sosial. Anak-anak memperoleh inspirasi dari figur atlet, keluarga menikmati momen kebersamaan, pelaku usaha kecil memperoleh penghasilan, dan wisatawan dapat berinteraksi secara lebih alami dengan masyarakat setempat. Dengan demikian, sepak bola menjelma menjadi pesta rakyat yang inklusif, bukan semata-mata pesta korporasi.

BACA JUGA:  PilRek: Wujud Konflik Konseptual Manajemen Pengetahuan

Pada saat yang sama, sportivitas merupakan pesan paling berharga yang diwariskan sepakbola kepada masyarakat dunia. Sebelas pemain tidak mungkin memenangkan pertandingan hanya dengan mengandalkan kemampuan individu, tetapi melalui disiplin, kepercayaan, kerja sama, kemampuan membaca ruang, pengendalian emosi, dan pengorbanan demi tujuan bersama. Nilai-nilai tersebut menjadi semakin relevan di tengah dunia yang menghadapi berbagai krisis sosial, ekonomi, dan politik. Sepakbola mengajarkan bahwa kemenangan kolektif lahir dari koordinasi dan pembagian tugas yang efektif, bukan dari ego sektoral. Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Henry Mintzberg bahwa setiap organisasi yang berhasil bertumpu pada dua fondasi utama, yakni division of work dan coordination.

Oleh karena itu, media dan narasi publik memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga sepakbola tetap menjadi perekat kebersamaan. Nasionalisme yang sehat diwujudkan dalam dukungan yang bermartabat, bukan dalam kebencian terhadap bangsa lain. Dari perspektif pariwisata, sepak bola merupakan atraksi yang unik karena memadukan destinasi, peristiwa, emosi, dan identitas dalam satu ruang yang sama. Sepakbola tidak hanya menggerakkan manusia untuk bepergian, tetapi juga menghubungkan manusia dengan manusia, menjadikannya salah satu instrumen paling efektif dalam membangun solidaritas dan persaudaraan masyarakat dunia.

***

Sepakbola merupakan miniatur kehidupan masyarakat dunia yang merefleksikan persaingan, strategi, kegagalan, harapan, air mata, sekaligus solidaritas. Di dalamnya, negara besar dapat mengalami kekalahan, negara kecil mampu menciptakan kejutan, pemain muda menjelma menjadi inspirasi, dan suporter biasa merasa menjadi bagian dari sejarah yang terus dikenang. Oleh karena itu, memandang sepak bola sebagai atraksi wisata bukanlah penyempitan makna, melainkan perluasan perspektif bahwa sepak bola adalah medium perjalanan manusia untuk merayakan keberagaman dalam satu bahasa universal: permainan.

Sebagai atraksi wisata global, sepak bola tidak hanya mempertemukan suporter dengan klub atau negaranya, tetapi juga membangun ruang sosial yang merekatkan manusia dengan manusia lintas budaya, bahasa, dan identitas. Daya rekatnya terletak pada kesederhanaan aturan, kedalaman emosi, sifat inklusif, serta kemudahan untuk dimainkan dan dinikmati bersama. Namun, kekuatan tersebut hanya akan berkelanjutan apabila didukung oleh tata kelola pariwisata olahraga yang adil, ruang publik yang inklusif, dan narasi yang menjunjung perdamaian. Dengan demikian, gol terbaik dalam sepakbola bukan sekadar yang bersarang di gawang lawan, melainkan yang mampu membuka pintu persahabatan, memperkuat solidaritas, dan menjembatani perjumpaan antarbangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.