Kelelahan Massal: Mengapa Istirahat Kini Terasa Seperti Berdosa?

oleh -189 x dibaca
Arisnawawi, S.Sos, M.Si

Oleh:
Arisnawawi, S.Sos., M.Si.
(Dosen Prodi Sosiologi, Universitas Negeri Makassar)

Ada satu tuduhan yang terus beredar di ruang publik kita seperti kaset lama yang diputar tanpa henti, generasi muda hari ini terlalu lembek. Sedikit tekanan dianggap depresi, sedikit beban disebut burnout (kelelahan kerja). Mereka dinilai mudah menyerah, terlalu sensitif, dan tidak setangguh generasi sebelumnya. Kalimat semacam itu bertebaran di media sosial, ruang kantor, meja makan keluarga, bahkan keluar dari mulut mereka yang merasa pernah hidup “lebih menderita” pada zamannya. Seolah-olah penderitaan masa lalu memberi hak moral untuk meremehkan kelelahan hari ini.
Namun, hemat saya ada keretakan yang lebih dalam daripada sekadar persoalan mentalitas individu. Persoalannya mungkin bukan pada generasi yang berubah, melainkan pada bangunan sosial tempat generasi itu berdiri yang sedang retak. C. Wright Mills, melalui gagasan sociological imagination, mengingatkan kita bahwa apa yang tampak sebagai masalah pribadi sering kali sesungguhnya merupakan masalah sosial. Ketika satu orang merasa lelah, mungkin itu persoalan individual. Tetapi ketika jutaan orang di seluruh dunia mengalami kecemasan, kehilangan motivasi, dan kelelahan emosional secara bersamaan, kita tidak lagi sedang menyaksikan drama personal. Kita sedang melihat gejala zaman.
Laporan Gallup State of the Global Workplace 2026 menunjukkan bahwa kelelahan ini telah mencapai skala epidemi global. Sekitar 40 persen pekerja dunia mengalami stres harian yang tinggi. Angka ini tetap bertahan di level tinggi bahkan setelah puncak pandemi berlalu, menandakan adanya “status quo baru” yang jauh lebih menantang secara psikologis. Jika kita membedah data tersebut berdasarkan usia, tuduhan bahwa anak muda “lemah” menjadi tidak relevan karena fakta menunjukkan mereka memang memikul beban stres yang lebih berat. Kelompok usia di bawah 35 tahun secara global melaporkan tingkat stres sebesar 42 persen, lebih tinggi dibandingkan kelompok usia di atasnya. Di kawasan Amerika Utara, angka stres pada pekerja muda bahkan melonjak drastis hingga mencapai 59 persen. Ini bukan lagi tentang ketidaktangguhan, melainkan tentang lingkungan hidup yang semakin tidak ramah terhadap kesehatan mental.
Mengapa ini terjadi? Salah satu penyebab utamanya adalah hilangnya batas-batas ruang dan waktu. Dahulu, pekerjaan memiliki demarkasi yang jelas. Buruh meninggalkan pabrik, lalu pulang menjadi manusia bebas. Aktivitas kantor berhenti di pintu gerbang. Hari ini, pekerjaan tidak lagi tinggal di kantor, melainkan ikut pulang bersama. Ia masuk ke ruang tamu lewat notifikasi telepon genggam, menyelinap ke meja makan keluarga melalui pesan WhatsApp, lalu duduk diam di samping tempat tidur dalam bentuk e-mail yang “harus segera dibalas”.
Jam kerja tidak benar-benar selesai. Ia mencair, merembes ke seluruh ruang hidup seperti air bocor yang perlahan memenuhi rumah tanpa suara. Kita menyebutnya “fleksibilitas kerja”, padahal sering kali itu hanyalah bahasa fungsional untuk ketidakberhentian bekerja. Menariknya, sistem kerja hibrida yang digadang-gadang sebagai solusi keseimbangan justru mencatat tingkat stres yang lebih tinggi, yakni sekitar 46 persen. Manusia modern akhirnya hidup dalam kondisi selalu siaga (always-on). Tubuh memang berada di rumah, tetapi pikiran tetap terikat pada algoritma produktivitas. Bahkan saat akhir pekan atau berlibur pun, banyak orang merasa bersalah jika tidak membuka laptop. Kita hidup di zaman ketika istirahat pun harus terasa produktif agar tidak dianggap tertinggal.
Kelelahan massal ini juga tercermin dalam fenomena yang disebut Gallup sebagai “kemerosotan keterikatan” (engagement slump). Untuk pertama kalinya, keterikatan karyawan secara global menurun selama dua tahun berturut-turut hingga mencapai angka 20 persen. Sebagian besar pekerja dunia (sekitar 64 persen) berada dalam kategori “tidak terikat” atau yang populer disebut sebagai quiet quitting. Mereka bekerja hanya sekadar untuk menggugurkan kewajiban, memberikan waktu tetapi tidak memberikan energi atau gairah. Ini bukan bentuk kemalasan, melainkan mekanisme pertahanan diri dari sistem yang menguras manusia secara perlahan.
Dampak dari masyarakat yang kehilangan jeda ini tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga ekonomi. Rendahnya keterikatan kerja ini diperkirakan merugikan ekonomi dunia sekitar $10 triliun, atau setara dengan 9 persen dari PDB global. Artinya, mengabaikan kesehatan mental pekerja bukan hanya tindakan yang tidak etis, tetapi juga keputusan bisnis yang sangat buruk. Menariknya, laporan ini juga mengungkap sebuah paradoks kepemimpinan, para pemimpin atau manajer mungkin memiliki evaluasi hidup yang lebih tinggi (53 persen masuk kategori sejahtera), namun mereka juga melaporkan emosi negatif harian yang jauh lebih tinggi, seperti kemarahan, kesedihan, dan kesepian dibandingkan staf biasa. Ini membuktikan bahwa di bawah sistem yang eksploitatif, mereka yang berada di puncak piramida pun tidak benar-benar aman dari kelelahan emosional.
Di tengah situasi yang menyesakkan ini, munculnya gerakan perlawanan dari generasi muda dapat dibaca secara sosiologis sebagai sebuah perubahan orientasi nilai. Pilihan sebagian anak muda untuk meninggalkan jalur korporasi yang kaku, menjadi pekerja lepas (freelancer), atau menukar pendapatan tinggi dengan otonomi waktu, bukanlah bentuk kemalasan baru. Ini adalah penolakan terhadap cara kerja yang membuat hidup kehilangan makna selain sekadar untuk bertahan hidup.
Kita sedang menyaksikan pergeseran definisi kesuksesan di tengah masyarakat kita. Kesuksesan tidak lagi semata diukur dari besarnya gaji, tingginya jabatan, atau luasnya rumah. Semakin banyak orang mulai menyadari bahwa waktu bersama keluarga, kualitas tidur, dan kemampuan menikmati hidup tanpa interupsi notifikasi kantor merupakan bentuk kesejahteraan yang tak kalah mewah. Di Indonesia sendiri, meskipun tingkat keterikatan kerja berada di angka 25 persen, masih ada 26 persen pekerja yang merasa benar-benar sejahtera (thriving), namun angka stres harian tetap menghantui di angka 26 persen. Ini menunjukkan bahwa masyarakat kita masih berjuang keras mencari keseimbangan di tengah arus tuntutan zaman.
Pada akhirnya, kita harus berhenti memberikan penghakiman moral yang dangkal terhadap kelelahan generasi hari ini. Kita perlu menyadari bahwa kita sedang menghadapi masalah struktural yang membutuhkan solusi kolektif. Barangkali mereka, generasi yang kita sebut lembek itu, adalah generasi pertama yang cukup jujur untuk mengatakan bahwa hidup tidak seharusnya dijalani dalam keadaan terus-menerus lelah. Mereka tidak sedang menyerah pada kerja, mereka sedang menuntut kembalinya hak atas jeda, hak untuk menjadi manusia seutuhnya yang tidak hanya didefinisikan oleh angka-angka produktivitas. Sebuah masyarakat yang kehilangan jeda adalah masyarakat yang sedang berlari menuju jurang kehampaan. Sudah saatnya kita memberikan ruang bagi napas, sebelum semua energi itu benar-benar padam.

BACA JUGA:  ZAKAT PERNIAGAAN: KUNCI KESEIMBANGAN BISNIS DAN KEBERKAHAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.